
Entah sudah berapa lama istrinya belum juga ditemukan. Salsa sangat merindukan Andrian dan tentu saja Andrian pun merindukan istrinya. Dia juga khawatir dengan kandungan istrinya yang semakin tua. Bagaimana kalau ada sesuatu yang terjadi pada istrinya tanpa ada dirinya? Andrian sungguh tidak bisa membayangkannya.
Bahkan Andrian tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Waktu itu ketika dia baru saja sampai di rumah Aurel. Dia langsung menghubungi nomer Gilang dan Salsa, tapi ternyata HP Gilang maupun Salsa tertinggal di rumah.
Andrian pun membaringkan tubuhnya di atas sofa seraya memperhatikan langit-langit kantornya. Dulu, tempat ini adalah saksi bisu mereka bisa bersatu. Jika hari itu Aurel tidak memberikan obat di dalam minumannya, pasti Andrian tidak tahu kalau dirinya tidak mandul dan bisa mempunyai anak. Dia sangat bersyukur karena wanita yang dia hamili adalah Salsa. Andrian juga tidak akan menyadari bahwa cintanya akan sebesar ini pada Salsa.
Wanita itu sungguh wanita yang sangat dia puja sampai akhir hidupnya. Andrian pun memejamkan matanya. Tidak ada Salsa selama dua minggu saja sudah membuatnya sangat merindu. Apalagi jika berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Mungkin Andrian tidak akan bisa bernafas tanpa Salsa di sisinya.
“Mas,” tiba-tiba Andrian mendengar suara yang sangat dia rindukan. Beberapa kali Andrian memang sering memimpikan Salsa atau bahkan membayangkan Salsa di sampingnya. Bahkan terkadang Andrian sangat sulit membedakan antara mimpi dengan kenyataan karena keduanya membuat dirinya ingin sekali melihat Salsa.
“Aku merindukanmu, Mas.” Suara itu lagi membuat Andrian tersenyum. Dia juga merindukan istrinya yang cantik itu.
Andrian masih memejamkan matanya, tapi entah kenapa kali ini bayangannya tentang Salsa seperti nyata karena Andrian seolah merasakan sesuatu yang hangat di bibirnya.
Andrian pun membuka matanya. Dia melihat seseorang yang mencium bibirnya nampak nyata bahwa itu istrinya. Andrian pun memegang bahu seseorang di depannya. Sejenak Andrian memperhatikan wajah lalu tubuh seseorang di depannya.
“Apa ini sungguh kamu, Sayang?” tanya Andrian seolah dirinya hanya melihat halusinasi.
Salsa pun menganggukkan kepalanya dengan air mata yang sejak tadi berlinang. Andrian pun mengusap air mata istrinya yang terasa hangat di telapak tangannya. Sepertinya kali ini Andrian tidak berhalusinasi karena di hadapannya sungguh Salsa orang yang dicintainya. Andrian pun segera menarik istrinya dan memangut bibir Salsa seolah mengatakan bahwa dirinya mencintai Salsa hingga mati.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Andrian begitu merasakan Salsa kehabisan oksigen.
Andrian menatap mata istrinya dalam-dalam. “Aku juga sangat merindukanmu, Mas. Aku sangat khawatir dengan keadaanmu.” Ucap Salsa tak terasa air matanya menetes dan Andrian pun mengusap pelan air mata itu dengan tangannya. Lalu membawa Salsa ke dalam pelukannya.
“Mas, satu-satu dong. Aku enggak bisa jawab kalau begitu.” Seperti biasanya Salsa bersikap sangat dewasa dan tenang. Kekhawatiran itu tergambar jelas di wajah Salsa tapi wanita ini bisa mengontrol semuanya dengan sangat tenang.
“Aku baik, Mas. Anak kita juga,” ucap Salsa seraya mengusap perutnya yang semakin membesar. Andrian pun mengecup perut istrinya lalu berpindah ******* kembali bibir Salsa yang menurutnya candu bagi hidupnya
Air matanya tak terasa jatuh membuat Salsa ikut sendu. Salsa melingkarkan tangannya ke leher Andrian dan Andrian melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya meski tak sepenuhnya bisa dia gapai karena terganjal dengan buah hatinya.
Mereka melepaskan tautan mereka dan Andrian mengusap pelan pinggir bibir Salsa yang kini terlihat membengkak karena ulahnya. “Entah kenapa, kamu terlihat semakin cantik, Sayang.”
“Dan kau terlihat sangat berantakan. Apa kau begitu mencintaiku?” kata Salsa memegang bulu-bulu kasar yang tumbuh di pinggir wajah suaminya. Dia menatap dalam-dalam wajah suaminya untuk menemukan rasa kehilangan Andrian terhadapnya.
“Tentu saja, aku sangat mencintaimu dan merindunkanmu,” bisik Andrian di telinga Salsa yang membuat Salsa langsung terkejut begitu Andrian menepuk bokongnya.
“Mas, ih!” sergah Salsa langsung memukul dada Andrian. “Mesum deh! Aku kan baru pulang!”
Andrian langsung mencemberutkan bibirnya, tapi Salsa mengecup bibir itu. “Mungkin nanti malam aku tidak keberatan melakukannya.”
Andrian menggelengkan kepalanya terkekeh. “Kau pasti lelah sayang, kita bisa melakukannya besok,” ucapnya tidak mungkin melakukan hal bodoh di saat perut istrinya tengah membesar seperti ini.
“Ayo makan keluar. Aku sangat lapar.” Andrian segera memegang erat Salsa seolah Salsa akan hilang dari hidupnya lagi.
....................................
Lanjut???