Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 56



Salsa memegangi perutnya yang terasa lapar. Seseorang pun langsung menghampirinya begitu Salsa berusaha bangun dari baringannya.


“Kau sudah sadar?” tanya Gilang pada Salsa.


Salsa pun melihat ke sekitarnya. Dia tidak tahu sedang ada di mana. Tempatnya sangat asing dan begitu usang menurut Salsa.


“A…, aku di mana?” tanya Salsa pada Gilang. Gilang pun memberikan air hangat pada Salsa lalu membiarkan Salsa meminumnya hingga habis karena di perjalanan tadi Salsa pingsan.


“Ini rumahku di Jawa Timur memang cukup pelosok, tapi ini bukan ujungnya Indonesia,” kata Gilang seraya terkekeh hanya ingin menenangkan Salsa.


Salsa pun menghela nafasnya. “Bagaimana dengan Mas Andrian?” tanya Salsa pada Gilang yang jelas saja dia pun tidak tahu.


“Aku tidak tahu karena di sini pun sangat sulit sinyal. Kalaupun kita mau kembali. Aku tidak yakin kalau saat ini sudah aman. Bagaimana kalau sementara kau tinggal di sini dulu. Memang di sini tidak menjamin Bu Aurel tidak menemukanmu, tapi setidaknya kau tidak berada di dekatnya saat ini. Mereka pasti butuh waktu untuk melacak tempat ini.” kata Gilang dan Salsa pun menganggukkan kepalanya.


Sebenarnya dia sangat khawatir dengan keadaan suaminya, tapi apa boleh buat. Aurel sangat mengincarnya, bahkan Salsa yakin Aurel bukan hanya mengincar dirinya, tapi janinnya juga. Mungkin untuk sementara ini, Salsa lebih baik tinggal di sini saja dulu.


“Nak,” sedang melamun, Salsa tiba-tiba mendengar suara ibu-ibu yang mendekatinya.


“Kau pasti lapar.” Kata ibu itu dan Salsa melirik ke arah Gilang yang tersenyum ke arahnya.


“Ini ibuku dan Ibu, dia temanku bekerja.” Kata Gilang pada ibunya dan Salsa. Mereka pun saling menyapa.


“Ibu akan membawakan makanan, sebentar ya, Nak,” kata ibunya Gilang seraya meninggalkan Salsa bersama Gilang kembali.


Gilang pun duduk di sisi Salsa. Dirinya menatap perut Salsa yang semakin membuncit dan bajunya terlihat sudah tidak muat. “Kau tidak apa-apa?” tanya Gilang. “Tadi kau sempat pingsan.”


Salsa pun menganggukkan kepalanya. “Tidak apa-apa, aku agak sedikit terkejut saja karena baru kali ini menghadapi hal-hal yang menakutkan seperti tadi.”


Gilang pun tersenyum. “Itulah resiko menjadi istri simpanan.” Mendengar itu Salsa pun melotot ke arah Gilang. Dia tidak suka dirinya dituduh sebagai istri simpanan karena jelas-jelas Salsa adalah istri pertama Andrian.


Gilang sedikit kaget mendengarnya, tapi dia berusaha untuk tidak begitu menampakkannya. “Sebenarnya, aku sedikit kecewa ketika tahu kalian ternyata suami-istri, tapi apa boleh buat,” kata Gilang mengangkat bahunya. “Mungkin akan ada waktunya, aku kembali bertemu dengan wanita secantik, selembut dan sebaik dirimu,” kata Gilang membuat Salsa terkekeh karena setelah kejadian menegangkan tadi. Bisa-bisanya Gilang menggombal saat seperti ini, tapi seandainya saja Andrian melihatnya, Salsa yakin kalau Gilang pasti akan mendapatkan pukulan dari suaminya itu.


“Maaf,” kata Salsa menundukkan kepalanya.


Gilang pun berdiri dari sisi Salsa terkejut mendengar permintaan Salsa. “Tidak, tidak, aku tidak berharap kau membalas perasaanku. Aku hanya mengungkapkannya saja,” kata Gilang, tapi maksud Salsa bukan itu.


“Aku ingin minta maaf kejadian kemarin malam. Mas Andrian memang terkadang suka posesif, pencemburu dan pemarah,” kata Salsa seraya membayangkan wajah suaminya. Oh, sungguh dia merindukan Andrian.


Gilang pun perlahan kembali duduk di samping Salsa. “Ohh itu, wajar saja, dia pasti sangat mencintaimu,” ucap Gilang dan Salsa pun melirik ke arah Gilang seraya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


“Dia mengatakan padaku kalau dia sangat mencintaiku,” kata Salsa membuat Gilang sedikit patah hati, tapi baru kali ini dia merasa tersentuh dengan kisah cinta mereka. Antara pembantu dan majikan. Bagi Gilang, mereka saling melengkapi dan saling beruntung mendapatkan satu sama lain.


“Ini makanannya,” Ibu Gilang kembali membawa nampan berisi makanan yang aromanya sangat menggiurkan. “Ayo makan dulu, Nak.” Kata Ibu Gilang pada Salsa.


“Kamu juga makan dulu sana dan istirahat. Biar Salsa ibu saja yang jagain,” katanya dan Gilang pun menganggukkan kepalanya.


“Aku tinggal ya,” ucap Gilang pada Salsa seraya meninggalkan kamar.


******


lanjutt, aku update 4 bab ya heheh karena lama gak up