Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 32



“Mas,” suara Salsa. Dia tidak pernah melihat Andrian seperti ini sebelumnya. Meskipun terkadang Andrian terlihat seperti apatis, tapi sebenarnya anak ini sangat sayang pada keluarganya.


“Aku akan segera mencari siapa pelakunya! Sungguh mereka tidak punya kemanusiaan! Apa salah keluargaku?!” Andrian semakin terisak. Salsa tidak tega melihatnya hingga kini Salsa ikut duduk di atas lantai dan meraih tubuh ayah dari bayinya.


“Aku sudah pernah merasakan kehilangan orangtua dan seperti inilah rasanya. Dunia terasa berhenti dan seakan-akan tak memihak pada kebahagiaan yang kita inginkan,” kata Salsa kali ini membiarkan Andrian memeluknya. Dia ingin sekali menenangkan hati Andrian yang pasti sedang tidak keruan karena melihat keluarganya bersimbah darah di rumah mereka.


“Keluarga Bu Lina?” suara seorang suster membuat Salsa melepaskan pelukannya dan Andrian segera berdiri menghampiri suster tersebut.


“Saya anaknya.” Ucap Andrian.


Seorang Dokter pun keluar dan memegang punggung Andrian perlahan. “Mohon maaf, dengan berat hati saya harus mengatakan ini. Kami semua sudah berusaha yang terbaik untu Bu Lina, tapi Bu Lina tidak tertolong. Terakhir kali dia sadar, saya kira pasien bisa tertolong, tapi ternyata detak jantungnya sangat lemah. Sebelum Bu Lina meninggal, dia mengatakan buku kecil. Mungkin itu yang ingin dia sampaikan pada keluarganya.”


Andrian tidak tahu harus berkata apa lagi. Mungkin benar yang apa Salsa katakan. Dunia memang sedang tak berpihak padanya hari ini. Hari ini dia harus kehilangan ibu yang selama ini menjaga dan merawatnya sejak kecil.


“Semoga keluarga ditabahkan. Saya permisi,” ucap Dokter tersebut dan belum selesai Andrian menyerap apa yang Dokter tadi katakan. Seorang suster di samping ruangan ibunya memanggil Andrian.


“Mas Andrian?” tanya seorang suster.


Andrian hanya menganggukkan kepalanya. “Pasien memanggil,” kata suster tersebut dan Andrian seakan kalang kabut langsung berlari ke dalam ruangan.


Salsa terdiam hanya menyaksikan semua yang terjadi malam ini. Sungguh miris sekali Andrian harus kehilangan Ibunya, Adiknya koma dan ayahnya…,


………………………………………………………………


Ya…, Wicaksono meminta Andrian menikahi Salsa pada saat itu juga. Berbekal menikah seadanya, mereka memang dikatakan menikah dengan sah dalam kata lain Wicaksono sebagai ayah sudah menjadi wali atas pernikahan anaknya. Hanya saja pernikahan mereka tetap harus didaftarkan agar tercatat bahwa mereka sudah menikah secara sah. Cita-cita Wicaksono yang ingin melihat anaknya menikah dengan wanita yang dia inginkan sungguh tercapai, cita-cita Wicaksono yang ingin menikahkan anaknya semasih dia hidup pun tercapai.


Andrian mengingat kata-kata wicaksono kemarin, “Ini hari yang indah, Nak.” Sudah lama Andrian tidak mendengar panggilan itu. “Papa akan tenang di alam sana karena melihat kalian sudah menikah dan Papa-lah yang menikahkan kalian. Berbahagialah, nikmati hidup ini dan cintai-lah pasanganmu,” ucap Wicaksono terakhir kalinya pada Andrian dan Salsa tepat berada di sebelahnya.


Lalu untuk beberapa menit kemudian Wicaksono masih nampak sadar, tapi denyut nadinya pun ikut melemah. Andrian dan Salsa diminta keluar hingga kabar duka dari ke dua orangtuanya tiba untuk membuat Andrian menangis semalaman.


“Aku harus kembali ke rumah sakit,” kata Yoga pada Andrian. Namun Andrian tak menanggapinya. Dia masih melamun di depan makam orangtuanya.


“Aku akan memesan taxi,” kata Salsa dan Yoga menganggukkan kepalanya.


Salsa sendiri tahu kalau ini adalah keputusan yang cukup berat untuk hidupnya. Awalnya dia juga tidak percaya Wicaksono akan menikahinya dengan Andrian, tapi dia tidak menolaknya karena keadaan Wicaksono yang sekarat sungguh membuat Andrian pun berharap Salsa mau mengabulkan permintaan orangtuanya. Bagaimana pun juga Salsa tidak akan tega membiarkan Wicaksono meninggal dunia tanpa kebahagiaan.


“Mas ayo kita pulang,” ajak Salsa menggenggam tangan Andrian, meminta Andrian agar bangun dan beranjak dari makam orangtuanya.


Andrian pun masih terasa seperti tak bisa meninggalkannya, tapi dia mengikuti Salsa yang menggenggam tangannya erat. Mereka pun meninggalkan makam Lina da Wicaksono dengan beribu kesedihan.


.................................


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^