Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 62



“Yasudah, sana cepat kerja.” Kata Andrian terdengar kejam sekali. Itu karena Andrian kesal karena kedatangan Gilang. Dia jadi harus jatuh ke lantai dan tidak mendapatkan jatah ke dua setelah pagi tadi.


“Ihh Mas, biarkan Gilang makan dan istirahat dulu. Dia baru saja sampai Mas dari perjalanannya ke sini,” kata Salsa dan Andrian pun mendengus pelan. Pria itu bahkan tidak peduli. Andrian malah meninggalkan Salsa dan Gilang dengan meringis kesakitan memegangi pantatnya.


Gilang pun terkekeh pelan ketika Andrian meninggalkan mereka berdua. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Gilang pada Salsa.


Salsa pun tersenyum seraya berjalan ke arah dapur membuat Gilang mengikuti langkah Salsa dari belakang. “Aku baik-baik saja. Mas Andrian sangat berterima kasih padamu karena sudah menjagaku.”


Gilang menganggukkan kepalanya. Meskipun dia tidak mendengar kata-kata itu langsung dari bibir Andrian, tapi dia percaya kalau Andrian pasti sangat bersyukur karena istrinya baik-baik saja.


“Makan dulu dan kau bisa kembali istirahat di kamarmu. Ini kamarmu kan?” tanya Salsa menunjuk kamar dirinya dulu yang ternyata sebelum dirinya datang itu adalah kamar Gilang.


Gilang pun menganggukkan kepalanya membenarkan. Lalu dia memberikan sebuah kardus pada Salsa. “Ini bahan makanan dari Ibuku. Dia mengirimkan salam untukmu.”


Salsa tersenyum lalu menyimpan kardus itu ke tempat penyimpanan makanan. “Terima kasih dan salamkan kembali pada Ibumu jika kau menghubunginya. Aku tinggal ke kamar ya. Mas Andrian pasti kesal karena aku tidak sengaja mendorongnya.” Kata Salsa dan Gilang pun terkekeh.


“Sepertinya aku harus semakin menguatkan hatiku karena setiap hari bisa saja menemukan kejadian-kejadian seperti tadi.” Mendengar itu Salsa pun tersipu malu. Dia juga pikir begitu, dia harus bisa menghadapi suaminya yang mesum itu setiap hari, tapi Salsa senang karena itu adalah salah satu bentuk Andrian yang memujanya. Padahal Salsa hanyalah wanita biasa yang dulu pernah menjadi pembantu di rumah Andrian, tapi kini majikannya malah menjadi suaminya.


Ting nong…, Ting nonggg…, sebelum Salsa mau menuju kamarnya. Dia malah mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Salsa pun segera ke arah pintu utama. Dia membuka pintunya dan menemukan jasa pengantar barang membawa kota bewarna merah.


“Apa benar ini rumah Ibu Salsa?”


“Iya benar,” jawab Salsa.


“Tolong ditanda tangani ya,” katanya dan Salsa langsung saja menandatanganinya karena begitu ingin tahu apa isi dari kotak yang diantar atas namanya itu.


“Terima kasih,” ucap sang pengantar paket. Salsa pun menganggukkan kepalanya seraya kembali menutup pintu rumahnya.


Salsa tidak langsung membukanya, tapi dia langsung naik ke kamar dan mencari suaminya.


“Mas,” Salsa membuka kamarnya, tapi dia tidak menemukan suaminya.


Salsa pun akhirnya menuju ruang kerja Andrian dan di sanalah suaminya.


“Ada apa? Sudah puas mengobrol dengan Gilang?!” tanya Andrian dengan wajah cemburunya membuat Salsa terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.


Suaminya cemburu ketika Salsa bersama Gilang, tapi Andrian masih saja memberikan kesempatan pada Gilang untuk bekerja di sini.


“Aku cuma menyuruhnya makan dan istirahat saja, Mas.” Ucap Salsa menghampiri Andrian yang duduk di atas bangku kerjanya.


Andrian pun  menarik Salsa dan memangku istrinya di atas pahanya. “Kau sudah melihat isinya?” tanya Andrian seraya melirik ke kotak yang Salsa pegang.


“Ini untukku?”


***