
“Kalau begitu ayo temani aku makan. Aku masih lapar,” kata Andrian berbohong, tapi apa boleh buat, dia tidak akan membuat makanan buatan Salsa terbuang sia-sia.
Salsa pun menganggukkan kepalanya senang. Setidaknya, meskipun Aurel sudah berhasil makan bersama di luar, dirinya pun berhasil makan bersama di ruang makan.
Andrian memperhatikan istrinya yang berjalan ke arah dapur. Menurutnya, baju Salsa sudah terlihat kekecilan karena semakin hari, perut Salsa membuncit. Terlihat sekali jika Salsa tidak begitu nyaman memakainya.
“Bajumu sudah sempit ya? Bagaimana kalau kau besok belanja?” tanya Andrian membuat Salsa yang sedang menaruh fettucini di piring terdiam.
“Tidak usah, Mas. Aku masih ada baju yang lainnya kok.” Jawab Salsa lalu memberikan piring yang sudah berisi fettucini untuk suaminya dan dia pun mengisi piring lagi untuk dirinya.
“Kalau begitu biar aku saja yang beli.” Kata Andrian seraya mencoba fettucini buatan Salsa.
Sebenarnya dia sudah sangat kenyang. Bahkan sekarang dia terlihat ingin muntah karena terlalu banyak memakan keju. Dia memang suka fettucini, tapi jika terlalu banyak pun rasanya ingin muntah.
“Terserah Mas aja,” kata Salsa bergabung dengan Andrian di meja makan dan Andrian terlihat melirik ke arah Salsa.
“Bagaimana?” tanya Salsa ikut membalas tatapan suaminya. “Enak tidak?” tanya Salsa lagi.
Andrian pun tersenyum seraya mengangguk. Bahkan terpaksa dia harus memakan fettucini itu meski ingin muntah. Andrian pun mengangkat ibu jarinya ke arah Salsa, tapi Salsa sepertinya tahu kalau Andrian tidak benar-benar ingin memakan fettucininya.
Salsa pun terdiam. Dia akhirnya mengambil piring Andrian membuat Andrian hanya bisa melihat gerakan tangan Salsa yang memindahkan fettucini miliknya bercampur dengan milik Salsa.
“Maaf aku lupa memberitahumu kalau kita makan malam di luar.” Ucap Andrian menyesal. Dia sungguh tidak tahu kalau istrinya pun akan masak makanan kesukaannya. Selama 5 tahun setelah hubungan mereka merenggang pun Andrian tidak pernah menyimpan nomer HP Salsa. Jadi, dia sama sekali tidak tahu harus bagaimana menghubungi istrinya.
“Besok aku janji, kita akan malam bersama.” Kata Andrian meraih tangan istrinya. “Aku akan pulang lebih cepat dan Aurel besok akan ada perjalanan bisnis ke luar negeri 5 hari. Kita punya waktu yang banyak.” Kata Andrian dan Salsa mengangguk seraya tersenyum.
Salsa pun menepuk punggung tangan suaminya dengan lembut. “Sekarang istirahatlah, aku tahu kamu lelah, Mas.” Ungkap Salsa dan Andrian menatap dalam-dalam mata istrinya. Dia baru saja melihat istrinya lagi setelah tadi pagi dia harus pergi ke kantor. Rasanya ingin berlama-lama mencium atau bahkan memeluk istrinya, tapi Salsa benar kalau dirinya sangat lelah karena ada beberapa masalah di kantornya.
Andrian mengangguk pelan dan mencium punggung tangan Salsa. “Aku istirahat, kau juga setelah makan langsung istirahat ya,” perintah Andrian dan Salsa mengangguk.
Sekali lagi Andrian menatap wajah istrinya. Dia ingin sekali menciumnya, tapi mengingat ciuman pertama mereka tempo lalu. Andrian tidak mau membuat kecanggungan lagi di antara mereka.
“Aku tinggal,” ungkap Andrian dan Salsa hanya bisa melihat kepergian Andrian dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.
Dia harus kuat, dia harus kuat melewati semuanya. Ini belum seberapa, mungkin akan ada hal yang menyesakkan lagi lebih dari ini. Melihat suaminya bermesraan, makan malam bahkan tidur bersama dengan orang lain memang sangat berat, tapi inilah hidup. Salsa sudah memilih dan inilah hasil pilihannya. Dia tidak bisa bercinta, makan malam bahkan tidur bersama suaminya. Entah sampai kapan.
………………………………………………………………
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA