The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 76



Feng Ai hari ini berencana untuk memulai latihannya kembali yang beberapa waktu ini sempat tertunda karena kehamilannya. Berat bagi Feng Ai harus beraktifitas saat masih baru tiga bulan pertama hamil. Selain mual, dia juga merasa pusing dan mudah lelah. Berbeda dengan sekarang yang sudah memasuki bulan ke 4, dia jauh lebih baik.


Secara kebetulan mulai hari ini dan untuk satu minggu ke depan, Gong Sheng akan pergi ke desa yang letaknya tidak begitu jauh dari ibukota. Desa itu membutuhkan bantuan untuk memulai pembangunan setelah diterjang banjir bandang dua hari lalu. Hal ini bisa dimanfaatkan Feng Ai untuk segera menyelesaikan latihannya. Setidaknya bisa sampai ditingkat spiritualis 6 yang artinya Feng Ai bisa memanggil hewan air yang terbentuk dari jiwanya.


" Kalau bisa aku akan pulang. Tapi kalau tidak bisa, kau harus berjanji pada ku untuk menjaga dirimu dan anak kita. Kau mengerti Ai?" tanya Gong Sheng.


" Anda jangan khawatir. Kembalilah jika anda tidak kelelahan, namun jangan dipaksakan ya. Saya pasti akan menjadi anak kita ini dengan baik." Feng Ai mengusap perutnya yang terlihat sudah buncit.


" Hm, jaga diri mu juga." Gong Sheng melabuhkan sebuah kecupan di dahi sang istri. Setelahnya Gong Sheng langsung berangkat bersama dengan beberapa anak buahnya yang menjemput di rumahnya.


Feng Ai kemudian langsung berbalik dan menatap Shihan dan Muzi secara bergantian. " Let's go kita latihan....!!!!" soraknya sampai lupa jika dia baru saja mengunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh pengawal pribadinya itu.


" Nyonya itu sedang bicara apa? Kok nggak ngerti ya." ujar Muzi.


" Nyonya memang begitu. Kau harus tahan melihat kekonyolannya. Jadi harus banyak-banyak bersabar menghadapi nyonya apalagi sekarang dengan bawaan bayi dalam kandungannya." Shihan menasehati, karena dialah korban calon anak tuan dan nyonya itu selama masa mengidam. Rasanya jika harus kembali ke masa beberapa waktu yang lalu ketika nyonyanya ini sering ngidam, Shihan lebih memilih untuk ikut peran saja.


Ketiga orang itu berkumpul seperti biasa di halaman belakang kediaman pangeran ke 5. Di sana jiga ada Yi Ye dan Hui Li yang ikut memantau latihan yang dilakukan oleh nyonya mereka.


" Yang mulia, coba anda ulangi teknik terakhir yang saya ajaran waktu itu! " pinta Shihan.


" Baiklah.. " Feng Ai mengambil kuda-kuda yang benar untuk melakukan pengendalian pada air. Kebetulan Shihah dan Muzi sudah menyediakan dua gentong yang berisi air penuh di sisi kanan dan kiri Feng Ai.


" Nyonya, pelan-pelan saja. Sebab anda sekarang dalam kondisi sedang hamil. " pesan Muzi.


" Jangan khawatir, meski tidak latihan berat tapi selama ini aku masih melakukan pemanasan. Dan tentunya suami ku tidak tahu... " Feng Ai tertawa senang karena berhasil merahasiakan kemampuannya dari sang suami.


" Belum tahu atau memang belum mau mengatakan... Entah tuan berada di kondisi yang mana diantara dua kemungkinan itu.. " batin Muzi seolah tidak percaya sampai sekarang Gong Sheng tidak tahu apa yang dilakukan oleh sang istri.


Mengenyampingkan masalah tuannya tahu atau tidak, Muzi lebih penasaran dengan kemampuan Feng Ai sampai sejauh apa. Dia baru-baru ini saja tahu bahwa nyonya kediaman pangeran ke 5 ini sedang melatih ilmu beladiri. Muzi sempat merasa curiga dengan pilihan dari nyonya nya ini. Pasalnya banyak istri maupun selor dari bangsawan dan keluarga kerajaan justru gemar melakukan hal yang lain. Tidak ada yang pernah Muzi temui, memiliki pemikiran sama dengan Nyonya nya. Dalam hati dirinya bertanya, apakah karena ini tuannya jatuh cinta pada Feng Ai.


