
Tidur Salsa terganggu begitu merasakan sesuatu. Dia pun membuka matanya dan melihat suaminya tertidur di sampingnya. Padahal, tadi dia melihat Andrian tidur ditemani wanita yang Salsa pikir, mungkin dialah wanita bernama Aurel.
Wanita yang akan menjadi istri Andrian. Wanita yang akan Andrian nikahi dan jika mengingat itu Salsa jadi merasa terluka. Bahkan tadi pun dia menyaksikan suaminya berpelukan di atas ranjang dengan Aurel. Meski mereka tak melakukan apapun, tapi suaminya berada dipelukan wanita lain selain dirinya. Apa Salsa tidak boleh merasa cemburu meski itu hanya sedikit?
Salsa pun membalikkan tubuhnya untuk membelakangi tubuh Andrian secara pelan-pelan karena ranjang milik Salsa yang berada di dekat dapur ini sungguh kecil. Ranjangnya hanya muat untuk satu orang saja, tapi sekarang Andrian malah mempersempit ranjang ini.
“Hmmm,” Andrian memeluk tubuh Salsa dari belakang. Dia menarik tubuh Salsa ke dekapannya.
“Mas,” bisik Salsa sedikit menolehkan kepalanya belakang.
“Aku tidak mau tidur di kamar itu lagi. Aku bermimpi buruk,” kata Andrian entah sadar atau tidak, tapi melihat pejaman mata Andrian yang membengkak. Andrian pasti sungguh kelelahan setelah melalui ini semua.
“Istirahatlah, Mas.” Ucap Salsa mengusap punggung tangan Andrian yang memeluk tubuhnya. Sudah cukup malam, Salsa tidak tahu kemana wanita tadi pergi, tapi adanya Andrian di sini. Salsa yakin wanita itu sudah pergi dari rumah ini. Heuh, dia memang hanya pilihan ke dua setelah Aurel tidak ada.
………………………………………………………………………
Bau sedap masuk ke dalam hidung Andrian yang masih tertidur di atas ranjang.
“Mas,” Salsa membangunkan Andrian yang masih memejamkan matanya. Kasihan sekali suaminya, pasti rasanya ingin terus tidur karena setiap bangun, dia harus menyadari bahwa orangtuanya sudah tidak ada.
Andrian pun membuka matanya. Lalu dia berusaha bangun dari baringannya, tapi kepalanya terasa pusing.
Andrian tak menjawab. Dia hanya memijat pelan kepalanya lalu memperhatikan ruangan yang dia tahu ini bukann kamarnya, tapi kenapa dia bisa ada di kamar Salsa?
“Kenapa aku ada di sini?” tanya Andrian melirik ke arah Salsa.
Salsa pun mengernyitkan alisnya. Dia tidak suka dengan pertanyaan Andrian yang seolah menuduhnya telah membawa Andrian ke kamarnya.
“Aku ingin mandi air hangat!” perintah Andrian kepada Salsa membuat Salsa segera pergi meninggalkan Andrian dan menyiapkan air hangat di kamar mandi dalam kamarnya.
Lalu tak lama hanya beberapa menit Salsa sudah kembali. “Sudah aku siapkan Mas.” Kata Salsa menunjuk kamar mandinya membuat Andrian menatap Salsa.
“Kenapa disiapkan di sini? Aku ingin mandi di kamarku. Aku tidak mau di kamar mandi yang kecil. Aku ingin berendam.” Perintah Andrian persis seperti dulu ketika dia meminta pada pembantu rumah tangganya.
Salsa pun mendengus pelan. Entah dia harus bersikap bagaimana. Mungkin Andrian lupa kalau Salsa sudah sah menjadi istrinya. Jadi, untuk sementara ini biarkanlah dia melakukan hal sesuka hatinya. Jika semuanya kembali normal maka dia pun akan kembali ke kehidupannya.
Andrian pun ikut keluar dari kamar Salsa. Dia mencium bau makanan yang sangat ingin dia lahap karena entah sejak kapan Andrian tidak makan apapun, tapi Andrian ingin mandi dulu. Rasanya tubuhnya butuh berendam untuk mengembalikan semua kesadarannya.
Andrian berjalan menaiki tangga menuju kamar atas. Akan tetapi baru setengah dari langkah tangga itu membuat Andrian terdiam. Dia kembali mengingat kejadian di mana orangtuanya bersimbah darah. Rasanya seperti sebuah trauma yang bener-bener menghantam kepalanya.
.............................................
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA