The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 38



Sore harinya, Gong Sheng benar-benar membawa istrinya untuk melihat pesta topeng yang diselenggarakan oleh masyarakat yang ada di ibukota. Di sepanjang jalan yang mereka lewati, semua orang memakai topeng. Hanya mereka berdua saja yang tidak, tapi itu tidak masalah sama sekali karena masyarakat ibukota tahu siapa mereka berdua.


Ada beberapa orang dan penjual topeng yang menawarkan topeng pada mereka berdua tanpa perlu membayar, namun Gong Sheng menolak hal itu karena Feng Ai tidak nyaman menggunakan topeng. Para penjual dan orang-orang yang menawarkan topeng tadi pun tidak mempermasalahkan penolakan dari tuan panglima besar Xili itu.


" Jika anda ingin memakainya, tidak perlu memikirkan saya." ujar Feng Ai yang sepertinya melihat raut wajah suaminya sedikit kecewa karena tidak menggunakan topeng.


" Tidak perlu. Kita kan pasangan, jadi jika yang satu memakai maka lainnya juga akan memakai, begitu pula sebaliknya." ujar Gong Sheng tetap menolak memakai topeng.


" Baiklah, kalau begitu kita lihat dari jauh saja, agar tidak canggung karena idak mengenakan topeng." Feng Ai menunjuk sebuah rumah makan yang berlantai dua.


" Ide yang bagus." keduanya langsung melangkah menuju ke rumah makan tersebut. Mereka langsung mencari kursi kosong di lantai dua yang bisa melihat kondisi di bawah sana.


Rombongan orang-orang yang mengenakan topeng dengan diiringi musik, melintas di jalanan ibukota. Konon pesta topeng ini memiliki tujuan untuk mengusir roh halus yang jahat dari rumah mereka, dengan menakuti-nakuti menggenakan topeng yang menyeramkan.


Feng Ai beberapa kali menutupi wajahnya dengan kedua tangannya saat melihat topeng yang menyeramkan. Gong Sheng menertawakan tingkah sang istri yang begitu menggemaskan. Gong Sheng sedikit bercanda dengan menyingkirkan tangan Feng Ai dari wajahnya agar Feng Ai melihat topeng yang menyeramkan itu.


" Tolong lepaskan tangan saya. Ini benar-benar menakutukan." Feng Ai memberontak saat tangannya diambil paksa oleh suaminya.


" Hai ayolah, ini sama sekali tidak menakutkan. Itu hanya topeng, Ai. Cepat buka mata mu." ujar Gong Sheng menggoda istrinya itu.


" Tidak....Tidak.... Saya tidak mau. Itu menakutkan sekali, matanya bahkan sampai keluar." Feng Ai menggelengkan kepalanya dengan kuat. Gong Sheng langsung tergelak melihat istrinya itu menggemaskan sekali saat ketakutan seperti ini.


Melihat istrinya yang hampir menangis karena takut, Gong Sheng akhirnya melepaskan tangan Feng Ai meski masih saja menertawakan tingkah dari istrinya itu. Bibir Feng Ai manyun saat tahu suaminya itu sengaja melakukan hal itu untuk menggodanya. Feng Ai membuang muka karena sangat kesal, namun berikutnya Feng Ai menoleh dan tersenyum saat tiba-tiba suaminya itu mencium pipinya hingga bersemu merah.


Beberapa pengunjung di rumah makan itu, senyum-senyum sendiri melihat tingkat tuan besar panglima dan istrinya di depan umum ini. Seperti dunia ini hanya milik mereka berdua saja, sedangkan yang lainnya hanya menyewa saja.


Hampir tengah malam pesta topeng itu berakhir. Gong Sheng mengajak Feng Ai untuk pulang ke rumah karena hari sudah sangat malam. Feng Ai pun mengiyakan karena dia juga sudah mengantuk, semalam dia harus begadang karena sang suami tidak membiarkannya tertidur. Suaminya itu terus saja membuatnya mendesah di bawah kungkungannya.


