
Shihan dan Muzi berulang kali tak percaya bahwa dalang dibalik peristiwa penyerangan kediaman pangeran ke 5 adalah Putri Mahkota. Bagaimana bisa perempuan yang begitu anggun ternyata sangat picik sekali.
" Tuan. Lalu apa yang akan anda lakukan terhadap pelakunya? " tanya Muzi.
" Awasi dulu, kalau terjadi lagi langsung tindak. Kalian mengerti kan! " titah Gong Sheng.
" Mengerti tuan. " serempak kedua pengawal Deng Ai menjawab.
" Dan satu lagi, jangan sampai masalah ini terdengar oleh telinganya istri ku. Aku tidak ingin dia terbebani dengan masalah ini. " sebelum meninggalkan ruang bawah tanah ini, Gong Sheng sempat berpesan pada kedua orangnya.
Gong Sheng kembali ke paviliun utama, tapi bukannya ke kamar sang istri, Gong Sheng justru mencari Yi Ye. Entah apa yang dia rencanakan, tapi dari pengalaman Yi Ye, kepala pelayan kediaman pangeran ke 5 ini pintar dalam menyusun rencana pembalasan dengan berbagai cara.
' Apa kalian melihat dimana paman?" tanya Gong Sheng pada beberapa pelayan yang berpapasan dengannya.
" Kepala pelayan sedang berada di dapur tuan. Beliau menyiapkan makanan sehat yang tabib pinta untuk dibuatkan untuk nyonya." jawab salah satu pelayan itu dengan lengkap.
" Terima kasih." ujar Gong Sheng meninggalkan beberapa pelayan yang masih menatap takjub pada tuan mereka.
" Tuan dan nyonya adalah tuan yang baik pada orangnya. Bahkan mereka selalu mengucapkan terima kasih setelah meminta kita melakukan apa yang mereka perintahkan. Mencari di seluruh belahan dunia ini pun belum tentu ada yang seperti tuan dan nyonya mereka." ujar seorang pelayang memuji tentang kebaikan hati dari Gong Sheng dan Feng Ai.
" Kamu benar, kita adalah segelintir orang yang beruntung karena bertemu dengan tuan dan nyonya." seorang lagi menambahkan.
Di dapur, Gong Sheng melihat Yi Ye sedang merebus obat yang tadi diberikan oleh tabib. Mungkin ntuk masakannya Yi Ye menyerahkan hal itu pada orang yang lebih berpengalaman dari padanya. Sehingga dia memilih untuk merebus obat saja. Nanti ketika nyonya nya sudah bangun dia bisa langsung meminta nyonya nya untuk meminum obat ramuan ini.
" Paman, kapan kau selesai?" tanya Gong Sheng ikut berjongkok di depan tungku kecil untuk merebus obat.
" Tidak lama lagi tuan. Apa ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Yi Ye.
" Hm... Aku ingin kau menyelesaikan sesuatu yang penting setelah ini.
" Baik tuan, tolong tunggu sebentar lagi." pinta Yi Ye.
Merebus obat tidak boleh salah, waktu dan panas api yang digunakan untuk merebus harus benar. Jika tidak khasiat dari obat itu akan menurun dan sangat tidak baik untuk pasien yang meminumnya. Jadi Yi Ye harus berkonsentrasi tinggi berjongkok di depan tungku api kecil itu.
Selama menunggu, Gong Sheng berjalan-jalan di sekitar halaman belakang yang dekat dengan dapur. Melihat beberapa tanaman dan pohon yanng dirawat sangat baik oleh pengurus kebunnya. Menambahkan kesan damai ketika kediamannya memiliki taman dengan banyak tanaman dan pohon. Baginya juga terlhat asri.
" Tuan, saya sudah selesai.Apa yang anda pinta untuk saya lakukan?" tanya YI Ye berdiri di belakang Gong Sheng.
" Membuat rencana. Rencana untuk membalas pada seseorang yang telah berani mengusik kediaman ku." ujar Gong Sheng dengan wajah yang begitu menakutkan.
" Anda sudah tahu pelakunya tuan?" tanya Yi Ye.
