The Great Princess of the Warlord

The Great Princess of the Warlord
bab 61



Feng Ai masih bingung dengan cerita yang telah disampaikan oleh paman dari suaminya. Feng Ai sendiri belum bisa menebak tempat yang dimaksud oleh paman Gong Sheng. Dan apa arti mimpinya tentang pria paruh baya itu.


Menyelidiki juga dia tidak bisa, sehingga Feng Ai hanya mampu menunggu suaminya menuntaskan penasarannya. Meski dia harus menunggu setidaknya beberapa hari ke depan, setidaknya rasa ingin tahunya terjawab.


Ketika malam tiba, Feng Ai yang baru keluar dari kamarnya menatap paman suaminya itu sedang memandangi langit malam yang dipenuhi bintang. Dari kejauhan, nampak kesedihan yang terpancar dari wajah pria paruh baya itu. Beberapa kali Feng Ai melihat tubuh pria paruh baya itu bergetar karena tidak mampu menahan kesedihannya.


Tak ingin dipandang aneh, Feng Ai bergegas mencari suaminya untuk mengatakan tentang pamannya yang sepertinya sedang merenungi kesedihan.


" Suami ku..." panggil Feng Ai ketika melihat suaminya berada sekitar lima belas langkah darinya.


" Iya Ai.." Gong Sheng mendekati sang istri.


" Saya melihat paman anda sedang berdiri di taman belakang. Sepertinya paman anda sedang tidak baik-baik saja. Apakah anda mau melihatnya?" ucap feng Ai mengatakan apa yang dilihatnya tadi.


" Aku akan kesana. Ai, tolong siapkan makan mala ya, kami akan menyusul." Gong Sheng berjalan ke arah taman belakang. Feng Ai masih terus menatap punggung dari suaminya sampai menghilang diujung lorong.


Feng Ai berjalan memasuki dalam kediaman ini, dan menuju ke tempat yang biasa digunakan untuk makan. Dia menyiapkan segala yang diperlukan, dari alat makan sampai bermacam hidangan yang di buat oleh para koki di kediaman ini.


Beberapa jenis makanan yang dia hidangkan, ada beberapa makanan yang Feng Ai tidak mengenalnya. Seperti bukan masakan yang biasa di hidangkan di Xili. Namun dia segera mengusir pemikiran yang tidak penting itu dan segera menyiapkan semuanya agar ketika suami dan pamannya datang, semuanya sudah selesai disiapkan.


Di taman belakang, Gong Sheng menemukan seperti apa yang dikatakan oleh sang istri tadi. Pamannya berdiri menatap langit dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sedikit banyak Gong Sheng tahu apa yang sedang dirasakan pamannya saat ini. Namun membantu pun terasa sia-sia karena penyesalan pamannya berada di beberapa tahun yang lalu. Gong Sheng pun juga belum lahir saat semua penyesalan pamannya ini dimulai.


Setelah melihat sang paman yang mulai tenang, Gong Sheng segera mendekat. Diusapnya punggung sang paman untuk sedikit membantu meringankan derita yang telah menggerogoti sang paman. Dia ingat saat pertama kali bertemu pamannya ketika dia diusir dari istana, pamannya sangat terlihat gagah dan begitu tampan. Sama halnya seperti ibunya yang pernah dia lihat wajah sang ibu di sebuah lukisan, saudara ibunya memang memiliki wajah yang rupawan. Namun yang disesalkan oleh Gong Sheng. Keadaan yang saat itu diketahui oleh sang paman, telah membuat pamannya berubah menjadi orang yang rapuh. Hari ini Gong Sheng masih melihat pamannya hidup setelah penyesalan yang menghancurkan dirinya, hanya karena Gong Sheng belum mewarisi tahta Goryeo.


