Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 49



Tak berapa lama, Andrian melepas ciuman mereka karena merasakan pasokan nafas mereka menipis. Andrian pun menempelkan keningnya di kening istrinya yang tengah memejamkan matanya seraya mengatur nafas.


“Mas,” bisik Salsa.


“Hemmm,” tanggap Andrian seraya kembali mengangkat tubuh Salsa untuk membenarkan posisi tidurnya. Lalu Andrian berbaring di samping Salsa dengan pelukan yang sangat erat.


“Aku tidak suka melihat kalian berdua bersama. Kau hanya boleh berduaan denganku. Jangan diulangi lagi, mengerti?” ucap Andrian pada Salsa. Entah kenapa bagi Andrian ketika Salsa bersama Gilang seperti tadi, Andrian seolah melihat kejadian 5 tahun ketika dia pulang dari Brazil.


Hal itulah yang membuat mereka berpisah. Andrian sungguh tidak mau hal itu terulang. Tingkat kecemburuannya terhadap Salsa sangat tinggi hingga rasanya Andrian benar-benar tidak terima jika melihat istrinya bersama orang lain. Meski Andrian tahu itu sangat terdengar kekanak-kanakan


Salsa pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dan membelai wajah suaminya. Dia sangat suka dengan sikap Andrian yang cemburu ini, meski Salsa pikir suaminya cukup egois karena dirinya tidak boleh dekat oleh siapa pun bahkan satpam sekali pun, tapi Salsa sangat senang mendengar nada suaminya yang cemburu. bukankah cemburu tanda cinta? “Terima kasih,” ucap Salsa menatap manik mata suaminya yang memuja dirinya malam ini.


“Aku yang berterima kasih padamu, Sayang. Kau sudah memberikan segalanya untukku.”


Apa Salsa tidak salah dengar? Suaminya memanggilnya sayang? Dia sangat suka mendengar itu.


Malam ini dia bersyukur karena Salsa bersamanya. Andrian yakin kebahagian pasti bersama mereka. “Terima kasih sudah mau menikah denganku, mencintaiku, menerima segala kekuranganku dan bahkan mengandung anakku. Kau wanitaku yang sangat kucintai,” ucap Andrian membuat Salsa tersenyum.


 Salsa pun kini mengalungkan tangannya di leher Andrian. Dia memangut suaminya dengan amatir. Walau begitu Salsa juga ingin sekali memberanikan diri untuk bisa melayani suaminya. Namun, hati Salsa memang mengatakan kalau dirinya belum siap untuk pada tahap itu.


“Terima kasih juga Mas sudah mencintaiku. Maaf aku belum bisa menjadi istrimu yang baik.”


Andrian menggelengkan kepalanya. Dia menangkup pipi istrinya dengan sangat lembut. “Tidak, Sayang. Kau yang terbaik. Aku yang selalu melukaimu, tapi setelah semuanya selesai. Aku berjanji hanya ada kamu dan anak kita di dalam hidupku.” Mendengar itu wajah Salsa bersemu merah. Dia pun mengelus pelan pipi suaminya dan menatapnya dalam-dalam.


“Aku ingin kita bahagia bersama, Mas. Dulu aku berbohong ingin bahagia dengan orang lain. Nyatanya hatiku dan otakku selalu dipenuhi kamu, Mas.”


Salsa benar. Andrian pun tidak bisa bohong kalau dia pun begitu. Cintanya sejak dulu tak pernah berubah. Entah harus berapa rintangan lagi yang harus mereka lalui, tapi Andrian berjanji tidak akan pernah meninggalkan ibu dari anak-anaknya nanti. Dia akan terus menggenggam tangan istrinya ini hingga ajal yang memisahkan.


“Oh ya, apa kau sudah mengidam sesuatu?”


Salsa menggelengkan kepalanya. “Belum Mas.”


Andrian mengelus perut Salsa lalu menyingkap baju Salsa dan mencium perut istrinya yang membuncit. “Jika sudah, katakan saja padaku. Aku akan mengabulkannya.” Ungkap Andrian, Salsa pun mengangguk mengerti.


“Ayo tidur Mas, besok Mas kan harus bekerja lagi.” kata Salsa meminta suaminya untuk segera istirahat.


“Ayo, Sayang,” ungkap Andrian menarik Salsa ke dalam pelukannya dan Salsa pun memeluk tubuh suaminya dengan erat.


Namun tiba-tiba Salsa mengingat sesuatu. Dia melepas pelukannya dan menatap Andrian bingung.


“Ada apa, Sayang?” tanya Andrian heran melihat perubah istrinya yang mendadak.


“Hmmm M-Mas, ma-maaf aku belum bisa melayanimu,”ucap Salsa membuat Andrian bergantian menatapnya intens, tapi kembali menarik Salsa ke dalam pelukannya.


“Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap,” ucap Andrian dan Salsa tersenyum lebar.