
alana menghempaskan tubuh ryshaka dengan kasar ke atas ranjang
hati alana merasa sangat teriris hanya melihat noda lipstik di kemeja ryshaka meskipun alana sendiri belum tahu kejadian sebenarnya seperti apa namun siapapun wanita yang melihat ada noda lipstik di kemeja sang suami pasti tidak akan berpikiran baik-baik saja
"kamu urus saja sendiri aku mau kembali ke kamar" ucap alana dingin
"kenapa al?" tanya jonathan
"apa ini bagian dari menghormati klien kalian?" tunjuk alana pada noda lipstik di kemeja ryshaka
"kenapa ada noda lipstik di kemaja ryshaka?" batin jonathan seraya mengerutkan keningnya heran
"bisa kamu jelaskan jo?" tanya alana penuh penekanan
"ini tidak seperti yang kamu lihat al pasti semuanya hanya salah paham saja"
"wanita mana yang akan berpikir baik-baik di saat melihat ada noda lipstik wanita lain di kemeja suaminya sendiri jo" sentak alana dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca
"al percayalah ryshaka tidak pernah macam-macam di belakang kamu" mohon jonathan
"sudahlah aku sudah muak mendengar sandiwara kalian" ucap alana kemudian berlalu meninggalkan ryshaka dengan jonathan
"al percayalah" jo menahan langkah alana
"aku lelah jo dengan semua drama yang sudah terjadi dalam pernikahanku dengan ryshaka apalagi malam ini ryshaka benar-benar membuatku kecewa" lirih alana dengan deraian airmata yang membasahi kedua pipi mulusnya
sungguh jonathan merasa ikut bersalah melihat alana menangis karena kesalahpahaman ini jo menyesal kenapa dia tidak mencegah ryshaka untuk minum saat berada di club
dengan terpaksa malam ini jonathan menemani ryshaka tidur di kamar tamu biarlah esok jo akan menceritakan semuanya kepada ryshaka setelah dia benar-benar sadar tanpa pengaruh alkohol
sedangkan alana yang sudah sampai di kamarnya menumpahkan rasa kecewanya kepada ryshaka yang setahu alana ryshaka sudah bermain gila dengan wanita lain
alana memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak alana menangis dalan diam meratapi nasibnya yang selalu gagal dalam percintaannya
"kenapa kamu tega mengkhianati pernikahan kita ry, kenapa" lirih alana semakin terisak
pukul 10:00
ryshaka terbangun dari tidurnya, ryshaka kaget karena melihat jonathan yang tidur di sampingnya ryshaka memegang kepalanya yang masih terasa pusing akibat mabuk semalam
ryshaka melihat sekeliling kamarnya meras aneh karena dia tidur di kamar tamu bukan di kamarnya bersama alana
"jo bangun" ryshaka mengguncangkan tubuh jonathan agar terbangun
"aku masih ngantuk bun" gumam jonathan mengira bunda nya yang membangunkan tidurnya
"jonathan bangun" sentak ryshaka kesal
perlahan jonathan mulai membuka matanya, jo mengucek-ngucek matanya merasa kaget melihat ryshaka berada di sampingnya saat bangun tidur
"ry lu ngapain di kamar gue" ucap jonathan beringsut
"lu yang kenapa tidur di apartemen gue? dan kenapa gue tidur di kamar tamu bukan di kamar gue sendiri? istri gue mana?" ryshaka langsung memberondong banyak pertanyaan kepada jonathan
"astaga gue lupa bos, semalem gue gak tega ninggalin lu sendirian disini makanya gue nemenin lu tidur" sahut jo menyengir kuda
"alana mana? kenapa bukan dia yang ngurusin gue semalam?" tanya ryshaka lagi
"bini lu ngamuk" sahut jonathan
"why?" ucap ryshaka mengerutkan keningnya
"what??? kenapa ada noda lipstik di kemeja gue jo" tanya ryshaka heran
"itu yang gue gak ngerti padahal semalem kita gak deket-deket sama cewek kan, dan lu tahu semalem alana nangis ry dia ngira lu ada main dengan cewek lain muka alana keliatan kevewa banget sama lu" sahut jo
"sial" umpat ryshaka langsung berlari ke arah kamarnya di lantai atas
tanpa memperdulikan penampilannya yang masih berantakan dan masih tercium bau alkohol ryshaka langsung mengetuk pintu kamarnya berharap alana akan membuka pintu dan mendengarkan semua penjelasan darinya
