Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 22



Andrian memilih cincin yang cocok untuk Aurel. Namun Aurel sungguh ingin cincin yang sangat mahal harganya tidak peduli itu jelek atau tidak modelnya. Pokoknya dia ingin cincin yang sangat mahal dan bagus bahannya.


“Bukannya ini terlalu terlihat tua?” tanya Andrian pada Aurel. Aurel menempel pada tangan Andrian dan menggelengkan kepalanya.


“Aku mau ini, aku tidak peduli,” kata Aurel memanyunkan bibirnya.


“Baiklah,” jawab Andrian. Dia tidak bisa memaksa Aurel sesuai dengan apa yang dia kehendaki. Lalu Andrian segera bicara pada penjaga perhiasan untuk mengambil cincin yang Aurel minta dan memberikan sebuah kartu pada penjaga tersebut.


“Kita sudah membeli cincin pernikahan. Lalu kapan aku bisa bertemu dengan keluargamu?”


“Tenang saja, orangtuaku akan segera pulang dua minggu lagi.”


“Apa? Andrian itu masih sangat lama.” Protes Aurel. Dia ingin, secepatnya pernikahan mereka segera dilaksanakan agar Aurel pun bisa menyingkirkan orangtua Andrian.


“Aku sudah membicarakan ini pada Ayahku kemarin di telepon, tapi sepertinya tidak bisa fokus karena orangtuaku sedang berlibur dan merayakan hari pernikahan mereka.”


“Hufttt, yasudah aku bisa apa, tapi yang penting aku bisa terus bersamamu,” ungkap Aurel memeluk tubuh Andrian dengan manja dan Andrian pun membalas pelukan Aurel.


“Dan suatu saat aku akan membuatmu miskin karena kau laki-laki yang ***** mau saja aku bohongi,” batin Aurel tersenyum tanpa sepengetahuan Andrian.


“Ahhh sudah datang, Sayang.” Ucap Andrian pada Aurel. Aurel pun segera menerima hand bag kecil berisi perhiasannya ketika sang penjaga toko perhiasan itu memberikan kartu pada Andrian dan mengucapkan terima kasih karena sudah membeli.


“Ayo, kita makan siang. Aku sudah lapar.” Kata Aurel pada Andrian.


……………………………….


“Ma, Pa, tolong pertimbangkan sekali lagi. Aku sudah lama menjalani hubungan bersamanya,” kata Andrian pada ke dua orangtuanya. Baik Mama dan Papanya ternyata tidak ada yang setuju dengan rencana Andrian yang akan menikahi Aurel. Mereka juga tidak memberikan alasan yang Andrian mengerti kenapa mereka tidak setuju. Jika masalah baju…, Andrian sudah meminta Aurel memakai baju yang sopan ketika mereka berkunjung untuk membicarakan ini.


“Mama-Papa ingin wanita yang tidak berkarir sepertimu, Andrian. Kalau kalian berdua sibuk. Siapa yang mengurus rumah? Siapa yang bisa mengurus kamu, anak-anak kamu atau kalian akan sibuk dengan pekerjaan kalian masing-masing,” kata Lina memberi pengertian pada Andrian.


Andrian pun menghela nafasnya. Mamanya tidak tahu! Mamanya tidak tahu kalau anaknya ini mandul. Memangnya siapa lagi yang mau menerima Andrian selain Aurel. Andrian bukan laki-laki yang sempurna! Tidak peduli Andrian ini seorang bos di kantornya, Andrian hanyalah pria yang tidak akan punya anak.


Andrian sekali lagi menatap mata Mamanya dan melirik ke arah Papanya yang malah sibuk dengan korannya seakan tidak mau mendengarnya. Lalu Andrian berdiri dari tempat duduknya.


“Aku gak peduli, Ma. Tanpa restu kalian, aku tetap akan menikahi Aurel sesuai dengan rencanaku,” kata Andrian lalu keluar dari ruangan keluarga.


Wicaksono pun melempar koran yang dia baca ketika anaknya keluar dari ruangan. Dia sangat marah karena Andrian akan menikahi putri laki-laki sialan itu dan bodohnya Wicaksono merasa tenang-tenang aja selama ini. Seharusnya dia mengawasi Andrian sejak awal hingga tidak akan terjadi anaknya terjebak oleh ular itu. Dia yakin, Aurel pasti mempunyai niatan jahat untuk membuat perusahaannya hancur. Biasanya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tidak peduli dia anak kandung atau tiri, Aurel tetap anak yang pernah si brengsek itu didik.


“Sabar Mas,” kata Lina pada Wicaksono.


“Aku harus membuat rencana lain agar anak itu tidak menikahi ular berbisa.”


…………………………………………………


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN