The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 79



Pagi ini di desa tempat dimana pasukan Gong Sheng berada, terlihat sangat sibuk. Semuanya dengan cekatan menyelesaikan apa yang menjadi tugas mereka. Padahal ini terbilang masih sangat pagi untuk melakukan aktifitas berat. Tapi mereka harus bekerja keras dalam melakukan perlindungan untuk desa mereka karena akan mendapatkan serangan dari pihak putra mahkota.


Tidak akan ada yang akan menolong mereka, jadi sebisa mungkin mereka harus sigap dan berusaha berjuang tanpa bantuan orang lain. Mereka harus saling melindungi dan membuat musuh menyerah, sehingga anak-anak dan wanita bisa aman.


" Bagaimana persiapannya?" tanya Muzi pada beberapa anak buahnya.


" Lancar komandan. Dan kami sekarang ini sedang membuat jebakan mengelilingi desa ini." jawab anak buah Muzi.


" Lakukan sebaik mungkin, musuh kita kali ini tidak boleh kita sepelekan. Untuk menang, kita butuh banyak pengorbanan." ujar Muzi, terkesan menakut-takuti, tapi nyatanya memang begitu.


"Baik komandan.." mereka pun langsung bubar.


Muzi kembali berkeliling untuk melihat persiapan. Waktu mereka tidak banyak, hanya tersisa lima hari lagi sampai orang-orang putra mahkota dan pangeran ke 4 datang ke desa mereka. Dan selama itu pula, Shihan dan beberapa anggota pasukan rahasia milik Gong Sheng terlihat melatih penduduk desa itu agar bisa menggunakan senjata.


Harapan Shihan adalah setidaknya, penduduk desa ini bisa melindungi diri mereka sendiri maka hal tersebut akan mengurangi beban pasukan Gong Sheng. Beruntung rakyat di desa itu mau diajak bekerja sama dan tidak menyalahkan kehadiran pasukan Gong Sheng di desa mereka.


" Kami lebih banyak berhutang pada jendral besar, jadi sudah wajar bila kami membantu jendral besar. Kami akan selalu berpihak pada jendral besar, kalian boleh menggunakan kami sebanyak yang kalian inginkan." kira-kira begitulah ucapan warga desa yang membuat Gong Sheng sendiri sampai menitikkan air mata.


Di tempat kepala daerah di desa itu, terlihat Gong Sheng sedang berdiskusi dengan seluruh petinggi di desa itu. Membicarakan beberapa strategi yang dianggap bisa membantu mereka meminimalisir kemungkinan mereka kalah.


Faktor kalah jumlah adalah hal yang tidak bisa dianggap sepele. Mereka bisa menang jika mereka memiliki strategi yang baik, namun juga bisa kalah bila salah langkah. Pasukan bantuan milik Gong Sheng yang ada di ibukota tidak bisa datang membantu karena mereka ditahan oleh Kaisar sendiri. Dengan alasan bahwa pangeran ke 5 masih dalam penyelidikan.


Penculikan dan penganiayaan yang terjadi pada pangeran ke 5 sudah sampai ke ibukota. Namun karena tuduhan yang dilakukan putra mahkota, maka kaisar berpendapat bahwa pangeran ke 5masih dalam masa penyelidikan sehingga pasukan miliknya tidak bisa diberangkatkan menuju ke tempatnya berada. Hanya saja Kaisar tidak tahu tentang penyerangan yang akan dilakukan oleh putra mahkota dan pangeran ke 4. Mungkin akan lain jika Kaisar tahu, atau sama sekali tidak ada yang berubah meski kaisar tahu sekali pun.


Berharap bantuan datang, namun juga tidak bisa bergantung pada sesuatu yang belum tentu akan datang. Yang menjadi pilihan Gong Sheng dan pasukan desa hanya membuat strategi dan memanfaatkan kondisi jalan yang pastinya akan ditempuh oleh pasukan putra mahkota dan pangeran ke 4.


" Belakang adalah gunung tuan. Di dalam sana ada sebuah gua yang mengarah pada sisi tenggara Goryeo." terang kepala desa.


" Apakah itu sebuah jalan?" tanya Gong Sheng yang terkejut mendengar hal itu.


