Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 35



“Mas, kau tidak apa-apa?” tanya Salsa begitu tadi dia selesai menyiapkan air hangat. Dia melihat Andrian berada di anak tangga sedang memegang kepalanya.


Andrian pun menarik tubuh Salsa ke dalam pelukannya membuat Salsa tidak mengerti apa yang terjadi. Padahal beberapa menit yang lalu, dia baru saja memarahi istrinya ini.


“Aku takut, aku terus mengingat semuanya,” kata Andrian dan Salsa mengerti apa yang Andrian bicarakan. Makanya tadi Salsa menyiapkan air hangat di kamarnya.


Salsa pun menepuk pelan punggung Andrian. “Semalam kau sudah mengatakan itu padaku, Mas. Karena itu aku menyiapkan air hangat di kamarku. Kau belum siap ke kamar atas. Ayo kita ke bawah saja, Mas.” Ucap Salsa memberi pengertian pada Andrian dan Andrian pun mengikuti apa yang Salsa katakan padanya.


Dia membiarkan tangan kekarnya itu digenggam oleh istrinya. “Mas masuk saja. Aku akan menyiapkan handuk dan juga baju Mas. Hari ini istirahat dulu saja di rumah. Aku sudah memasak nasi goreng untuk makan pagi dan akan aku buatkan teh hangat untukmu supaya pusingnya reda.”


Andrian menganggukkan kepalanya. “Terima kasih,” ucapnya lalu masuk ke dalam kamar mandi Salsa dengan sedikit ragu.


…………………………………………………………


Salsa melihat suaminya melamun di taman belakang. Dia sama sekali tidak mengajak Andrian bicara karena dia tidak mau Andrian merasa tak nyaman dengan keberadaannya. Karena itu, sejak tadi Salsa menyibukkan dirinya dengan semua bahan makanan yang ada. Ia sudah membuat makan siang dan juga kue brownies agar ada cemilan di rumahnya. Lalu Salsa merapikan semua rumah dan juga kamarnya yang baru dia tempati kembali dengan paksa.


“Sa,” panggil Andrian di ambang pintu kamar Salsa.


“Kenapa Mas?” tanya Salsa yang sibuk melipat bajunya dengan rapi di atas ranjang. Lalu menyusunnya hingga menumpuk ke atas dan dia masukkan ke dalam lemari rapuhnya.


“Ba-bagaimana keadaanmu dan…, ba-bayi kita?” tanya Andrian membuat Salsa terdiam.


Andrian mengeratkan tangannya pada gelas kaca yang dia pegang. Di dalamnya masih ada sedikit isi teh dan dia bermaksud menghabiskannya setelah ini, tapi rasanya Andrian tidak ingin meminumnya lagi.


“Apa kau tidak nyaman tinggal di sini?” tanya Andrian entah kenapa dia takut kalau Salsa meninggalkannya. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali adiknya yang masih terbaring koma.


“Aku sudah pernah mengatakannya,” kata Salsa dan Andrian ingat ketika dia datang ke apartemen yang Salsa tempati. Salsa sudah menolak mentah-mentah permintaannya untuk kembali ke sini.


“Tetaplah di sini. Aku tidak akan mengusikmu. Maafkan perlakuanku tadi pagi, aku hanya sedikit sedang kalut,” kata Andrian lalu meninggalkan Salsa.


Salsa pun menghela nafasnya sejenak. Sebenarnya dia pun tidak tega meninggalkan Andrian di sini, tapi kalau begini. Perasaan yang sudah Salsa kubur dalam-dalam pasti akan kembali tumbuh.


Ya Tuhan, apa yang harus dia lakukan? Kenapa Tuhan terus melibatkan hidupnya pada pria yang bahkan tidak mencintainya lagi. Kenapa?


…………………………………


 


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA^^