Kim Yozu hanya memiliki tiga orang selir tanpa adanya ratu yang mendampinginya berada di tahta tertinggi Goryeo. Alasan yang membuat seluruh menteri dan keluarga besan istana diam dengan keputusannya adalah dengan Kim Yozu melemparkan kesalahan yang terjadi di istana hingga dia harus mengirim putri Goryeo ke Xili dan berakhir meninggal karena orang-orang Xili. Alasan ini sukses membungkam mereka semua sampai hari ini.


" Apa paman masih memikirkan kejadian puluhan tahun yang lalu?" tanya Gong Sheng sedikit menyindir sang paman.


" Satu lagi penyesalan ku Nak. Mempercayakan Jia Li pada feng Ying yang tidak bisa tegas pada wanita hingga pada akhirnya menyimpan ular berbisa di dalam rumah tangga mereka. Sekarang, wanita yang aku cintai itu pergi meninggalkan ku tanpa menguapkan salam perpisahan, sama seperti ibu mu. Mereka marah pada ku karena tidak mampu melindungi mereka hari itu." Gong Sheng terdiam mendengar ucapan sang paman.


Hari itu yang dimaksud Kim Yozu adalah hari dimana bagian dalam keluarga istana memperebutkan tahta raja setelah ayahanda dari Kim Yozu meninggal dunia. Saat itu usia Kim Yozu barulah delapan belas tahun. Masih terlalu muda untuk menerima tanggung jawab memimpin Goryeo.


Kandidat lainnya yang bisa duduk ditahta adalah keponakan raja terdahulu. Namun sifat dan sikapnya yang rendah itu membuat rakyat Goryeo menentang keponakan raja terdahulu itu naik tahta.


Selama berbulan-bulan Goryeo dalam keadaan memanas. Hingga hari itu tiba, hari dimana dengan kedua tangannya sendiri Kim Yozu mengantarkan adik dan tunangannya melewati perbatasan Goryeo dan Xili. Awal dari semua penderitaan dari dua anita yang paling dia ingin dilindungi di atas apapun.


" Anda tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu paman. Seharusnya anda bisa mencoba untuk memaafkan kesalahan anda dulu. Karena sejujurnya anda tidak bersalah dalam ini. Kedua wanita itu pergi karena memang suratan takdirnya harus begitu." Gong Sheng mencoba untuk membesarkan hati sang paman.


" Seandainya saat itu aku sudah memiliki kekuatan ku sendiri maka aku tidak akan pernah mengantarkan mereka kemari dan berakhir disakiti oleh manusia yang bernama pria. Aku terlalu lemah hingga mengantarkan wanita yang aku cintai menuju ke neraka dunia..." Kim Yozu kembali menangis.


Disudut suatu tempat tidak jauh dari Gong Sheng dan pamannya berbincang. Terlihat Feng Ai sedang berdiri kaku karena tidak sengaja mendengar pembicaraan dua pria berbeda generasi itu. Tentang Ibunya dan asal usulnya, lalu tentang sang ayah, dan terkahir tentang pria yang dipanggil paman oleh suaminya itu.


Jika isi kepalanya tidak salah menangkap maksud dari pembicaraan itu, berarti sang ibu bukanlah orang Xili, melainkan orang Goryeo sama seperti ibunda dari Gong Sheng. Dan pria paruh baya yang sejak dia kecil selalu mengisi pendengarannya karena sang ibu yang selalu menceritakan tentang pria paruh baya itu, rupanya adalah calon istri dari paman suaminya.


Dan fakta yang mengejutkan berikutnya adalah, paman Gong Sheng adalah seorang raja di Goryeo. Dari sinilah Feng ai tahu bahwa mimpinya bukan bunga tidur melainkan semburat cerita dimasa depan tentang dia dan juga Gong Sheng. Feng Ai pu menanti hari itu tiba.


" Suami ku.. Ajak paman masuk karena hidangan makan malam sudah siap." ajak Feng Ai mendekati suami dan pamannya setelah berhasil menguasai hati dan pikirannya.


" Benar paman, mari kita nikmati makanan kesukaan paman." ketiganya kemudian memasuki bagian dalam rumah untuk mulai menyantap hidangan makan malam merka.