" Benar tuan. Dan...." kepala desa nampak melihat ke kanan dan ke kiri, seolah tidak ingin ada orang yang mendengar ucapannya. " Jalan ini adalah jalan rahasia kaisar Goryeo tuan. Tiga puluh tahun yang lalu, saya pernah melihat Kaisar Goryeo yang sekarang melewati jalan ini dan meninggalkan dua gadis yang begitu cantik. Seorangnya diangkat anak oleh mantan jendral." ujar kepala desa.


" Benar sekali tuan. Karena itu bagi kami anda adalah anggota desa ini. Anda cucu keluarga mantan Jendral. Berarti anda adalah keluarga desa ini, yang mulia."


Gong Sheng berpikir sejenak, cara yang terbaik untuk memanfaatkan celah jalan yang menuju ke Goryeo ini. Karena wilayah tenggara merupakan wilayah ibukota sekaligus ada tanah pribadi pamannya disana. Gong Sheng berniat mengutus seseorang ke sana tapi perjalanan yang membutuhkan sekitar tiga hari juga pasti akan menjadi kendala.


Disaat itulah Feng Ai datang. Dia mengatakan bahwa dia bisa pergi ke sana untuk bertemu dengan paman Gong Sheng. Namun Gong Sheng sangat menolak hal tersebut karena kondisi Feng Ai yang hamil.


" Jika saya yang pergi maka anda tidak perlu kehilangan tenaga pasukan. Saya pasti akan baik-baik saja. Saya berjanji..." ujar Feng Ai nekat.


" Ai, kau itu sedang mengandung. Jika terjadi sesuatu pada mu maka aku akan mati karenanya. Kehilangan tenaga prajurit dengan kehilangan dirimu dan calon anak kita, aku lebih memilih kehilangan daya tempur. Jadi urungkan niat mu untuk itu." Gong Sheng sangat kesal saat ini.


" Apa yang dikatakan oleh jendral besar memang benar adanya. Medan yang akan ada tempuh sampai ke ujung celah menuju Goryeo tidaklah mudah. Kami tidak bisa menjamin anda dan kandungan anda akan baik-baik saja." ujar kepala desa ikut menasehati Feng Ai.


" Aku yang akan pergi.." semua mata menatap seorang pria yang sudah tua namun masih tuan ibu dari Gong Sheng.


" Aku tahu betul jalan itu karena kakakku pernah mengajak ku ke sana hanya untuk bertemu dengan kaisar Goryeo yang sekarang." ujar pria itu yang ternyata adalah adik tiri dari ibu Gong Sheng.


" Beberapa waktu yang lalu aku juga mengantar kaisar Goryeo masuk ke celah ini setelah beliau menemui keluarganya." lanjut pria bernama Xia Tian.


Pria ini sedikit memaksa hingga akhirnya diputuskan bahwa pria itulah yang akan masuk ke celah untuk meminta bantuan Goryeo. Dan sepertinya Gong Sheng ingin membuat pamannya kembali menekan Xili, karena teah berani menempatkannya dalam situasi seperti ini.


Gong Sheng menitipkan surat pada Xia Tian yang nantinya akan bisa segera membawa pria itu menemui Kaisar. Gong Sheng memliki plakat khusus yang diberikan langsung oleh kaisar Goryeo padanya. Plakat ini memiliki hak istimewa yang bisa membawa pemiliknya menemui Kaisar.


" Berhati-hatilah paman. Dan dengan ini anda bisa langsung menemui Kaisar begitu keluar dari celah." ujar Gong Sheng berpesan.


" Jangan khawatir. Aku juga memiiki hak khusus bertemu kaisar karena aku adalah adik tiri ibu mu. Kaisar juga memberiku hak khusus yang membuat ku memiliki beberapa kekuatan di Goryeo. " ujar paman tiri Gong Sheng.


" Berjanjilah pada paman bahwa kau akan menunggu paman datang membawa paman mu!!" ujar Xia Tian.


" Baik paman, aku berjanji akan bertahan bersama penduduk desa." Xia Tian segera pergi karena waktunya sangat mepet. Tapi mendengar bahwa keponakannya berjanji akan bertahan, memberikan kekuatan padanya untuk segera berjang.