Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 23



“Kau habis dari mana saja semalam?” tanya Aurel pada Oka yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililit sebatas pinggang. Sementara Aurel baru saja bangun tidur seraya mengikat rambutnya yang berantakan khas orang bangun tidur. Semalam Aurel menghubungi Oka, tapi Oka bilang dia akan segera pulang. Namun hingga larut malam pun pria bertatto itu tidak kunjung pulang.


“Maaf, sebenarnya aku mulai sedang membangun bisnis di luar kota.”


“Bisnis?! Aku kan sudah bilang, kau hanya perlu fokus denganku. Kau butuh uang berapa? Aku bisa memberimu berapa pun yang kau mau!” kata Aurel


Oka pun menghela nafasnya. Dia rasa, dia benar-benar sudah buta dengan cinta. Seharusnya mendengar kata-kata yang Aurel lontarkan padanya. Dia bisa saja marah karena tidak sepantasnya Aurel merendahkan harga dirinya, tapi inilah cinta. Rasanya kemarahan itu tidak bisa Oka keluarkan lagi karena melihat wajah kekasihnya yang menggemaskan karena baru bangun tidur.


Oka pun meghampiri Aurel. Dia menyentuh lembut wajah Aurel lalu jari-jari Oka menyelinap ke dalam tengkuk Aurel dengan sangat lembut. Pria itu langsung memangut wanitanya dengan sangat tidak sabaran.


Oka pun melepas ciumannya dan terkekeh pelan. Dia mengusap bibir Aurel. “Bahkan bangun tidur pun kau sangat menggemaskan. Amarahmu dan juga raut wajahmu membuatku candu, Sayang.” Kata Oka dan Aurel mencebikkan bibirnya.


“Aku sudah bilang berulang kali kalau saat ini bukan saatnya untuk membicarakan hal-hal seperti itu! Aku ingin kau segera membunuh keluarga Andrian. Mereka hanya jadi penghambat rencanaku saja.”


“Tidak semudah itu, Sayang. Aku akan merencanakannya dalam dua hari ke depan, OK!”


Aurel pun mengangguk pelan. “Janji?”


Oka mengangguk lalu menerjang tubuh Aurel. “Asalkan sekarang kau mau melakukannya seperti biasanya.”


Aurel pun terkekeh. Dia memukul dada kekasihnya yang bidang itu. “Kau kapan bisa berhenti!”


Oka menggelengkan kepalanya. “Tidak akan bisa karena kau akan selalu menggemaskan di mataku.” Mereka pun melakukannya bersama.


………………………………………………………


“Kau hanya sendiri kan?” tanya Salsa pada Yoga yang belum dipersilakan masuk.


Hampir satu bulan Salsa tinggal di apartemen yang Oka titipkan. Salsa juga sudah punya pekerjaan, tapi hari ini dia sedang tidak enak badan hingga mengharuskannya istirahat di apartemen dan malah menyusahkan Yoga untuk membelikannya obat serta makanan.


“Iya aku sendiri,” kata Yoga seraya mendorong pintu apartemen yang Salsa tinggal agar dirinya dibiarkan masuk.


“Aku sudah berjanji kan tidak akan memberitahu siapa pun di mana kau tinggal, bahkan pada Nayla sekali pun.” Kata Yoga lalu mengambil posisi untuk duduk di sebuah sofa dan membuka bungkusan makanan yang dia bawa. “Kau tahu? Ibu dan Bapak sungguh memintaku untuk membujukmu kembali lagi. Mereka khawatir dengan keadaanmu.”


Salsa menundukkan kepalanya. “Aku sungguh tidak mau kembali lagi ke sana. Setelah nanti gajiku cukup untuk menyewa kontrakan. Aku akan pergi dari sini dan mencari kontrakan dekat tempat kerjaku. Aku akan memulai hidupku yang baru.”


Yoga menghela nafasnya. Dia tahu Salsa sudah dewasa. Jadi, dia tidak mungkin mencegah apa yang Salsa inginkan untuk hidupnya. Dia berhak mennetukan apa yang membuatnya bahagia.


“Ayo makan dulu lalu minum obat,” kata Yoga mengalihkan. Dia sudah membuka makanan yang dia beli dan Salsa pun menghampiri Yoga, tapi baru saja Salsa ingin duduk di depan Yoga. Dia merasa mual karena mencium aroma makananannya.


“Huekkk…,” Salsa tidak jadi duduk dan malah berlari kea rah kamar mandi.


………………………………………………………


 


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^