The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 48



Di dapur kediaman pangeran ke 5, semua terlihat sangat sibuk. Baik dari pelayang, koki maupun dayang. Selam ini dayang yang ad di kediaman itu hany akan mengurusi masalah pakaian, namun karena hari ini maka mereka membantu pelayan dan bagian dapur untuk memasakkan semua makanan yang akan dibagikan kepada rakyat ibukota dan juga anak terlantar. Rencananya besok pagi semua persiapan yang dimasak oleh bagian dapur akan dibagikan. Tak lupa malamnya, pangeran ke 5 akan mengundang beberapa kerabat dari Feng Ai dan juga dirinya untuk merayakan pesta syukur di kediaman Man Yue.


Semua tugas dan juga persiapan diawasi langsung oleh Yi Ye selaku kepala pelayan. Yi Ye akan mengawasi setiap detail yang sedang dipersiapkan ini agar tidak mengecewakan siapapun yang nantinya menerima ini semuanya. Yi Ye juga dibantu Hui Li,karena pelayan pribadi Feng Ai ini telah kehilangan pekerjaannya. Semua itu karena Gong Sheng mengambil pekerjaan Hui Li agar bisa bersama dengan Feng Ai.


" Kenapa kau kemari?" taya Yi Ye saat secara tidak sengaja menangkap sosok Hui Li di dapur.


" Membantu paman, apalagi." jawab Hui Li sedikit kasar.


" Kau itu kenapa? Tuan mu sedang mengandung tapi kau seperti orang yang tidak senang saja." tanya Yi Ye. Dia melihat gelagat tidak biasa dari Hui Li.


" Aku kehilangan pekerjaan ku. Sejak tuan mengetahui kehamilan dari nyonya. Secara sengaja tuan mengatakan akan membantu feng Ai melakukan semuanya dn aku disuruhnya membantu dapur. Aku ini pelayang dari nyonya, kenapa tuan justru mengusir ku?" kesal Hui Li yang terus mengomel.


" Kau itu aneh sekali, tuan itu adalah suami dari nyonya, jadi wajar saja dia melakukan itu semu. Kenapa jadi kau yang tidak terima?" ledek Yi Ye terkekeh. Hui li yang kesal tidak menanggapi kata-kata Yi Ye justru langsung pergi ke arah para pelayang yang tengah sibuk mempersiapkan sayuran.


Yi Ye masih dengan kekehannya pergi meninggalkan area dapur, dia masih harus memeriksa beberapa hal lain yang sudah tuannya serahkan padanya untuk dikerjakan dengan sebaiknya. Dan sifat Yi Ye yang begitu menyukai semuanya berjalan sempurna harus mempersiapkan semuanya dengan sempurna juga.


Tak sengaja Yi Ye melihat tuannya dan juga dua pria kepercayaan tuannya sedang berbincang di taman anggrek milik Feng Ai. Yi Ye tersenyum karena tuannya itu sudah mempersiapkan pengaman untuk menjaga nyonya dan calon bayi mereka. Sesuai sifatnya, teliti dan juga sabar.


Yi ye pun meninggalkan apa yang dia lihat, kerena dia juga memiliki kesibukkan sendiri. Sangat tidak etis jika dia memiliki pekerjaan yang belum selesai tapi sudah mengurusi pekerjaan orang ain. Begitulah sifat Yi Ye, sangat bertanggung jawab sekali.


Kini setelah mengawasi bagian dapur, Yi Ye berganti melihat bagian para penjaga. Dia ingin besok ketika pesta di kediaman pangeran ke 5 ini dimulai, para penjaga harus menambah beberapa orang yang bisa dipercaya untuk mengawal jalannya pesta agar tidak ada pihak yang mengambil kesempatan didalam kesempitan.Jadi bagian penjagaan haruslah mengantisipasi bahaya dengan benar agar tidak membahayakan tuan dan nyonya mereka.


" baik kepala pelayan, aku akan mengerahkan beberapa penjaga lagi besok." ujar kepala penjaga menyanggupi usul dari Yi Ye.


" Aku percayakan masalah ini pada mu. Jadi tolong atur semuanya dengan baik." ujar Yi Ye berpesan. Kemudian dia meninggalkan kepala penjaga dan mulai melakukan pekerjaannya.


