Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 27



Salsa sedang memperhatikan pemandangan gedung-gedung di luar jendela apartemen milik Oka. Hari ini dia masih izin tidak masuk bekerja karena masih tidak enak badan. Sementara jam sudah menunjukkan pukul jam dua siang. Dia tidak tahu apa yang ingin dia lakukan di saat seperti ini. Terkadang dia masih ingin muntah dan pekerjaan apapun rasanya tidak bisa dia pegang.


Padahal Salsa ingin sekali melakukan sesuatu seperti merapikan apartemen yang tidak keruan seperti sekarang. Pagi-pagi sekali Oka datang ke tempatnya dan menanyakan keadaannya karena Yoga meminta Oka untuk datang melihat sepupunya. Sungguh, sekali lagi Salsa bersyukur di kelilingi oleh orang-orang yang baik. Dia merasa senang karena Oka datang dengan tumpukan bahan-bahan sayuran bahkan susu khusus untuk ibu hamil agar Salsa tetap kuat, katanya.


Ting nong, Ting nong.


Salsa mendengar suara bel apartemen berbunyi. Dia pun segera menuju pintu dan menekan password apartemen. Namun begitu dia buka dan melihat siapa yang menekan bel apartemennya. Dia langsung terdiam sejenak lalu ingin kembali menutupnya meski akhirnya orang itu berhasil menahannya.


Salsa berusaha mendorongnya. “Jangan membuatku harus mendorong paksa pintu apartemen ini. Kau sedang hamil,” kata orang itu membuat Salsa perlahan mundur dari keras kepalanya.


Sementara Andrian, orang yang datang ke apartemen ini perlahan membuka pintu apartemen dan masuk ke dalam tak peduli Salsa tidak mempersilakan masuk.


“Ada apa Mas datang ke sini? Siapa yang memberitahu aku di sini?” kata Salsa dengan nada tidak sukanya. Dia tahu Yoga pasti memberitahunya, tapi dia ingin memastikan apa Yoga memaksa Andrian untuk datang atau justru Andrian sendiri yang ingin datang ke sini.


“Ada yang ingin aku bicarakan. Di mana aku bisa duduk?” tanya Andrian to the point. Jika dia tidak dipersilakan duduk. Maka dia akan menentukan di mana dia bisa istirahat karena entah kenapa kakinya terasa bergetar lemas. Bahkan hatinya berdegup keras begitu melihat seseorang yang berada di depannya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Andrian akhirnya melepaskan sepatunya lalu masuk begitu saja ke dalam apartemen dan melihat sofa berwarna gading siap menangkap tubuhnya yang seakan ikut rapuh begitu menatap Salsa. Sedangkan Salsa nampak terkejut melihat Andrian yang masuk tanpa seizinnya. Salsa kembali ingin berbicara, tapi dia melihat wajah Andrian yang aneh. Kenapa wajah pria itu membengkak, membiru dan ada sedikit robekan di pinggir bibirnya.


Seakan Andrian tahu apa yang Salsa lihat. Andrian pun membenarkan duduknya seraya melepas jasnya ingin lebih santai ketika berbicara pada Salsa. “Yoga memukulku semalam,” aku Andrian. “Aku bertanya keberadaanmu tadi pagi dan dia kembali memukulku. Aku rasa, dia sangat membenciku.” Kata Andrian membuat Salsa perlahan melunak.


Dia langsung berjalan ke dalam kamar. Andrian pun melirik ke segala arah. Dia tidak menemukan apapun di apartemen ini. Bagaimana bisa Salsa tinggal di sini dan dengan siapa dia tinggal di sini.


Salsa kembali dengan kotak obat. Dia sudah bersusah payah untuk tidak menangis menghadapi ayah dari anak yang dikandungnya. “Ini tempat tinggal temanku. Dia baik sekali mau memberiku tumpangan,” kata Salsa mengerti apa yang Andrian pikirkan. “Dia laki-laki,” Salsa berkata jujur membuat Andrian membelalakkan matanya.


.........................


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^