
“Terima kasih kau sudah mengatakan bahwa aku orang yang baik dan terima kasih karena sudah mencintaiku. Aku tidak akan bisa membayangkan jika kau pergi lagi dariku.” Kata Andrian tak terasa meneteskan air matanya. Sungguh dia tak pernah merasa sebahagia dan seharu ini setelah apa yang mereka lalui.
“Mas, kenapa menangis,” kekeh Salsa seraya mengusap air mata suaminya. Dia sendiri tidak percaya mengapa suaminya bisa meneteskan air mata.
“Karena aku sangat mencintaimu.” Kata Andrian kembali meneteskan air matanya dan Salsa pun memeluk tubuh suaminya. Dia juga sangat mencintai Andrian. Hanya Andrian-lah yang selalu membuatnya merasa jatuh dan cinta. Tak peduli sudah sejahat apa Andrian dulu padanya. Kini, mereka sudah dilingkupi dengan kebahagiaan.
“Oya Mas,” Salsa melepaskan pelukannya. “Mas mau laki-laki atau perempuan?” tanya Salsa seraya mengusap perutnya.
Andrian berpikir sejenak, tapi sebenarnya dia tidak sedang benar-benar berpikir. Dia malah tersenyum setelah menangis membuat Salsa ikut mengembangkan senyumannya.
“Apapun itu asal mirip kau dan aku.” Kata Andrian dan Salsa pun memekul dada bidang suaminya.
“Ya jelas mirip kita dong, Mas. Kan kita yang buat,” kata Salsa dengan wajah meronanya dan Andrian sangat suka melihat wajah istrinya yang memerah seperti ini.
………………………………………
Andrian membuka matanya. Malam tadi adalah tidur yang dia impikan dari sekian lama dirinya harus mengalami kehilangan orang tuanya. Akhirnya Andrian bisa tidur dengan tenang tanpa beban apapun. Namun Andrian tidak menemukan istrinya di sebelahnya. Hanya saja, Andrian mendengar air menyala di kamar mandi. Itu tandanya Salsa sedang mandi.
“Mas sudah bangun?” tanya Salsa membuat Andrian mencemberutkan bibirnya.
“Kenapa Mas, kok manyun gitu?” tanya Salsa.
Andrian pun menghampiri Salsa seraya memeluknya. “Aku kan mau mandi bareng. Kenapa kamu gak bangunin aku?” kata Andrian seraya bermanja-manja dan menghirup harum tubuh istrinya yang baru saja mandi.
Salsa pun terkekeh lalu menjauhkan tubuh suaminya dari tubuhnya. “Sudah sana mandi! Aku akan memasak sesuatu untukmu,” lata Salsa menepuk tubuh suaminya. Namun Andrian menolaknya, dia malah tidak mau melepaskan Salsa dalam pelukannya.
Andrian benar, sekarang kebahagiaan sudah menjadi milik mereka berdua. Jika dulu hambatan mereka adalah Aurel, sekarang tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu mereka. Mereka adalah sepasang suami istri yang akan memiliki anak.
Andrian melepas tubuh Salsa. Dia melihat istrinya Nampak sesak dengan bajunya. Dia pun jadi tidak tega melihat Salsa yang Nampak semakin membesar dan memakai baju tidak nyaman.
“Sepertinya kamu tidak nyaman dengan baju ini, Sayang. Lebih baik kita pesan baju online saja bagaimana?”
Salsa pun melihat bajunya sendiri. Sebenarnya Salsa sudah membeli baju baru, tapi sepertinya anak mereka benar-benar mempunyai berat yang bagus.
“Boleh, Mas. Akum au lihat-lihat dulu. Kalau memang tidak mahal kita beli.”
“Heii! Kamu kira suamimu ini tidak bisa membelinya? Sudahlah, biar aku saja yang pesan,” kata Andrian mengambil HP-nya di atas nakas. Salsa naik ke atas ranjang dan memeluk suaminya yang sedang memainkan HP.
“Sudahlah, Mas. Lagipula sudah sebentar lagi aku melahirkan. Lebih baik uangnya untuk nanti persalinan. Oh ya atau beli sate saja, Mas. Aku lagi ingin sate.”
Andrian terkejut mendengarnya. Dia senang bisa mewujudkan keinginan Salsa. Hanya sayang istrinya memang jarang sekali menyebutkan keinginannya. Salsa benar-benar tidak pernah banyak menuntut padanya, tapi hal itu yang membuat Andrian sangat kesal karena merasa tidak pernah bisa memanjakan istrinya.
“Yasudah nanti lebih baik kita beli keluar. Aku senang mendengar istriku mengidam,” kata Andrian langsung saja memangut bibir istrinya membuat Salsa merasa sangat dicintai.
Dia ingin bisa melakukan ini setiap hari atau mungkin hal-hal panas lainya yang belum bisa dia lakukan karena hamil. Salsa benar-benar menunggu hari itu datang.
..............
Bab-bab akhir udah tinggal manisnya aja hehehehe