
Pagi-pagi sekali Andrian sudah bangun. Dia merasa terganggu karena Aurel menyentuh titik sensitifnya hingga dirinya terbangun dan sebelum Aurel melakukan yang tidak-tidak. Andrian langsung melarikan diri ke kamar mandi. Begitu dia keluar, dia lihat Aurel memanyunkan bibirnya dan bergantian masuk ke kamar mandi karena Aurel harus pergi ke kantor dan nanti siang akan segera melakukan perjalanan bisnisnya.
Andrian langsung keluar dari kamar dan menuruni tangga untuk menuju dapur. Dia ingin melihat Salsa apakah masih tidur, tapi ternyata istrinya sedang berkutik di dapur membuatkan sarapan.
Andrian pun mendekati Salsa dan memeluk Salsa dari belakang dengan sigap membuat Salsa terkejut. Sementara Andrian merasakan tubuh Salsa yang mematung karena dia peluk dari belakang.
Andrian pun melepaskannya perlahan. “Maa…, maaf,” ucap Andrian karena lagi-lagi dia merasa Salsa belum terlalu siap untuk melakukan hal yang lebih intim dari sekedar berbincang.
Salsa pun membalikkan tubuhnya. Wajahnya nampak memerah dan salah tingkah. Dia tidak tahu harus bilang apa, tapi sebenarnya dia senang karena Andrian memeluknya.
“M…, Mas, su-sudah ba-bangun?” tanya Salsa menundukkan kepalanya.
Andrian pun menganggukkan kepalanya. “Apa kau bisa siapkan baju kerjaku?”
“Baiklah,” kata Salsa segera mematikan kompornya dan berjalan menuju ruang baju suaminya. Begitu pun Andrian mengikuti langkah Salsa dari belakang.
Sesampainya mereka di kamar, Salsa segera memilih kemeja bewarna abu-abu untuk suaminya dan juga jas bewarna mustard. “Ini Mas,” ucap Salsa memberikannya pada Andrian.
Andrian pun segera membuka kaosnya di depan Salsa membuat Salsa menutup matanya. Andrian akhirnya terkekeh juga. Ingin sampai kapan mereka seperti ini? Andrian pun mengambil baju yang Salsa pegang dan menaruhnya ke sembarang tempat. Lalu dia menarik Salsa ke pelukannya. Salsa pun terkejut karena tubuhnya yang tertutupi baju ini menyentuh kulit suaminya yang tidak memakai atasan.
“Aku tahu kau masih belum siap, tapi aku sungguh ingin melakukannya denganmu. Aku akan menunggumu sampai kau siap,” bisik Andrian lalu melepas pelukan mereka.
Andrian mengambil kemeja yang tadi dia taruh dan segera dia pakai. Salsa yang merasa wajahnya memerah pun segera kabur dari ruangan. Lalu memegangi dadanya karena detak jantungnya tak keruan. Sementara Andrian hanya mampu tersenyum memperhatikan dirinya di depan kaca. Dia sungguh suka melihat wajah istrinya tadi yang memerah karenanya.
……………………………
“Air,” kata Aurel pada Salsa yang berdiri di sampingnya yang sedang makan. Sungguh, Andrian tidak tega istrinya disuruh-suruh. Andrian pun merebut cangkir yang Salsa pegang lalu menuangkannya untuk Aurel.
Aurel pun tersenyum,” Terima kasih, Sayang.” Kata Aurel lalu segera meneguknya.
“Aku rasa, belum pergi saja, aku sudah merindukanmu,” ucap Aurel pada Andrian.
“Kau bisa menghubungiku, komunikasi kita sudah serba canggih,” tanggap Andrian.
“Kau benar, tapi rasanya tidak enak jika hanya bisa melihatmu di HP karena aku tidak bisa menyentuhmu,” ucap Aurel sungguh membuat Andrian tidak suka mendengar itu.
“Hati-hati, jangan lupa jaga kesehatan,” balas Andrian, dia tidak menanggapi apa yang Aurel katakan barusan untuknya.
Aurel pun mengangguk dan menyudahi makanannya. “Aku sudah selesai, kalau begitu aku duluan, Sayang. Sampai ketemu lagi.” ucap Aurel berdiri dari bangku meja makannya lalu mencium bibir Andrian sekilas membuat Salsa harus memejamkan matanya dan Andrian melihat apa yang Salsa lakukan.
……………………………………………
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^