Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 63



Andrian pun  menarik Salsa dan memangku istrinya di atas pahanya. “Kau sudah melihat isinya?” tanya Andrian seraya melirik ke kotak yang Salsa pegang.


“Ini untukku?”


“Tentu saja, kau pikir untuk siapa? Untuk wanita lain?” mendengar itu Salsa pun mencebikkan bibirnya.


“Makanya, buka saja,” kata Andrian dan Salsa pun membukanya perlahan.


Salsa menemukan gaun cantik di dalam sana. Warnanya pink peach cocok sekali dengan kulit Salsa yang putih.


“Mas…, ini…,” jujur saja Salsa tidak pernah memakai gaun seumur hidupnya. Lagi pula jika dipikir-pikir, untuk apa juga Salsa memakainya karena waktu itu Salsa hanyalah pembantu di rumah Andrian.


“Kau suka?” tanya Andrian.


Salsa menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia jadi mengingat Ibunya, dulu ketika kecil, Salsa ingin sekali dibelikan gaun, tapi sayangnya Ibu Salsa tidak memiliki uang lebih untuk membeli apa yang Salsa inginkan. Maka dari itu, mata Salsa tidak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Dia sangat senang Andrian memberikannya gaun. Bahkan Salsa pun jadi mengingat ketika mereka menikah di rumah sakit. Salsa tidak bisa memakai gaun yang seperti orang-orang gunakan ketika menikah.


“Maafkan aku karena ketika kita menikah, kamu tidak bisa menggunakan gaun yang cantik seperti orang lain. Karena itu, malam ini aku ingin sekali menebusnya, Sayang. Kamu mau kan makan malam berdua denganku di luar menggunakan gaun ini?”


Salsa menatap wajah suaminya. Andrian pun menyeka air mata Salsa yang berjatuhan membuat satu garis di bibir Salsa mengangkat menjadi sebuah senyuman. Salsa menganggukkan kepalanya.


“Aku mau, Mas. Aku iri ketika Aurel bisa makan di luar berdua denganmu. Aku cemburu dan aku juga ingin melakukannya berdua denganmu."


“Haruskah aku memesan hotel?” tanya Andrian membuat Salsa lagi-lagi tidak boleh lupa kalau suaminya ini tak pernah jauh dengan hal ini.


“Kau selalu berhasil membuatku terbakar,” kata Andrian dan Salsa tidak ada pilihan lain selain menganggukkan kepalanya.


……………………………


Andrian berpesan pada Gilang bahwa dirinya tidak akan pulang malam ini. Dirinya dan Salsa akan memesan hotel setelah makan malam berdua. Hal itu membuat Salsa tak habis pikir mengapa suaminya harus mengatakan sejelas itu pada Gilang. Meski sebenarnya Salsa pun mengerti kalau suaminya itu pasti sengaja ingin membuat Gilang sadar kalau Salsa sudah menjadi miliknya seutuhnya, tapi menurut Salsa itu agak kekanak-kanakan.


Sepanjang perjalanan, Andrian menggenggam tangan Salsa. Sesekali Andrian mencium punggung tangan Salsa dan memuji Salsa yang sangat cantik dengan gaunnya. Salsa pun sangat bahagia mendengarnya dan Salsa tidak bisa bohong kalau dirinya sangat suka dengan gaun yang cocok dengannya meski dalam keadaan hamil. Ternyata Andrian membelikannya yang besar hingga dirinya tidak merasa kesempitan atau sesak saat memakainya. Meski tadi Andrian sempat bertanya apakah sesak.


Andrian meminta Salsa agar membukanya saja jika tidak nyaman, tapi tentu saja Salsa tidak mau karena mereka akan ke tempat yang mewah bukan? Itu akan memalukan jika dirinya hanya memakai baju yang biasa saja. Bahkan bukan saja Salsa yang malu, tapi Andrian pun pasti akan malu membawa istri yang biasa saja di tempat yang mewah.


“Kita sudah sampai, Sayang.” Ucap Andrian menghentikan mobilnya. Salsa pun melihat Andrian membuka sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil dan beralih membuka pintu untuknya ketika Salsa sedang membuka sabuk pengamannya.


“Silakan Tuan Putri,” ucap Andrian layaknya pangeran yang ingin menjemput putrinya menuju istana.


“Mas,” Salsa memukul dada Andrian seperti biasanya seraya terkekeh.


Andrian pun menangkap tangan Salsa lalu menggenggamnya erat sebelum kuncinya dia berikan pada petugas vallet. “Mas aku deg-degan,” bisik Salsa ketika melihat betapa mewahnya restoran yang sudah Andrian pesan ini. Bahkan di sebelah restoran mewah itu Salsa pun bisa melihat bangunan tinggi yang di atasnya ada tulisan Jacyl Hotel.