
Setelah mereka selesai makan berdua. Andrian pun langsung membawa Salsa ke hotel, tapi Salsa belum mau mengganti gaunnya karena dia bilang masih ingin memakainya. Padahal Andrian sudah bilang Salsa bisa memakainya kapan saja, tapi Salsa tetap tidak mau. Dia tetap ingin memakainya malam ini dan Andrian tidak bisa memaksanya. Andrian akhirnya membawa Salsa ke balkon untuk melihat lampu-lampu yang menyala di luar sana dengan memeluk Salsa karena istrinya sakit kena angin malam.
“Sayang, apa kamu tahu ketika dokter mengatakan bahwa aku mandul. Apa yang pertama kali aku pikirkan?”
Salsa menggelengkan kepalanya.
“Aku terus saja memikirkanmu. Entah kenapa hanya kamu yang aku pikirkan meskipun waktu itu aku berstatus kekasihnya Aurel.”
“Kenapa Mas memikirkanku?” tanya Salsa mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat wajah suaminya.
“Mungkin karena hati dan otakku tidak bisa berbohong kalau hanya kau yang aku cintai.”
Salsa bahagia mendengarnya. Dia juga sangat mencintai Andrian meski waktu itu Andrian tiba-tiba seperti berubah menjauhinya. Padahal setelah Andrian pulang dari Brazil, Salsa sangat merindukan kekasihnya.
“Lalu kenapa Mas bersikap seperti itu padaku? Mas menjauhiku bahkan menganggapku seperti tidak ada.” Pertanyaan ini yang sejak lama ingin Salsa tanyakan, tapi setelah Salsa bisa bersama Andrian. Salsa seolah tidak ingin bertanya kembali, Salsa takut Andrian berubah seperti dulu.
“KArena aku cemburu pada Yoga. Ketika pulang aku melihat kau berperlukan dengannya. Aku kira, kalian cocok. Sementara aku, aku tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu. Ketika kau sedih dan membutuhkan bantuanku. Aku tidak ada di sampingmu. Berbeda sekali dengan Yoga yang selalu ada untukmu. Makanya aku berubah, semua raca benci pada diriku sendiri dan cemburu pada kalian berdua itu bersatu menjadi hubungan yang pecah.” Ucap Andrian panjang lebar, Salsa masih bisa melihat buncahan kemarahan dan emosi yang menjadi satu di dalam tubuh Andrian.
Salsa pun memeluk Andrian erat. “Seharusnya sejak awal Mas berbagi cerita tentang ini padaku, tapi mungkin ini yang sudah Tuhan atur untuk kita. Aku tak pernah memintamu menjadi seseorang yang sempurna untuk selalu berada di sisiku Mas. Setiap orang itu berbeda dalam mencintai dan menyayangi orang. Bagiku Mas yang seperti ini saja sudah cukup.”
Andrian pun mengelus wajah istrinya, “Terima kasih karena kau selalu memberikan kata-kata yang membuatku yakin bahwa kau memang istri idamanku,” kata Andrian seraya mencubit pippi istrinya.
“Oh ya?” tanya Andrian.Salsa pun mengangguk cepat seraya tersenyum.
“Sudah yuk kita masuk. Angin malam tidak bagus untuk tubuh,” kata Andrian, tapi Salsa menolak. Dia masih ingin di luar sebelum nanti Andrian menerjangnya.
“Ayo, Sayang. Tenang saja aku tidak akan meminta apa pun. Aku juga ingin istirahat,” kata Andrian seketika membuat wajah Salsa akhirnya tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam kamar hotel dengan interior yang mewah. Tempatnya sangat nyaman dan tentunya Andrian memesan kamar paling mahal untuk istri tercintanya ini.
“Ganti baju dulu ya, sini aku bantu,” kata Andrian pada Salsa. Salsa pun menurut apa kata suaminya dan Andrian membuka sreting belakang gaun Salsa.
Namun Andrian mengeluarkan kemeja putihnya. Dia memakaikannya ke tubuh Salsa dengan kancing yang sangat pas sekali di perut besar Salsa.
“Kalau kau merasa sesak. Kau bisa membuka kancingnya,” kata Andrian menaik-turunkan alisnya membuat Salsa menggelengkan kepalanya.
“Aku bersihkan wajah dan sikat gigi dulu ya, Mas.”
Andrian menganggukkan kepalanya. Kini gantian Andrian yang mengganti bajunya sebelum tidur.
…………………………