The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 63



Gong Sheng dan juga Feng Ai mengantarkan Kim Yozu sampai ke batas desa. Hari ini, Kim Yozu akan kembali ke Goryeo untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang kaisar. Selama beberapa hari ini saing berinteraksi dengan Kim Yozu, Feng Ai mulai merasakan kenyamanan yang selama ini jarang dia dapatkan dari orang lain. Dalam benaknya dia berpikir mungkinkah ini karena hubungan Kim Yozu dengan sang ibu. Tapi yang jelas Feng Ai begitu menikmati hal-hal menyenangkan yang sudah dia dan Kim Yozu lakukan bersama.


Setelah mengantarkan Kim Yozu, rencananya Gong Sheng dan Feng Ai akan langsung kembali ke ibukota. Mereka mendengar pernikahan pangeran ke 3 dengan putri menteri pertahanan akan dilangsungkan beberapa hari ini. Dan mengingat hal it, Feng Ai menjadi tidak tenang saat memikirkan pernikahan pangeran ke 3. Karena terakhir kali mereka terlibat perbincangan, pangeran ke 3 dengan tegas menolak adanya pendamping dalam hidupnya karena dia masih tidak bisa melupakan kenangan tentang wanita yang dia cintai. Lalu sekarang terdengar kabar bahwa pangeran ke 3 akan menikah.


" Suami ku... Apakah anda mengetahui tentang pernikahan dari pangeran ke 3 dan putri menteri pertahanan?" tanya feng Ai yang tidak lagi mampu menahan rasa ingin tahunya.


" Memangnya kenapa dengan pernikahan itu? Aku rasa wajar saja kakak ketiga menikah, karena dia saat ini masih sendiri sedangkan saudara lainnya sudah memiliki rumah tangga sendiri." Gong Sheng menanggapi.


" Entahlah. Saya merasa seperti ini bukan dari hati pangeran ke 3..." ujar Feng Ai.


" Kakak ketiga sudah dewasa, jelas tidak akan ada orang yang mampu mempengaruhi keputusannya. Jadi jangan berpikir bahwa dia terpaksa melakukan ini semua, karena kakak ketiga bukan seperti itu." Gong Sheng berusaha menjauhkan pikiran sang istri dari sesuatu yang berat. Bagaimanapun juga saat ini Feng Ai sedang mengandung.


------------------------------------------------------------------------------------


Sejak penyerangan yang terjadi di kediaman pangeran ke 5 yang ternyata atas suruhan dari putri mahkota. Ming Yue tidak lagi hidup dalam rasa tenang. Setiap hari dia terus dihantui rasa bersalah karena hal itu. Namun dengan kuat dia menyangkal rasa bersalah itu.


Apa yang dialami oleh putri mahkota ini tidak lepas dari campur tangan Yi Ye, kepala pelayan kediaman pangeran ke 5 yang dulunya adalah wakil jendral.


Setelah penyerangan itu, secara khusus Gong Sheng meminta tolong pada Yi Ye untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat putri mahkota jera dan tak lagi menganggu sang istri. Dan Yi Ye pun mempermainkan putri mahkota sehingga dia terus gelisah dan dibayang-bayangi rasa bersalah.


Pagi ini, penampilan Ming Yue begitu buruk sama seperti beberapa hari belakangan ini. Penyebabnya tentu saja karena mimpi buruk yang terus dia alami, semenjak peristiwa penyerangan ke kediaman pangeran ke 5.


Putra Mahkota acap kali marah, bahkan tidak segan untuk belaku kasar pada putri mahkota, karena merasa penampilan istrinya ini mempermalukannya. Sungguh Gong Lie dibuat muak dengan semua yang ada pada diri istrinya ini. Jika bukan karena pengaruh orang tua dari putri mahkota, sudah sejak dulu Gong Lie tidak melirik Ming Yue. Bagi putra mahkota, Feng Ai lebih bisa mengimbanginya dibandingkan Ming Yue ini.


" Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya pelayan pribadi Ming Yue.


