Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 61



Setelah mereka sarapan pagi. Andrian pun meminta Salsa untuk duduk di sofa ruang TV. Andrian menyalakan TV dan menjatuhkan kepalanya di atas paha istrinya. Namun sebelumnya Andrian mencium perut Salsa yang cukup besar.


“Kita gak ada persiapan apapun untuk anak kita. Besok kan kita akan ke rumah sakit menjenguk Nayla. Bagaimana kalau sekalian melihat jenis kelamin anak kita?”


Salsa mengelus rambut suaminya. Dia menggelengkan kepalanya. “Aku mau jadi kejutan aja, Mas.”


Andrian pun mengelus lembut perut istrinya lalu menciumnya lagi. “Aku benar-benar sudah tidak sabar. Kira-kira berapa lama lagi ya lahirannya.”


“Waktu aku di Jawa Timur bersama Ibunya Gilang, sebenarnya aku sempat ke puskesmas memeriksa kandungan karena aku sempat sakit dan takut bayi kita kenapa-kenapa juga.”


“Benarkah?” Andrian langsung bangun dari baringannya. “Kamu sakit apa?” tanya Andrian sangat ingin tahu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Salsa bisa melewatinya tanpa ada dirinya di sisi Salsa.


“Gak apa Mas, dokternya bilang hanya demam biasa. Aku kan sudah bilang, aku tidak terbiasa dengan udara yang baru saja aku tempati. Nah, malam itu aku demam lagi seperti pertama kali aku tinggal di rumah ini.”


Andrian pun menarik Salsa ke pelukannya. “Andai saja aku cepat menemukanmu. Kamu pasti tidak akan melalui hal-hal yang tidak enak lagi karena diriku.” Andrian tidak bisa berbohong kalau hatinya cukup sedih. Dia tidak ingin Salsa melalui hal-hal seperti itu lagi tanpa ada dirinya.


“Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk kita, Mas. Perkiraan, bayi kita akan lahir sebulan lagi dan aku ingin kamu ada di sisiku.”


Andrian menganggukkan kepalanya. “Pasti,” kata Andrian lalu mengecup kening Salsa. “Aku pasti akan ada di sisimu ketika anak kita lahir.” Kata Andiran dan Salsa mengecup bibir Andrian membuat Andrian terkejut karena Salsa mulai berani memulainya.


“Terima kasih,” ucap Salsa. Andria pun menarik tangan Salsa lalu mengecupnya.


“Mas,” rengek Salsa memukul dada suaminya. Andrian yang melihat wajah Salsa memerah pun menggodanya. Andrian mencoba mendekatkan jaraknya ke tubuh Salsa hingga Salsa memundurkan punggungnya dan merasakan kepala sofa sudah menyentuh punggung belakangnya.


“Mas, kira baru tadi pagi melakukannya,” protes Salsa. Dia rasa, dalam keadaan hamil seperti ini. Dia tidak akan sanggup melakukannya lagi.


“Memangnya tidak bisa melakukannya lagi?” bisik Andrian mendapatkan wajahnya ke telinga Salsa membuat Salsa memejamkan matanya, tapi tiba-tiba…,


“Ohhh maaf, aku tidak tahu kalau kalian sedang berdua,” suara di belakang tubuh Andrian membuat Salsa mendorong tubuh Andrian keras hingga terjatuh ke lantai.


Andrian pun meringis kesakitan. Salsa merasa bersalah telah melakukan itu pada suaminya. Habisnya, dia terkejut karena mendengar suara orang lain yang memergoki mereka berdua. Salsa terbiasa menyembunyikan hubungan mereka selama, jadi dia cukup terkejut ketika mendengar orang lain melihatnya sedang bermesraan dengan suaminya.


"Mas maaf," bisik Salsa membantu suaminya bangun, tapi Andrian menggerakkan tangannya seolah mengatakan pada Salsa kalau dia baik-baik saja.


“Kau?!” Andrian berusaha bangun dari lantai sambil memegangi pantatnya yang sakit. Sementara Gilang yang sudah mengganggu mereka berdua pun menampilkan cengiran kudanya.


“Maaf Tuan, saya mengganggu, tapi saya kembali ke sini sesuai dengan permintaan Tuan."


Andrian memang mengirimi pesan pada Gilang agar kembali lagi bekerja di rumah Aurel yang kini sudah menjadi miliknya. Itu karena Andrian ingin mengucapkan terima kasih pada Gilang karena sudah menjaga istrinya yang cantik ini.