Secret Marriage

Secret Marriage
EXTRA PART



Then finally aku tambahin extra part nihh yuhu~ ENJOY^^


**SALSA POV **


Aku tertawa pelan ketika Yoga bingung mengatasi amarah Nayla karena semalam tidak pulang. Padahal Yoga sudah menjelaskan bahwa pekerjaannya akhir-akhir ini sangat banyak. Sementara aku bangga pada suamiku yang sudah mengajarkan Yoga mengenai dunia bisnis yang mereka garap.


“Ya namanya juga lagi hamil. Ibu hamil kan memang tidak bisa dikontrol emosinya,” kataku pada Yoga.


Pria itu pun memanyunkan bibirnya. Dia langsung kembali merajuk istrinya bahkan hingga bersimpuh di depan Nayla.


“Aku janji deh minggu ini kita jalan-jalan keluar bersama. Kamu mau ke mana? Pantai? Berenang? Atau makan lagi yang banyak?”


“Apa? Makan yang banyak? Jadi kamu pikir aku suka makan yang banyak? Ohh pantas aja kamu enggak mau pulang semalam. Kamu menghindariku kan karena aku semakin gendut!” kata Nayla sungguh tak kuasa membuatku ingin tertawa.


Aku langsung kabur menuju ruang renang di mana Mas Andrian sedang sibuk dengan Raja. Suamiku sedang mengajari anakku berenang dan aku gemas dibuatnya.


“Gimana Mas?” tanyaku.


“Lihat, dia senang sekali, Sayang,” kata Mas Andrian seraya mengembangkan senyumnya. Aku pun ikut tersenyum, tapi juga khawatir karena sepertinya Raja mulai menggigil.


“Mas udah yuk! Raja mulai menggigil tuh! Ayo cepat naik!” kataku lalu Mas Andrian perlahan mengangkat tubuh Raja ke arahku.


Aku pun segera menangkapnya dan mencari handuk untuk bayiku yang baru berumur 9 bulan. Sebentar lagi, Nayla pun akan lahiran. Raja akhirnya akan punya teman bermain dan pastinya akan seru sekali.


“Bagamaina dengan Yoga? Apa yang dia katakan setelah tahu Nayla kabur dari rumah?” tanya Mas Andrian menyusulku duduk di bangku pinggir kolam.


Aku kembali meminta Mas Andrian menggedong Raja setelah kubalut dengan handuk tebal. Lalu kini bergantian aku membalut tubuh suamiku dengan handuk dan mengeringkan rambutnya.


“Iyah dia khawatir banget. Sekarang lagi merajuk tuh di depan TV,” kataku dan Andrian terkekeh pelan.


“Kalau nanti kamu hamil lagi, kira-kira kamu bakal seperti Nayla gak ya?”


“Hishh, aku enggak mau hamil dulu lagi, Mas! Sakit kontraksi dan mengeluarkannya gak main-main loh!” kataku kesal lalu memukul punggung suamiku dengan keras.


“Aww! Aku kan cuma ngomong aja, Sayang. Aku enggak minta cepat juga kok. Kita kan udha KB. Nanti kalau Raja udah umur 4 tahun, kita bikin lagi ya!”


“Iyahh, Mas. Aku mau fokus dengan Raja dulu. Lagi pula, aku juga pengen bisa luangin waktuku untumu Mas. Kita lama enggak pacaran,” kataku dengan malu-malu dan respon Mas Andrian tentu saja selalu nakal.


Dia menarikku ke atas pangkuannya membuat bajuku ikut basah. Lalu dia memeluk kami berdua dengan wajah bahagianya.


“Kamu benar. Ayo kita pacarana lagi. Kira-kira nanti malam enaknya ke mana ya? Nanti malam kan malam minggu.”


“Ke pasar malam atau ke hotel?” tanya Mas Andrian dengan kedipan matanya.


Uh dasar nakal!


“Uhh anak Papa lapar ya,” kata Andrian mengelus lembut pipi Raja.


“Mas, gimana kalau nonton film dan cari stoller untuk Raja. Katanya kamu mau beliin tapi belum jadi-jadi.”


“Oh iya, yaudah kita nonton aja dan besok kita jadi kan jenguk Oka?”


Aku mengangguk pelan. “Aku juga udah siapin beberapa makanan kesukaannya, Mas,” ucapku lalu kami masuk ke dalam rumah menuju kamar.


“Mas aku mau ambil air hangat dulu ya buat Raja. Tolong jaga sebentar,” ucapku.


Aku barikangkan Raja di atas ranjang dan melepaskan ASI-ku. Dia mulai nampak menangis, tapi kembali tersenyum ketika Mas Andrian membunyikan bebek mainan kesukaannya.


“Ehh enggak boleh nangis dong. Mama mau ambil air hangat dulu ya buat Raja,” aku dengar interaksi Mas Andrian.


Jika mengingat Oka, kami memang beberapa kali sudah menjenguknya. Meski dia sudah membunuh ke dua orang tua suamiku, tapi dia juga sudah banyak membantuku maupun Mas Andrian. Jika saja dia tidak mengakui kesalahannya dan membantu kami mengungkapkan kejahatan Aurel, mungkin hingga saat ini kami masih berada di dalam bahaya.


Sementara keadaan Aurel sekarang… dia melakukan percobaan bunuh diri di sel tahanan, tapi beruntung tim medis siaga menolongnya. Hanya saja, akhirnya mentalnya terganggu dan terpaksa dibawa ke rumah sakit jiwa. Ketika aku beritahu kabar ini pada Oka. Pria itu nampak begitu sangat sedih. Bagaimana pun juga, aku tahu sekali kalau Oka sangat mencintainya. Sayang, Aurel menyia-nyiakan perasaan Oka yang tulus.


Aku selesai dengan air hangat dan juga handuk kecil yang aku siapkan. Ketika aku kembali ke dalam kamar, Mas Andrian sudah melepaskan baju Raja dan bernyanti-nyanyi membuat Raja bicara tak keruan.


“Ayo, Sayang! Kita mandi!” kataku menyiapkan alas di atas ranjangku supaya tidak basah.


Lalu menaruh air hangat diatas lantai agar Raja tidak menendangnya karena dia benar-benar sangat aktif. Aku sangat bersyukur karena sejak lahir, Raja benar-benar tidak mudah rewel. Sekalipun menangis, aku dan Mas Andrian bisa mengatasinya dengan mudah.


“Mama, Papa juga mau dimandiin ya habis Raja,” bisik Mas Andrian di telingaku membuatku sangat geli mendengarnya.


“Mas, menjijikkan!” aku memukul punggungnya dan Mas Andrian langsung berlari ke dalam kamar mandi.


“Aku tunggu ya! Jangan lama-lama! Titipkan Raja sebentar ke pasangan yang sedang berantem itu!”


“Ishhh dasar! Gak janji! Udah sana mandi aja!”


“Enggak mau, aku mau berendam sama kamu!” teriaknya lagi sebelum akhirnya pintu kamar mandi tertutup.


Aku hanya menggelengkan kepalaku tersenyum. Dia tidak pernah berubah kebiasaannya itu.


 


END


Jangan lupa like dan komennya^^ Jangan lupa baca karyaku lainnya^^