" Aku rasanya tidak sanggup lagi. Aku selalu mimpi buruk akhir-akhir ini. Dan hal ini mempengaruhi suasana hati ku."


" Apa perlu saya memintakan tabib meresepkan ada obat atau vitamin, Yang Mulia?" usul pelayang pribadi Ming Yue.


" Begitu juga bagus. Pergilah dan minta tabib istana membuatkan aku ramuan obat untuk membuat tidur ku baik!" titah Ming Yue.


Setelah kepergian pelayang pribadinya, Ming Yue kembali ke dalam lamunannya. Memikirkan kembali sebab dan akibat yang musti dia tanggung karena telah berlaku kejahatan. Sungguh, ini adalah sesuatu yang tidak dia inginkan.


Namun sekali lagi, karena keluarga dan posisinya saat ini dia harus membuat Feng Ai tidak gegabah dalam mencari keributan dengannya. Ming Yue tidak ingin istri dari pangeran ke 5 itu pada akhirnya menyedot semua perhatian banyak orang sehingga semua orang lupa siapa putri mahkota disini.


" kenapa peran ku begitu sulit aku lakoni, dewa. Apakah hanya sampai disini, segala usahaku berakhir." batin Ming Yue kembali meratapi nasibnya.


Ingatannya kembali kepada hari dimana kaisar dan permaisuri mendatang kediaman Ming demi meminangnya untuk putra mahkota. Ada rasa bahagia dan juga rasa sedih yang dia rasakan secara bersamaan. Bahagia karena dia adalah satu-satunya gadis yang beruntung karena akan menyandang gelar putri mahkota. Dan sedih karena dia tidak boleh lagi memiliki perasaan pada cinta pertamanya.


Ming Yue awalnya begitu membanggakan dirinya karena telah terpilih menjadi seorang putri mahkota. Calon ibu dari dinasti Xili kedepannya. namun semua itu tidak bertahan lama, ketika dia melihat Gong Sheng, menemui Kaisar untuk diizinkan meminang putri dari perdana menteri kanan, Feng Ying.


Bagaimanapun juga, jabatan ayahnya dan ayah dari Feng Ai, membuat semua orang membandingkan mereka berdua dalam segala hal. Selama ini ming Yue unggul dalam beberapa hal dari feng ai terutama sastra kuno. Hal itu adalah satu dari sekalian banyak hal yang tidak dikuasai oleh Feng Ai. Namun apa arti itu semua, ketika Feng Ai justru memenangkan hadiah utamanya, Gong Sheng.


Ming Yue yang lebih dulu kenal dan dekat. Ming Yue yang merasa bahwa Gong Sheng memiliki perhatian lebih padanya jika dibandingkan anak lainnya, mulai berpikir bahwa Gong sheng adalah anak laki-laki yang menyukainya. Hingga angan-angan itu hanya sebatas kamuflase saja, ketika dia melihat Gong Sheng ingin meminang Feng ai.


Dari situlah kebenciannya pada Feng Ai mulai timbul. Menjadikannya wanita licik dan arogan, hanya demi melindungi satu-satunya hal yang tidak boleh dirampas oleh Feng i, Harga dirinya.


" Aku sudah bermandikan lumpur, lalu bukankah suatu hal yang sulit jika aku hidup dalam kubangan lumpur dendam. Jadi seharusnya aku tidak boleh bergetar seperti ini, tidak ada yang boleh menakuti ku, siapa pun itu," racau Ming yue mulai terlihat tidak waras.


" Aku harus kuat demi menjaga satu-satunya yang tidak akan bisa Feng Ai rampas.Harga diri ku harus tetap ada padaku. Aku harus menjunjung tinggi harga diri ku agar Feng Ai tidka merendahkan ku." lagi, racau Ming Yue.


Beberapa dayang istana yang melayani putri mahkota, mulai ketakutan saat melihat tuan mereka mulai tidak waras. Setiap malam selalu berteriak-teriak seperti orang kerasukan, lalu paginya akan terlhat mirip gelandangan. Putra mahkota saja jijik mendekat, lalu harus bagaimana para dayang itu.