Dengan gerakan pelan, Feng Ai mulai menggoyangkan tangan kanan dan kirinya seperti sebuah gerakan silat. Namun bukan itu yang sedang Feng Ai lakukan, dia hanya sedang berusaha untuk mengumpulkan energi dalam dirinya ke telapak tangannya.


" Shihan... Bagaimana menurut mu? " Feng Ai memamerkan kemajuan nya.


" Bagus nyonya. Hanya saja jika anda ingin naik satu tingkat, anda harus berusaha membuat air itu menyatu dengan anda. Muzi yang menjawab.


" Buat air itu mengikuti gerakan anda, dan buatlah gerakan yang lebih lagi Yang Mulia. " ujar Shihan.


Feng Ai kembali mengikuti apa yang diucapkan oleh Shihan dan Muzi. Tangannya mulai digerakkan dengan gerakan sederhana, tapi air itu justru jatuh ke tanah.


" Konsentrasi nyonya. Anda melihat seorang penari dengan selendangnya? Seperti itu lah yang harus anda pikirkan dan tanamkan dalam tubuh anda... " Muzi berucap.


Feng Ai menelan ludahnya dengan kasar, seorang penari dengan selendangnya? Menari saja dia belum pernah, bagaimana dia bisa tahu hubungan antara penari dan selendang. Meski begitu, Feng Ai tetap mencoba berkonsentrasi, meski tidak tahu juga kelanjutannya nanti bagaimana.


Feng Ai mulai menggerakkan tangannya seperti sedang mengikuti iringan musik layaknya seorang penari. Air dalam gentong itu kembali mengikuti arah tangan Feng Ai, namun kembali gagal ketika pada puncaknya Feng Ai tidak tahu harus berbuat apalagi.


" Jika anda berada di titik paling tertinggi, anda tinggal memilih nyonya. Ingin melemparkan itu, menahan itu, atau anda ingin membuang itu. Melemparkan dalam arti anda akan menyerang, menahan dalam artian jika ini adalah spiritual air anda bisa menggunakannya untuk pengobatan, membuangnya dengan artian, anda tidak membutuhkan penyelesaian dari aksi anda. " Muso menerangkan.


" Benarkah begitu? Lalu jika aku ingin menjadi menyembuhkan orang bagaimana caranya? " Feng Ai bertanya penuh semangat.


" Nanti akan ada tahapan tersendiri untuk itu, karena pelatihannya berbeda. Jadi ketika Anda siap secara fisik dan mental nantinya, barulah kita memikirkan untuk melatih anda. " Shihan menjawab.


" Aku mengerti.. " Feng Ai pun segera kembali melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Muzi dan Shihan tadi. Dirinya harus berada di tahapan yang lebih dari sekarang jika ingin disandingkan dengan pangeran ke 5.


Latihan berjalan dengan sangat lancar, dan mereka menghentikan latihan ketika hari sudah semakin sore. Sudah waktunya Feng Ai untuk membersihkan diri karena dia tidak boleh terlalu malam ketika membersihkan diri. Gong Sheng bilang, mandi malam tidak diperbolehkan demi kandungannya.


Setelah bebersih, Feng Ai segera menikmati makan malamnya di dampingi oleh mereka yang tadi menemaninya berlatih. Namun saat hendak menyiapkan sendok terakhir, tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak entah karena apa. Sendok itu terjatuh dan tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat.


" Ada apa ini? " batinnya saat perasaannya tak kunjung baik.


Berpikir sekeras apapun nyata otaknya tak mampu menebak apa yang terjadi saat ini. Cerita novel ini telah berubah, sehingga Feng Ai tidak lagi bisa menyikapi lebih awal peristiwa-peristiwa penting yang terjadi. Namun kata hatinya mengatakan nama suaminya, mungkinkah..