Gong Sheng menawarkan diri untuk menggendong Feng Ai di atas punggungnya. Feng Ai pun mengiyakan karena kakinya sudah lemas karena dia mengantuk berat. Dengan berjalan kaki dan menggendong Feng Ai di punggungnya, Gong Sheng membawa sang istri pulang ke kediaman mereka.


Yi Ye yang sadar tuannya sudah berlalu pun bergegas menyusul. Dia membukakan pintu kamar pribadi tuan dan nyonya nya itu, alu meninggalkan tuan dan nyonya nya untuk beristirahat. Besok mereka butuh persiapan esktra karena akan datang ke jamuan makan malam dari kaisar untuk merayakan keberhasilan pangeran ke 5 dan pasukannya dalam menyelesaikan misi mereka.


Gong Sheng membaringkan tubuh Feng Ai dengan pelan ke ranjang mereka agar istrinya ini tidak bangun. Beruntung karena tidur Feng Ai begitu lelap, dia sampai tidak terbangun saat berganti alas tidur. Dari punggung suaminya ke ranjang mereka. Setelah itu Gong Sheng segera membersihkan dirinya dan menyusul istrinya yang sudah lebih dulu tidur, sampai keduanya sama-sama terbang alam mimpi.


Pagi hari sudah tiba, Feng Ai bangun dan menyadari bahwa suaminya sudah tidak ada di sampingnya. Dia pun segera membersihkan diri dan mencari keberadaan dari suaminya saat ini. Feng Ai menemukan suaminya sedang menyirami tanaman anggrek mereka. Sungguh rajin sekali suaminya ini, pagi-pagi sudah berkebun.


Gong Sheng melambai agar Feng Ai mendekat padanya. Tanpa banyak bicara, Feng Ai langsung berlari untuk menuju tempat suaminya saat ini sedang berdiri. Feng Ai langsung memeluk tubuh suaminya, menghirup aroma dari suaminya yang selalu bisa menenangkan dirinya.


" Kenapa pagi-pagi istri ku sudah manja sekali? Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan? " tanya Gong Sheng yang masih memeluk Feng Ai.


" Tidak ada yang saya inginkan, tapi rasanya saya ingin sekali menghirup aroma tubuh anda sebanyak-banyaknya. " jawab Feng Ai mendusel ke dada suaminya.


" Baiklah, kalau begitu silahkan kamu hirup sebanyak-banyaknya, agar tidak kekurangan nantinya. " Gong Sheng mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri.


Feng Ai tidak menanggapi, tapi hidungnya menghirup dengan rakus wangi tubuh suaminya di pagi hari ini. Sekitar sepuluh menit lamanya, barulah Feng Ai melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya. Feng Ai menunjukkan senyum yang begitu manis pada Gong Sheng sebagai ungkapan Terima kasih karena sudah diizinkan menghirup wangi tubuh dari Gong Sheng di pagi ini.


Setelah selesai dengan memanjakan sangat istri, Gong Sheng kembali merawat tanaman anggrek yang setahunya sudah bertambah beberapa jenis. Gong Sheng tahu bahwa itu adalah ulah sang istri yang pastinya lebih tahu tentang anggrek jika dibandingkan dengannya.


" Senang melihat mereka berbunga dengan berbagai warna kan? Ada kuning, ungu, dan beberapa lainnya yang tak kalah cantiknya. Membuat hati yang merawatnya merasa puas, benar tidak? " tanya Feng Ai.


" Hm... Taman ini aku buat beberapa tahun yang lalu memang untuk mu. Dan sekarang saat kau sudah tinggal di sini, dan mereka bermekaran, ini sangat memuaskan untuk ku. " jawab Gong Sheng.


" Kenapa anda menanam ini untuk ku? " kembali Feng Ai bertanya.


" Karena kau pasti akan senang jika tinggal di tempat ini dengan banyaknya bunga-bunga yang kau suka. Aku sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari, aku ingin ketika kau sampai dan tinggal di kediaman ku, kau akan merasakan perasaan akrab dan membuat mu betah tinggal di sini. " Gong Sheng mengecup pelan dahi Feng Ai.


" Mungkin kah dia memang sudah merencanakan untuk menikahi bertahun-tahun yang lalu? " batin Feng Ai tidak percaya.