Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 24



“Huekkk…,” Salsa tidak jadi duduk dan malah berlari kea rah kamar mandi.


Sejak kemarin dia ingin muntah dan tidak enak badan. Benar-benar rasanya tidak enak sekali karena makan apapun pun Salsa jadi harus kembali mengeluarkannya. Berapa menit sekali, Salsa tidak bisa mencium aroma makanan yang menyengat hidungnya dan dia lebih sensitif pada bau-bau yang entah bagaimana membuatnya ingin muntah.


“Sa, kau baik-baik saja?” tanya Yoga langsung ikut berlari mengejar Salsa ke kamar mandi.


Begitu melihat Salsa sedang memuntahkan makanannya. Yoga langsung memijat tengkuk Salsa. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Yoga. “Kita ke rumah sakit saja bagaimana? Aku khawatir karena kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.”


Salsa mencuci mulutnya lalu membalikkan tubuhnya pada Yoga. Tiba-tiba saja dia memeluk tubuh Toga. “Kita ke rumah sakit ya,” ucap Yoga mengusap rambut Salsa lembut. Namun pertanyaan Yoga tidak dijawab dan Yoga malah merasakan tubuh Salsa yang melemas.


“Sa,” Yoga menggoyangkan tubuh Salsa. “Salsa,” Yoga sedikit mendorong tubuh Salsa untuk melihat adik sepupunya itu dan ternyata Salsa tidak sadarkan diri.


Yoga pun segera mengangkat tubuh Salsa. Dia harus ke rumah sakit sekarang juga.


……………………………………………………


“Bagaimana Dok keadaanya?” tanya Yoga begitu sang Dokter yang memeriksa Salsa keluar dari ruangan.


Dokter itu tersenyum. Dia menepuk bahu Yoga membuat Yoga tidak mengerti kenapa Dokter itu tersenyum bukan malah sebaliknya.


“Selamat, istri anda sedang mengandung. Jika anda ingin tahu lebih jelas. Anda bisa ke Dokter kandungan.”


Bagai petir yang menyambar Yoga langsung ke tubuh. Dokternya pasti tidak salah mengatakannya kan?


“Selamat sekali lagi. Saya permisi,” kata sang Dokter berlalu membuat Yoga berjalan ke arah ruangan Salsa dengan bayangan yang mengerikan. Hamil tanpa seorang suami? Adik sepupunya tidak mungkin melakukan ini kan? Ini pasti mimpi.


“Yoga, ada apa?” tanya Salsa yang baru saja siuman. Dia memegang kepalanya dan menarik sedikit tubuhnya agar bisa bersandar. “Apa yang dikatakan Dokter?” tanya Salsa lagi.


Yoga pun melirik ke arah Salsa. “Kau…,” Yoga tidak tahu harus mengatakan seperti apa berita ini, tapi yang jelas dia harus memberitahu Salsa.


“Kau hamil,” kata Yoga dan wajah Salsa sangat menunjukkan keterkejutannya.


“Katakan padaku siapa yang melakukannya?” kata Yoga tidak dengan nada yang marah, tapi juga tidak dengan nada yang lembut. Yoga sangat menyesal kenapa dia tidak bisa menjadi kakak yang menjaga adiknya. Dia sungguh kakak yang tidak bisa diandalkan.


“Apakah pria yang memberikan tumpangan apartemen itu?” tanya Yoga dan Salsa terlihat menitihkan air matanya. Dia menggelengkan kepalanya.


“Aku…,” bibir Salsa bergetar. “Aku tidak bisa mengatakannya, tapi bukan dia. Dia sangat baik padaku.” Kata Salsa, tapi bagaimana Yoga bisa percaya. Sementara Salsa tidak punya kenalan laki-laki selain pria apartemen itu, Yoga dan…,


Mata Yoga langsung membulat. “Pria itu baik padamu? Lalu apakah yang melakukannya, pria yang menjahatimu?”


Salsa terdiam. Dia masih meneteskan ai matanya. Mengusapnya satu persatu yang terjatuh di pipinya. Dia sungguh tak sanggup menjawab pertanyaan Yoga.


“Kalau memang begitu. Itu berarti Andrian-lah yang melakukannya.” Isak tangis Salsa semakin keras. Yoga langsung menarik Salsa ke dalam pelukannya.


“Semua terjadi begitu saja. Aku juga tidak bisa menyalahkannya karena ini semua terjadi atas ketidakinginan kami berdua.” Kata Salsa dan Yoga mengelus punggung tubuh Salsa untuk menenangkan.


“Meskipun itu bukan keinginan kalian. Tidak sepantasnya dia membuatmu keluar dari rumah.”


“Dia tidak membuatku keluar dari rumah, Yoga. Aku lah yang menginginkannya.” Bagi Yoga inilah diri Salsa yang sangat mencintai majikannya itu. Sejak dulu, Yoga tahu adik sepupunya itu memang mencintai Andrian dan sampai kapan pun hal itu tidak akan berubah. Yoga tetap tidak akan bisa menjadi orang yang Salsa cintai.


Yoga menggelengkan kepalanya. “Dia tetap harus tanggung jawab atas apa yang terjadi. Kandunganmu butuh seorang Ayah.” Ucap Yoga. Bahkan kalau dia boleh menjadi ayah bagi bayi Salsa. Dia pasti akan melakukannya, tapi apa kata anaknya kelak? Dia pasti akan membenci ayah kandungnya sendiri.


“Tidak apa, aku bisa menjaganya sendiri.” Kata Salsa melepas pelukan Yoga lalu mengelus lembut perutnya sendiri. “Aku jadi punya keluarga baru. Aku tidak lagi sendiri,” ungkap Salsa kali ini lebih terlihat seperti menangis bahagia.


“Yasudah beristirahatlah. Aku akan di sini sampai nanti malam lalu kita pulang jika sudah diperbolehkan.”


……………………………………………………


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^