Di tempat lain, di dalam sebuah kamar, terlihat seorang wanita mengamuk. Semua barang-barang dalam kamar itu berserakan dan pecah berceceran. Tidak ada seorang daya pun yang mau ataupun berani menghentikan puri mahkota jika sedang mengamuk. Yang telah mengamuk di dalam kamarnya sendiri adalah putri mahkota, Ming Yue. Beberapa waktu yang lalu dia mendapatkan kabar yang begitu sangat tidak menyenangkan baginya.


Berapa saat yang lalu, di dalam kamar milik putri mahkota, terlihat ada seorang dayang yang berlutut melaporkan apa yang dia ketahui di kediaman pangeran ke 5.


" Apa kau bilang? " tanya putri mahkota pelan.


" maaf yang mulia.' setelah mengatakan itu dayang itu segera undur diri karena takut jika dijadikan sasaran oleh putri mahkota yang mengamuk.


" Hahahahaha..... Bukan kah dewa sedang mempermainkan ku? Bagaimana dia bisa tidak adi pada ku? Feng Ai mendapatkan segalanya sedangkan aku hanya bisa seperti ini. Seperti burung kenari yang dipenjara di sangkar emas. Semuanya sungguh keterlaluan......"


" AAARGGGGGHHHH" putri mahkota berteriak sekencangnya dan menghancurkan apa saja yang ada di depannya.


Semuanya dayang dan pelayan keluar dari kamar putri mahkota. Tidak ada satu pun yang berani menghentikan atau melapor pada putra mahkota. Mereka ketakutan, takut pada amarah putri mahkota juda tut disalahkan oleh putra mahkota. Hubungan keduanya yang hancur memang masih tersimpan rapi dari para petinggi di istana, tapi bagi par dayang dan pelayan yang memang diperintahkan berada di bawah kuas putra dan putri mahkota, tahu tentang pernikahan keduanya yang hancur sejak malam pertama.


Ketika malam pertama bagi putra dan putri mahkota, kala itu putri mahkota menolak saat putra mahkota akan meminta haknya sebagai seorang suami. Putri mahkota mengatakan bahwa dia belum siap untuk melakukan itu, kemudian secara rahasia putra mahkota tahu alasan dari putri mahkota menolak malam pertama mereka karena pangeran ke 5.


Putri mahkota mencinta pangeran ke 5 dan terpaksa melakukan pernikahan dengan putra mahkota karena desakan dari orang tua. Namun melihat bahwa masih ada kegunaan yang di dapat oleh putra mahkota dengan menikahi putri mahkota. Karena itu dia tetap memperistri Ming Yue dan memperlakukannya dengan buruk agar bisa menekan pangeran ke 5. Namun bodohnya, dia tidak tahu bahwa pangeran ke 5 hanya menaruh hati pada putri perdana menteri kanan.


Kembali lagi pada putri mahkota yang sedang menangis tersedu-sedu setelah menghancurkan kamar pribadinya. Dia tertawa, namun kemudian dia menangis histeris.Seolah dia telah kehilangan kewarasannya karena mengetahui kesempurnaan pernikahan dari pria yang dia cintai.


" Ada apa ini?" tanya pangeran ke 2, Gong Chen. Dia kebetulan lewat di depan paviliun milik putri mahkota dan mendengarkan keributan dari sana.


" Maaf, yang mulia pangeran, kami....kami...." seorang dayang tidak berani mengatakan keadaaan yang sebenarnya terjadi.


Dan tanpa meminta izin, Gong Cheng masuk ke kamar pribadi putri mahkota, " Kau hancur karena adik kelima akan segera mendapatkan momongan. Namun sayangnya bukan kau kan wanita yang akan melahirkan anaknya?" sarkas pangeran ke 2.


" Cih... Apa pangeran ke 2 kita ini sedang tidak sibuk sehingga bisa mengurusi permasalahan orang lain." balas Ming Yue.


" Kau tahu, aku sangat bahagia melihat mu menderita seperti ini. Karma karena kau menolak suami mu sendiri di malam pertama." bisik Gong Chen menghina.