The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 44



Beberapa hari sudah berlalu, kondisi pangeran ke 5 sudah dinyatakan sembuh total. Hal yang disyukuri oleh Feng Ai. Hari ini pangeran ke 5 berniat akan ke barak untuk melihat pasukannya. Feng Ai sebenarnya sangat senang dengan kembali bertugasnya sang suami karena dia bisa kembali melatih ilmu beladiri nya. Namun Feng Ai tidak ingin terlalu kentara dalam mengekspresikan kebahagiannya karena bisa mengundang kecurigaan suaminya.


" Apakah sudah tidak apa-apa jika anda kembali ke barak. Saya takut anda akan kelelahan dan kembali merasakan tubuh anda lemah karena efek samping dari racun itu." ujar Feng Ai khawatir.


" Bukankah Ai ku ini sudah mendengar dari tabib bahwa suami mu ini sudah sehat dan bisa kembali beraktifitas. Lagipula aku tidak akan lama di sana. Aku masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama Ai ku ini." ujar Gong Sheng yang membuat Feng Ai tersipu malu.


" Jangan terlalu lama ya. Saya menunggu anda di rumah." Feng Ai merapikan pakaian dari suaminya. Gong Sheng hanya menjawab dengan mengangguk. Kemudian dia mengecup kening Feng Ai sejenak, dan berlalu pergi dengan kudanya ke barak.


Feng Ai langsung bersorak gembira melihat kuda dan suaminya sudah tidak terlihat lagi. Feng Ai langsung masuk ke kediaman untuk mencari Shihan. Dia ingin mengajak Shihan untuk kembali memulai latihannya yang sudah tertunda beberapa hari karena banyaknya masalah yang harus dia hadapi.


Feng Ai akhirnya menemukan keberadaan Shihan di kandang kuda setelah Feng Ai berkeliling ke semua sudut kediaman pangeran ke 5. Segera saja Feng Ai menarik lengan Shihan menuju ke halaman belakang.


" Paman, jika suami ku tiba, tolong segera katakan pada ku ya." Feng Ai berpesan saat berpapasan dengan Yi Ye.


" Baik nyonya. Selamat berlatih." Yi Ye membungkuk memberi hormat.


Feng Ai kembali menarik lengan Shihan dan segera menuju ke halaman belakang. Waktunya tidak banyak karena suaminya tadi mengatakan bahwa hanya akan sebentar di barak. Tapi menurut Feng Ai, lebih baik berlatih sebentar dari pada tidak sama sekali.


" Shihan, ayo kita latihan lagi. Sekarang aku harus berlatih apa?" tanya Feng Ai cepat. Dia tidak ingin membuang waktu.


" Yang mulia, bukankan pangeran ke 5 berada di kediaman.Bagaimana kalau latihan ini ketahuan. Saya tidak mengatakan masalah ini pada pangeran ke 5 sama sekali. Saya bisa dihukum nanti." ujar Shihan menolak.


" Suami ku sedang ke barak. Jadi di waktu yang sedikit ini ayo latih aku." pinta Feng Ai memelas. Shihan menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk menyetujui keinginan tuannya untuk berlatih.


" Kala begitu, silahkan yang mulia mengulangi pelajaran yang terkahir kali saya ajarkan!" Shihan mengarahkan.


" Airnya?" tanya Feng Ai menoleh ke kana dan ke kiri mencari sumber air.


" Yang mulai bisa memulai dari sumber air meski itu hanya sedikit." Shihan memberi petunjuk.


" Contohnya apa? " tanya Feng Ai semakin bingung.


" Embun." jawab Shihan singkat padat dan jelas.


" Bukan kah itu sedikit sekali?"


" Jika anda bisa mengumpulkan embun di semua halaman ini setidaknya itu cukup banyak." ujar Shihan.