" Sudah. Coba kau tebak siapa pelakunya! Dia tidak mengincar akku maupun kediaman ku. Dia mengincar istri ku." Gong Sheng mengetes ketajaman feeling dari pria tua yang dulunya adalah wakil jendral.
" Putri Mahkota?" tebak Yi Ye setelah berpikir cukup lama.
" Tidak salah dulu kau adalah mantan wakil jendral paman, tebakan mu tepat. Jadi paman tahu kan rencana balas dendam yang baik untuknya." ujar Gong Sheng membenarkan.
" Baik tuan, saya akan segera mengaturnya." seringai licik muncul di wajah kepala pelayang di kediaman pangeran ke 5 itu.
Gong Sheng dan Yi Ye berbarengan menuju ke kamar Feng Ai untuk melihat apakah dia sudah bangun atau belum. Yi Ye sudah membawa nampan berisi bubur dan ramuan obat yang dia rebus tadi. Ketika sudah membuka pintu kamar milik gong Sheng dan Feng Ai, terlihat nyonya kediaman Man Yue itu masih terlelap. Mungkin dia sangat lelah saat ini untuk diajak bicara.
Semalaman Yi Ye memikirkan cara yang terbaik untuk membalas dendam pada orang yang telah membuat kerusuhan di kediaman tuannya. Namun yang menjadi masalahnya saat ini adalah bahwa dia harus memberikan peringatan tanpa mengundang perhatian warga di istana. Belum lagi jangan samapi mereka mengarah pada kediaman ini.
Yi Ye merasa sebentar lagi dia akan kehilangan banyak rambutnya karena terlalu berpikir keras. Tapi sampai larut pun, Yi Ye masih belum memiliki rencana balas dendam dengan segala aturan yang ada.
Gong Sheng masih belum menutup matanya malam ini. Sepertinya Gong Sheng senasib dengan Yi Ye, hanya saja yang membedakannya adalah Gong Sheng tidak tidur bukan karena memiliki banyak pemikiran, tapi karena saat ni Feng Ai tengah bangun dan mengidam ingin naik kuda mengelilingi ibukota.
" Ai, besok pagi saja ya!" bujuknya.
" Saya ingin malam ini suami ku. Apa anda tidak mau mengabulkan keinginan saya dan calon anak kita?" tanya Feng Ai sudah dalam mode merajuk. Air mata itu sudah seperti sungai yang sangat deras. Dalam hati gong Sheng mengutuk sang anak yang memiliki keinginan sangat aneh.
" Baiklah, tapi Ai ku jangan sedih dan menangis lagi ya. Aku ke kandang kuda sekarang dan Ai ku ini harus mengganti pakaian dengan yang lebih tebal dan mengenakan mantel. Paham?" Feng Ai hanya mengangguk dengan senyum terpatri di wajahnya.
Gong Sheng sengaja membawa satu kuda bersamanya agar sang istri tidak meminta menunggangi kuda sendiri. Guncangan yang diakibatkan oleh laju kuda sangat tidak baik untuk kandungan Feng Ai. Jadi lebih baik Gong Sheng mengantisipasi dahulu sebelum sang istri meminta yang aneh-aneh lagi.
Beruntung Feng Ai menerima ketika Gong Sheng hanya membawa satu kuda saja. Entah apa yang akan dipikirkan oleh Feng Ai saat ini, yang jelas satu doa Gong Sheng agar calon anaknya ini tidak meminta yang aneh-aneh.
" Berhenti mau kemana kalian malam-malam begini berkuda?" seorang penjaga gerbang ibukota menghentikan Gong Sheng.
" Maaf, aku jendral besar Gong Sheng. Istri sedang hamil dan meminta untuk berjalan dengan kuda di malam ini. Apa kalian mengizinkan kami untuk melanjutkan perjalanan?"lapor Gong Sheng.
" Maafkan kami yang mulia, silahkan untuk melanjutkan perjalanan anda." penjaga itu mempersilahkan Gong Sheng dan Feng Ai untuk kembali berjalan.
" Huft.... Ayahanda harus menjadi seperti ini karena ulah mu anak ku. Ingat jika kau sudah lahir, selalu patuh pada ayahanda dan cintailah ibunda kalian." batin Gong Sheng