
“Sejak tadi kau melamun. Kita sudah sampai,” kata Andrian pada Salsa. Salsa pun menolehkan kepalanya ke arah luar jendela. Rumah Aurel memang tak sebesar milik Andrian, tapi dibanding dirinya yang tak punya rumah. Rumah Aurel jelas termasuk rumah yang mewah.
“Biar aku bantu,” kata Andrian yang akan keluar dari mobilnya, tapi Salsa mencegahnya.
“Tidak usah Mas, aku bisa sendiri,” kata Salsa seraya keluar dari mobil Andrian. Andrian pun membiarkannya dan mengambil koper yang berisikan bajunya.
“Sini Mas dibantu,” ucap seorang satpam yang Andrian perkirakan umurnya tak jauh dari Salsa. Mungkin hanya lebih tua satu atau dua tahun dari Salsa. Dia membantu Andrian mengangkat koper miliknya dari bagasi mobilnya. Namun Andrian melihat satpam itu melirik ke arah Salsa yang sedang memperhatikan rumah Aurel. Dia tidak suka tatapan satpam itu pada Salsa seolah mengagumi kecantikan istrinya.
“Ini Mas pembantu yang Mas bilang?” tanya satpam bernama Gilang di baju yang dia pakai.
“Kapan saya bilang?” tanya Andrian pada Gilang. Dia tidak pernah merasa akrab dengan Gilang sampai-sampai mengatakan bahwa dia akan membawa Salsa ke sini.
Salsa yang mendengar percakapan mereka pun menolehkan kepalanya ke arah Gilang lalu merunduk sedikit seraya tersenyum untuk sebuah sapaan. “Salsa Mas,” kata Salsa membuat Gilang semakin tergila-gila saja pada senyum Salsa.
“Gilang, Mbak,” kata Gilang berusaha mengulurkan tangannya ingin bersalaman, tapi Andrian jelas cemburu.
“Katanya mau bantuin angkat barang. Ayo cepat bawa!” kata Andrian membuat Gilang tidak jadi menyalami Salsa. Dia pun mengangkat semua barang yang berada di bagasi dan membawanya mengikuti langkah Andrian yang sudah berjalan duluan dari Salsa.
Andrian sedikit melirik ke arah perut Salsa. Memangnya tidak kelihatan ya kalau istrinya ini lagi hamil. Kenapa Gilang tetap saja menggodanya. Kalaupun Gilang tidak tahu Salsa adalah istri Andrian. Setidaknya Gilang tidak akan menggoda istri orang lain yang sedang hamil.
“Mas, aku sedikit takut,” kata Salsa berbisik.
Andrian pun tersenyum. “Tidak apa-apa, ada aku,” kata Andrian merapatkan tubuhnya dan menggenggam tangan Salsa sebelum akhirnya pintu rumah terbuka menampilkan wajah Aurel membuat Andrian melepaskan tangan Salsa.
“Kau di sini, Sayang.” ucap Aurel mengecup bibir Andrian hingga Salsa yang berada di sampingnya membuang wajahnya untuk menatap arah lain. Mana bisa dia melihat suaminya dicium oleh orang lain.
“Ya Tuhan, apa kau sedang hamil?” tanya Aurel dan Salsa mengangguk seraya tersenyum memegangi perutnya.
“Kau tidak bersama suamimu?” tanya Aurel sangat iba melihat Salsa.
“Aku datang bersama suamiku,” ucap Salsa dalam hati.
“Suaminya tak bertanggung jawab karena itu, aku tidak tega meninggalkannya di rumah. Dia sudah seperti adikku dan dia tinggal bersama keluargaku sejak kecil karena Ibunya dulu yang bekerja di rumahku,” jelas Andrian menatap Salsa yang sebenarnya tidak suka dengan kata-kata Andrian di awal, tapi apa boleh buat. Toh, suaminya itu Andrian. Andrian sudah bertanggung jawab padanya.
“Kasihan sekali,” ucap Aurel mengusap rambut Salsa dengan lembut.
“Siapa namamu?”
“Salsa, Nyonya.”
“Oh baiklah Salsa, kau akan Gilang antar ke kamarmu,” kata Aurel dan Salsa pun menganggukkan kepalanya. Andrian melihat kepergian Salsa bersama Gilang. Dia sungguh semakin tidak suka dengan Gilang yang seolah tertarik pada istrinya. Apalagi setelah tadi dia bilang suami Salsa tidak bertanggung jawab. Wajah Gilang nampak semakin bersemangat mengantar Salsa ke kamarnya.
“Sayang, aku membuatkan kue untukmu, ayo kita makan bersama,” kata Aurel memeluk Andrian dari samping dan berjalan ke dalam rumah.
Tidak apa, hubungan mereka harus diam-diam seperti ini. Melihat Salsa berada di dekatnya saja sudah mengurangi rasa kekhawatiran Andrian. Meski sebenarnya mereka sama saja harus masuk lebih dulu ke dalam kandang singa, tapi Andrian tidak punya pilihan lain. Inilah yang harus mereka hadapi.
………………………………………………………
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^