
“Lalu apa hubungannya Aurel yang Papa tidak sukai dengan pembunuhan itu?”
“Kau ingat waktu dia datang ke rumah untuk mengucapkan duka. Aku melihat mobil baru yang dia pakai. Seingatku mobil dia bewarna putih, tapi dia ternyata baru saja membeli mobil bewarna merah di mana malam kejadian itu sebelum aku masuk ke dalam komplek. Aku melihat mobil merah yang keluar. Awalnya aku tidak mencurigainya, tapi jika diingat-ingat, aku melihat pria yang mengemudi mobil itu. Dia bertubuh besar dengan sebuah tatto di tangannya.”
“Lalu hubungannya dengan Aurel?” tanya Salsa masih tidak mengerti.
“Aku bertemu dengannya beberapa minggu sebelum menikah dengan Aurel. Dia bodyguard Aurel saat ini. Apa itu tidak mencurigakan?”
Salsa pun mengangguk pelan. Dia mengerti, jadi kemungkinan dalang semua kematian orangtua Andrian itu bisa saja Aurel.
“Aku masih menyelidikinya, lalu Aurel memintaku menikahinya seperti janjiku sebelumnya. Menurutku semakin aku dekat dengannya, semakin aku bisa mencari semua informasinya. Aku ingin tahu kenapa dia membunuh orangtuaku. Apa salah mereka?”
Salsa pun menepuk punggung tangan suaminya pelan. Setelah mendengar semua penjelasan Andrian. Rasanya hatinya benar-benar melunak.
“Aku akan berada di sisimu.” Kata Salsa menguatkan Andrian.
Andrian pun menganggukkan kepalanya. Dia memeluk Salsa dan mengecup ubun-ubun istrinya dengan lembut. “Tapi aku tidak ingin kamu terluka. Karena itu aku berusaha mengabaikanmu, aku takut Aurel tahu kalau kau sudah menjadi istriku dan aku juga terlalu takut kau menganggapku terlalu mengusik kehidupanmu. Jadi, maafkan aku jika sudah membuatmu seperti patung.”
Salsa memeluk Andrian semakin erat. Dia sangat mencintai pria ini. Kali ini biarkan dia mempercayai apa yang Andrian katakan padanya.
“Kau ikut denganku?” tanya Andrian dan Salsa mendongakkan kepalanya. Dia mengangguk pelan.
“Kemarin aku sudah bilang pada Aurel kalau aku akan membawa seorang pembantu yang sudah lama tinggal di rumahku. Aku bilang padanya, kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Karena itu, aku tidak akan mungkin membiarkanmu di sini dan dia memintaku untuk membawamu ke sana supaya kau tidak sendiri di sini.”
Salsa mencemberutkan bibirnya. “Apa aku harus jadi pembantu lagi?”
Andrian tersenyum. Dia mengusap pipi Salsa dengan lembut. “Kau pembantu yang sangat spesial di dalam hidupku.” Lalu Andrian menarik tengkuk Salsa dan mencium bibir Salsa membuat Salsa terkejut. Dia mendorong tubuh Andrian lalu berdiri dari ranjang tidur Yoga.
“Maaf a-aku…,” ucapan Andrian terpotong karena dia tidak harus berkata apa ketika wajah Salsa seolah terkejut.
“Aku akan bersiap-siap,” kata Salsa segera pergi meninggalkan Andrian yang melihat kepergian Salsa. Mungkin, Salsa masih trauma dengan kejadian yang pernah mereka lalui. Dia harus banyak bersabar untuk ke jenjang yang lebih serius. Ada banyak rintangan yang harus dia lalui setelah ini.
……………………………………………………….
Salsa mengingat kejadian tadi saat suaminya mengecup bibirnya. Itu adalah ciuman pertamanya dari Andrian dengan keadaan sadar. Sungguh rasanya seperti aliran listrik yang siap membunuhnya pada saat itu juga.
“Sejak tadi kau melamun. Kita sudah sampai,” kata Andrian pada Salsa. Salsa pun menolehkan kepalanya ke arah luar jendela. Rumah Aurel memang tak sebesar milik Andrian, tapi dibanding dirinya yang tak punya rumah. Rumah Aurel jelas termasuk rumah yang mewah.