The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 70



Hari-hari telah berlalu dengan sangat cepat, dan selama itu pula banyak hal yang terjadi menimpa Feng Ai. Namun diantara semuanya, peristiwa tentang jati dirinya dan jati diri pangeran ke 3 lah yang paling menyita perhatiannya. Mungkin, jiwa dalam tubuh pangeran ke 3 sedang berusaha mengubah takdir sama seperti halnya dirinya. Ataukah itu hanya sebuah tipuan saja, karena sebenarnya pangeran ke 3 berada di pihak putra mahkota.


Karena pikirannya yang terlalu banyak, Feng Ai sampai beberapa kali mengalami pendarahan kecil selama masa kehamilan trimester pertamanya. Gong Sheng dibuat begitu khawatir, bahkan sampai mengancam akan melakukan hal buruk jika Feng Ai tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya dipikirkan olehnya. Dan begitu pangeran ke 5 tahu tentang semua yang dipikirkan oleh Feng Ai, dirinya mengurung diri di dalam ruang kerjanya selama seharian penuh.


" Kenapa kau masih saja memikirkan hal itu? Kakak ketiga melakukan itu semua karena dia punya alasan. Dan Ai, kau tahu sendiri aku melarang mu untuk memikirkan masalah antara aku dengan putra mahkota. Pikirkan saja anak kita di dalam kandungan mu, dan tentunya dengan kesehatan mu juga. Tidak perlu memikirkan apa yang seharusnya aku pikirkan.." begitulah kata-kata Gong Sheng selama pria itu mengomel tiada habisnya.


Pagi ini, karena tidak ingin kembali dibebani dengan banyak pikiran dan berakhir suaminya mengomel seharian penuh, Feng Ai mengajak Hui Li dan Shihan mengelilingi ibukota. Banyak melakukan kegiatan bisa mengusir beban pikiran dan juga baik untuk perempuan yang tengah hamil. Jadi sekarang disinilah Feng Ai dan kedua bawahannya...


Pasar ibukota.....


" Nyonya, adakah yang anda perlukan? Kenapa kita kemari?" Hui Li sudah bertanya banyak hal yang membuat Feng Ai pusing. Tidak bolehkah jalan-jalan di pasar?


" Hui Li, berhentilah bertanya. Kita hanya jalan-jalan disini, dan jika ada yang nantinya kita sukai, kita bisa membelinya. Jika tidak ada yang ingin dibeli ya kita jalan-jalan saja. Aku ingin melihat orang-orang berinteraksi dan beraktifitas, jadi ikuti saja." jawab Feng Ai panjang.


" Huh....." Hui Li mengambek. Kurang ajar sekali pelayan pribadi Feng Ai ini. Tapi memang hubungan antara tuan dan pelayan pribadinya ini begitu akrab.


" Shihan, adakah yang ingin kau beli?" tanya Feng Ai.


" Untuk sementara ini, saya tidak ingin membeli apapun Yang Mulia. Tidak dengan nanti." jawaban Shihan selalu sehati dengannya...


Kaki ketiga penghuni kediaman pangeran ke 5 ini mulai melangkah ke bagian yang menjual barang-barang anti dan juga berbagai pernak pernik yang tentunya selalu berhasil membuat mood para wanita membaik.


Tatapan Feng Ai jatuh pada sebuah gelang giok, yang dijual sepasang. Dan dari apa yang penjualnya katakan, giok ini memiliki arti bahwa setiap jiwa yang ditakdirkan bersama akan kembali lagi bersama meski dunia dan waktu telah berubah. Feng Ai tertarik dengan gelak giok pasangan itu, lebih tertarik lagi dengan mitos yang dibawa oleh gelang giok tersebut. Alhasil, Feng Ai membeli sepasang gelang giok tersebut, dan beberapa aksesoris unik lainnya yang dijual oleh seorang wanita tua.


" Semoga, suatu hari nanti, jika jiwa anda sudah kembali maka anda akan kembali dipertemukan dengan pasangan dan jodoh anda. Meski itu sudah berbeda waktu dan dunia." ujar wanita tua penjual pernak pernik cantik itu.


" Semoga ya nek... Semoga jiwa kami kembali dipertemukan dengan cara yang indah." ujar feng Ai dan diamini oleh wanta tua itu.


Perjalanan Feng Ai kembali dilajutkan untuk mencari makanan yang sekiranya sedang sangat Feng Ai inginkan. Dan beruntung sekali tidak aneh-aneh kali ini, karena Feng Ai rupanya ingin makan siang dengan mie kuah yang berisikan daging dan sayuran. Sangat menyegarkan sekali ketika sedang sangat lapar bisa memakan mie kuah dimana kuahnya merupakan kuah dengan rempah yang terkenal paling lezat di Xili.


Feng Ai dan kedua pengabdi nya sepertinya sangat menikmati mie kuah yang menjadi khasnya Xili itu. Shihan sampai tidak sadar telah memesan dua kali, karena kelezatan dari rempah yang berad di dalam kuah mie ini. Feng Ai juga tidak lupa membelikan untuk suaminya dan juga kepala pelayan yang mengabdi di kediaman suaminya.


" Anda ingin ke suatu tempat yang lain, Yang Mulia?' Shihan bertanya.


" Ehm... Mari kita pergi ke kediaman Feng." ajaknya.


Shihan dan Hui Li sempat tertegun sebentar kala mendengar tujuan mereka berikutnya. Tapi mereka tetap mengikuti kemana tuan mereka ini membawa mereka. Terlebih jika tujuannya kediaman feng, maka yang perlu diwaspadai adalah ibu tiri dan saudara tiri dari Feng Ai.


" Nona.... akhirnya anda pulang.... Mari... mari saya akan mengantarkan anda ke dalam..." kepala pelayan di kediaman Feng menyambut kedatangan nona muda mereka dengan begitu senang. Pasalnya semenjak nyonya besar meninggal, nona muda kediaman feng tidak pernah lagi berkunjung. Dalam hati mereka bertanya-tanya, tapi mereka menyimpan itu semua di dalam hati saja.


" Apa ayah ada, paman Ling?" tanya Feng Ai yang dipersilahkan memasuki kediaman lamanya.


" Tuan besar ada di rumah nona, mari saya antarkan.!!" paman Ling, kepala pelayan di kediaman Feng mengantarkan Feng Ai untuk bertemu sang ayah.


Kepala pelayan tidak mengajak Feng Ai memasuki kediaman, melainkan membawanya ke taman yang dulunya merupakan tempat bagi Feng Ai dan ibunya disaat sang ibu masih hidup dan Feng Ai masih tinggal di sini. Namun apa yang saat itu Feng Ai lihat, sungguh begitu menyakiti jiwa dan batinnya. Sang ayah sedang tersenyum bahagia ketika bercengkrama dengan ibu dan saudara tiri Feng Ai. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh ayahnya selama bunya masih hidup.


" Berhenti paman!!! Tinggalkan kami dan kembalilah ke dalam!!" titah Feng Ai. Dan paman Ling langsung meninggalkan nona mudanya di tempat yang tidak jauh dari keluarganya.


" Jadi inikah jawaban dari semua yang aku pikirkan selama beberapa waktu ini.Anda bahkan dulu tidak pernah bertegur sapa dengan mereka, namun kini anda berbuat seolah-olah kelian adalah keluarga yang bahagia. Cintakah anda pada ibu? Atau hanya sebah penyesalan dan rasa bersalah yang anda terapkan saat ibu masih hidup?" gumam Feng Ai seperti sedang berbicara dengan sang ayah.


Matanya nanar menatap kebersamaan keluarga bahagia di depannya ini. Tanpa banyak berkata, Feng Ai langsung mengajak Shihan dan Hui Li meninggalkan kediaman Feng. Kini Feng Ai tahu, arti dari semua cerita dari sang ibu semasa hidupnya. Sang ibu telah kecewa pada ayahnya, dan keinginan terbesar ibunya saat beliau masih hidup adalah kembali ke dalam kehidupan seorang Kim Yozu.