ketukan yang tadinya pelan kini berubah menjadi gedoran karena alana tak kunjung membuka pintu kamarnya
"sayang aku mohon buka pintunya biarkan aku menjaskan semuanya kamu salah paham" teriak ryshaka dari balik pintu
alana seakan menulikan pendengarannya dari teriakan ryshaka yang terus berteriak memanggil namanya
ryshaka khawatir karena samar-samar mendengar suara alana yang sedang munta-muntah
"sayang kamu kenapa? biarkan aku masuk aku mohon" teriak ryshaka semakin kencang seperti orang kesetanan
meskipun alana merasa kepalanya sangat pusing dan mual alana tidak berniat untuk meminta bantuan kepada ryshaka, rasa kecewanya masih sangat kentara bayangan dimana ryshaka yang sedang bermain dengan wanita lain menari-nari dalam pikirannya
alana merasa ada yang aneh dengan tubuhnya kareba sudah tiga hari ini alana selalu mengalami mual dan pusing yang sangat hebat setiap pagi
"apa masuk anginnya semakin parah? ya Tuhan pusing sekali" ucap alana sembari memegangi kepalanya yang berdenyut dan serasa berputar-putar apalagi suara teriakan dan gedoran pintu membuat alana semakin pusing
"sayang buka pintunya atau aku di dobrak" lagi-lagi teriakan ryshaka mengganggu pendengaran alana
alana sama sekali tidak memperdulikan ryshaka yang terus memohon, alana memilih untuk menelfon nadia meminta bantuan sahabatnya untuk membawanya ke dokter
setelah mengakhiri obrolannya dengan nadia, alana segera mengganti pakaiannya dan sedikit memoles wajahnya yang terlihat pucat karena semua isi dalam perut alana sudah alana keluarkan
ryshaka semakin frustasi karena alana mengabaikan dirinya, badan ryshaka merosot di balik pintu kamar menyadari kebodohannya yang menerima tawaran pak hendro untuk minum malam tadi
dan sekarang ryshaka semakin terpojokkan karena ada noda lipstik di kemejanya untuk mengelakpun pasti alana tidak akan percaya alana pasti alana akan tetap mengira bahqa ryshaka ada main dengan wanita lain dan sudah di pastikan akan sulit untuk alana memaafkan kesalahan ryshaka yang satu ini kecuali ryshaka mempunyai bukti yang benar-benar nyata kalau ryshaka tidak pernah ada main dengan wanita lain
ceklek
terdengar suara pintu kamar di buka ryshaka langsung berdiri mencoba untuk bicara dengan alana namun di luar dugaan alana malah melewati ryshaka begitu saja seakan ryshaka tak terlihat di depan matanya
"sayang mau kemana?" tanya ryshaka karena meluhat alana yang sudah rapi dan bersiap untuk pergi
"sayang kamu baik-baik aja kan? aku denger tadi kamu muntah-muntah kita periksa ke dokter ya, aku khawatir" ajak ryshaka namun lagi-lagi alana mengabaikan ryshaka
"sayang aku mohon bicaralah, aku tahu aku salah aku minta maaf jangan mendiamkanku seperti ini, aku bisa jelaskan semuanya tidak seperti yang kamu kira percayalah aku tidak pernah ada main dengan wanita lain"
alana sama sekali tidak menjawab satupun ucapan ryshaka alana malah melengos melihat wajah ryshaka yang begitu membuatnya muak apalagi melihat noda lipstik yang masih sangat jelas terlihat di kemeja ryshaka ingin sekali rasanya alana menampar wajah ryshaka
"sayang dengarkan aku dulu" ryshaka menahan tangan alana saat alana akan turun ke lantai bawah namun alana hanya menatap ryshaka dengan sorot mata penuh amarah den melepaskan tangan ryshaka tanpa bicara sepatah katapun
"aku tidak mengijinkan kamu pergi" ucap ryshaka saat alana hendak membuka pintu untuk pergi
"mau kamu apa?" tanya alana dengan ekspresi wajahnya yang begitu dingin
"aku mau kita bicara dengarkan semua penjelasan aku dulu, kamu gak bisa ngambil kesimpulan kamu sendiri sebelum mendengar apa yang sebenarnya terjadi" jawab ryshaka
"aku tidak ingin hidup dengan seorang pemabuk apalagi seorang pengkhianat" ucap alana kemudian pergi begitu saja tanpa memperdulikan ryshaka yang melarangnya untuk pergi
"aaarrggghhhhh Sial....." umpat ryshaka meremas rambutnya frustasi