Pelan tapi apsti, di dalam kuasanya embun pagi ini telah menjadi air yang berputar-putar di telapak tangan Feng Ai. Senyum puas dan bangga Feng Ai tunjukkan karena keberhasilannya dalam menyelesaikan tantangan dari gurunya ini. Feng Ai kemudian mengarahkan air tadi ke sebuah gentong yang ada di sekitar mereka. Dan gentong air itu berhasil penuh karena air embun yang dikumpulkan oleh Feng Ai.


" Bagaimana menurut mu Shihan?" tanya Feng Ai ingin tahu komentar Shihan.


" Bagus yang mulia, perkembangan anda semakin pesat. Tinggal anda belajar ilmu menggunakan air ini menjadi senjata, perisai maupun pengobatan. Kita akan mengambil waktu yang tepat untuk latihan kita yang berikutnya. Apa yang mulia setuju.?" saran Shihan.


" Aku ikut saja apa yang kau inginkan. Aku yakin kau lebih tau waktu yang tepat lebih dari aku." ujar Feng Ai setuju.


Feng Ai kembali melatih dirinya untuk sepenuhnya menguasai teknik pengendalian air ini. Shihan hanya mengamati dari jauh latihan yang dijalani oleh tuannya. Feng Ai semakin lancar saja berkat latihan yang berulang-ulang. Sungguh membanggakan bagi Shihan yang bisa membuat tuannya mengetahui apa itu ilmu beladiri.


Yi Ye berlari menuju ke arah Feng Ai yang masih asyik berlatih. Yi Ye berhenti dari jarak sekitar lima langkah dari Feng Ai. Pria ta ini mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengucapkan apa yang dia ingin sampaikan tadi.


" Nyonya..... Nyonya.... Tuan.... Tuan.... sudah datang. " ujar Yi Ye setelah berhasil menguasai nafasnya. Maklum pria ini sudah berusia diatas kepala 5, jadi memang pasti akan kesulitan jika berlari dengan terburu-buru.


" Apa? " pelik Feng Ai yang langsung berlari ke arah dapur. Dapur akan menjadi alibinya untuk saat ini.


Nafas Feng Ai sampai ngos-ngosan karena berlari cukup kencang. Lagi dia juga belum beristirahat saat tadi latihan, tubuhnya sangat lelah sekali. Namun, dia lebih tidak ingin jika sampai Gong Sheng tahu tentang kegiatannya dengan Shihan.


Feng Ai menatap para dayang dan pelayan di dapur ini. Nampak mereka sedang mempersiapkan makan siang untuk penghuni rumah. Dalam hati Feng Ai pikir ini baru makan siang tapi suaminya sudah pulang saja. Senang bercampur kesal mengiringi perasaan Feng Ai siang ini.


" Dimana nyonya? " tanya Gong Sheng saat memasuki paviliun utama.


" Nyonya sedang di dapur tuan, apa perlu saya panggilkan? " Yi Ye menawarkan.


" Di dapur? Tumben sekali dia mau ke sana? " tanya Gong Sheng lebih pada dirinya sendiri.


" Benar tuan, saya melihat nyonya memasuki dapur beberapa waktu yang lalu. " ujar Yi Ye meyakinkan.


" Kita ke sana saja paman, aku ingin lihat apa yang dilakukan oleh istri ku di dapur. " ujar Gong Sheng memimpin langkah menuju ke dapur kediamannya.


Yi Ye mengikuti tuannya tepat di belakangnya dan hanya berjarak tiga langkah saja. Dalam batin Yi Ye merapal kan doa agar nyonya nya di dapur sana bisa berakting dengan baik sehingga tidak membuat pangeran ke 5 curiga. Pangeran ke 5 terkenal begitu teliti, jika ketahuan bahwa istrinya berada di dapur hanya untuk menutupi alibinya, bisa-bisa Yi Ye akan dicerca beribu pertanyaan oleh tuannya.


" Nyonya, saja harap anda bisa melakukannya tanpa mengundang kecurigaan dari tuan. " batin Yi Ye.