Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 28



“Tapi dia tidak tinggal di sini. Dia tinggal di rumah kekasihnya selama aku tinggal di sini. Terkadang dia juga pergi ke luar kota untuk bekerja. Sesekali dia mengunjungiku membawa makanan dan berbicang dengan Yoga,” kata Salsa sungguh tidak ada kebohongan dari apa yang dia ceritakan dan Andrian tidak sama sekali berpikir negatif tentang itu. Dia tahu Salsa orang baik, Andrian juga tidak akan menuduh sesuatu yang lain seperti di drama-drama yang sering ditayangkan di TV.


 


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Andrian. Jujur saja, dia ingin sekali memeluk Salsa. Entah apa yang dia rasa tapi perasaannya kali ini sungguh besar. Mungkinkah ini naluri lainnya dari seorang ayah ketika bertemu dengan bayinya? Meski memang itu masih di dalam kandungan dan berusia satu bulan.


“Hanya sedikit tidak enak badan, sedikit mual dan pusing,” jawab Salsa seraya mencoba menggapai wajah Andrian yang memar. Setelah dipukul Yoga pagi tadi pasti dia tidak sempet mengobatinya.


Tentu saja, itu karena setelah dari rumah sakit untuk memeriksa kesuburan. Andrian langsung ke alamat yang Yoga berikan. Hasil tes nya memang belum keluar, tapi entah kenapa Andrian ingin sekali bertemu dengan Salsa dan setelah bertemu, dia benar-benar tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya.


“Huek!!!” tiba-tiba Salsa mual sekali. Dia ingin muntah karena mencium bau alkohol yang dia teteskan tadi ke atas kapas. Indra penciumannya memang sangat sensitif.


Andrian nampak khawatir begitu Salsa lari ke dalam kamar. Andrian mengikutinya dan melihat Salsa kesusahan dengan keadaannya seperti ini. Dia tinggal sendiri di apartemen ini jadi pasti rasanya sulit mengatasi keadaannya yang sedang tidak enak badan. Haruskah dia membujuk Salsa kembali?


Huek!!! Andrian sekali lagi melihat Salsa yang berada di dalam kamar mandi. Dia memberanikan diri untuk mendekat dan memijat tengkuk Salsa perlahan. “A-apa kau ba…, baik-baik saja?” tanya Andrian memperhatikan kaca di depan mereka.


Salsa pun mengusap bibirnya. Dia berkaca melihat wajahnya yang terlihat pucat. Dia mengangguk yakin pada Andrian bahwa dia baik-baik saja.


“Tidak apa, keluarlah,” kata Salsa meminta Andrian keluar dari kamar mandi lalu menutup pintunya hingga Andrian kembali mendengar suara Salsa yang muntah.


Andrian menghela nafasnya. Apakah selama ini dia sangat jahat pada Salsa hingga rasanya Salsa tidak ingin Andrian lebih mempedulikannya. Andrian pun kembali duduk ke sofa. Setelah Salsa kembali, dia ingin bicara serius dengan Salsa.


…………………………………………………………………


Andrian melihat Salsa telah mengganti bajunya. Begitu keluar dari kamar, Salsa berjalan melewati Andrian menuju dapur kecil di apartemennya. Andrian pun menghampirinya lalu duduk di atas bangku tinggi layak di bar tender.


“Jadi, maksudmu aku melakukannya dengan yang lain?”


Mendengar itu hati Andrian tertohok sakit. Dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu, tapi mendegar kata-kata Salsa melakukan hal itu dengan yang lain. Dia sungguh tidak bisa membayangkannya. Hatinya sungguh sangat sakit dan tidak bisa terima jika ada laki-laki lain yang menyentuh Salsa.


“Bukan itu maksudku,” kata Andrian.


Salsa pun kembali melanjutkan apa yang dia buat.


“Sebenarnya, ketika aku mabuk beberapa bulan yang lalu. Aku frustasi karena Dokter mengatakan bahwa aku mandul. Aku tidak bisa mempunyai keturunan dari wanita manapun.”


Salsa menyodorkan minuman yang dia buat. Sebuah lemon tea minuman kesukaan Salsa karena hanya ada itu stok di apartemennya.


“Aku mendengar kau mengingau tentang itu,” kata Salsa mendukkan kepalanya. Dia duduk di hadapan Andrian, tapi dia sama sekali tidak berani menatap pria ini.


Andrian pun menatap Salsa lamat-lamat. Berarti firasat dia benar beberapa bulan yang lalu bahwa Salsa mendengar sesuatu ketika dia mabuk.


“Aku…,”


....................................


Jangan Lupa like dan komennya^^