Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 29



“Aku bisa menjaganya sendiri jika ini di luar ekspektasimu, Mas. Mungkin Tuhan berbaik hati mengirimkanku hadiah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Jika kau sudah selesai, silakan keluar dari apartemen ini. Aku ingin istirahat.” Kata Salsa lalu bangkit dari bangku yang dia duduki menuju kamarnya. Dia menutupnya rapat-rapat dan…, air matanya tidak bisa dibendung lagi.


Salsa tahu mengapa Andrian datang ke sini. Dia bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan hanya anaknya. Salsa yakin kalau Andrian pasti senang kalau dirinya tidak mandul. Salsa juga yakin dipikiran Andrian jika saja dia tahu bahwa dirinya tidak mandul. Kejadian pada waktu itu pasti tidak akan dia lakukan dan karena dia tahu, dia mandul maka dia sengaja merebut mahkota berharga milik Salsa. Dia sungguh brengsek!


“Salsa, aku pulang. Aku akan menemuimu lagi lusa.” Mendengar itu Salsa langsung membuka pintu kamarnya.


Dia lihat tubuh Andrian yang sudah berbalik membelakanginya dan tak bergerak ketika mendengar suara pintu kamar terbuka.


“To-long, jangan te-muiku lagi. “ Suara Salsa terdengar sesenggukan. “A-aku i-ingin bahagia. Aku ingin memulai semuanya dari awal dengan orang lain yang mencintaiku bukan yang membuangku.” Mendengar itu hati Andrian terasa sesak. Andrian ingin membalikkan badannya, tapi Salsa lebih dulu menutupnya. Andrian ingat kalau tempo lalu Andrian mengusir Salsa untuk pergi dari rumahnya. Dia sadar, dia menyesal dan dia ingin sekali mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Dia ingin memperbaiki semuanya.


 


“Maaf aku mengganggumu,” kata Andrian lalu kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu.


Dia tidak tahu harus memutuskan seperti apa. Apakah dia sungguh harus membiarkan Salsa menemukan kebahagiaannya? Apakah dia harus melupakan anak yang dikandungnya kemudian menikah dengan Aurel dan memiliki anak dari rahimnya, tapi…, hati Andrian masih tidak bisa menerimanya. Dia ingin sekali bisa memeluk Salsa dan mengatakan kalau dia…,


Andrian menggelengkan kepalanya. Tidak! Ini tidak benar! Perasaan ini pasti hanya karena dia bahagia tidak mandul. Andrian kembali meyakinkan hatinya kalau dia hanya mencintai Aurel, kekasihnya.


………………………………………………………


Wicaksono mendapat kabar kalau Aurel sedang membuat rencana untuk membunuh dirinya dan juga Lina. Sungguh dia tidak menyangka kalau wanita ular itu akan melakukan perbuatannya sejauh itu.


“Kamu mikirin apa sih, Mas? Dari tadi aku nyariin kamu,” kata Lina pada Wicaksono yang berada di teras rumahnya.


“Ohh enggak apa-apa. Ada apa?” tanya Wicaksono.


“Yoga bilang, Salsa tidak mau kembali ke rumah. Apa harus kita yang datang ke sana Mas untuk membujuknya. Aku khawatir Mas, bagaimana pun juga dia sudah aku anggap anak sendiri. Meskipun nanti itu bukan cucu kita. Aku akan senang bayinya tinggal di sini. Setidaknya sebelum aku meninggal, aku bisa merasakan menggendong cucu.”


“Aku tetap akan memaksa Andrian untuk menikahi Salsa. Tidak peduli siapa Ayahnya. Mereka harus menikah secepatnya,” kata Wicaksono membuat Lina terbelalak, tapi dia sungguh setuju dengan itu.


“Aku setuju Mas. Dibandingkan Andrian menikah dengan wanita yang tempo lalu dia bawa. Aku tidak suka karena senyumnya yang palsu. Aku lebih suka anakku bersanding dengan Salsa. Mereka sangat cocok ketika bersama.” Ucap Lina sungguh bersemangat.


“Apa sekarang saja kita ke sana?” tanya Lina. “Tapi Yoga bilang kemarin Andrian habis ke sana. Salsa agak terlihat stress setelah bertemunya.”


Wicaksono pun menatap Lina. Dia tidak menyangka anaknya akan se-gentle itu untuk datang ke Salsa. Meski dia tidak tahu apa yang Andrian bicarakan dengan Salsa, tapi bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Andrian tidak akan melakukan sesuatu yang tidak wajar kan? Seperti menyuruh menggugurkan kandungannya. Andrian tidak mungkin melakukan itu. Apalagi setelah dia tahu bahwa dirinya tidak mandul. Oh ya benar juga bagaimana dengan hasil itu?


“Bukankah Andrian sudah periksa kembali ke rumah sakit? Bagaimana hasilnya? Apakah dia sungguh mandul? Rasanya aku tidak percaya keluarga kita punya kekurangan seperti itu.”


Lina menganggukkan kepalanya. “Aku juga tidak percaya, tapi aku belum sempat bertanya lagi.”


“Yasudah besok saja kita ke tempat Salsa setelah tahu hasil dari Andrian.”


“Yasudahlah,” kata Lina lalu kembali masuk ke dalam rumah sementara Wicaksono kembali memikirkan bagaimana mengelabui Aurel dan menjelaskan pada anaknya bahwa Aurel adalah ular berbisa.


………………………………………


 


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^