Secret Marriage

Secret Marriage
BAB 45



“Dan kau terima kasih makanannya. Aku titip suamiku. Dia cukup pemilih dalam soal makanan,” kata Aurel dan tentu saja Salsa lebih tahu tentang Andrian dibanding Aurel.


“Iya Nyonya, hati-hati.” ucap Salsa menundukkan kepalanya dan Aurel segera meninggalkan mereka semua.


Setelah Aurel pergi. Andrian pun berjalan ke arah wastafel. Di sana Andrian membasuh bibirnya dengan air.


“Kenapa?” tanya Salsa khawatir suaminya muntah.


“Tisu,” minta Andrian dan Salsa segera mengambilkannya untuk Andrian.


Andrian mengusap bibirnya yang basah dengan tisu. “Aku tidak suka ciumannya, aku berharap kau bisa menggantikan ciuman menjijikkan itu menjadi ciuman yang manis.” Mendengar itu wajah Salsa memerah. Dia sungguh belum siap dan Andrian mengerti itu karenanya Andrian tidak memaksa.


` “Aku berangkat,” kata Andrian mengusap rambut istrinya lembut dan meninggalkannya.


……………………………………………………………………………


Andrian melempar semua berkasnya dengan amarah. Entah apa yang sedang terjadi dengan perusahaannya, tapi pemasukan dan pengeluaran bulan ini sungguh tidak sesuai.


“Kau hanya bisa melaporkan ini?” tanya Andrian pada sekretarisnya.


“Bagaimana dengan solusinya?!” suara Andrian semakin meninggi dia sungguh kehilangan akal sehatnya. Beberapa tahun ini perusahaanya berkembang pesat sekali, tapi kenapa sekarang orang yang bekerja sama dengannya mulai berguguran. Mereka membatalkan kontrak perjanjian begitu saja. Lalu keuangan perusahaannya seperti ada yang tidak beres.


Nafas Andrian memburu. Siapa yang berani-beraninya mengganggu singa yang sedang tidur. Seingat Andrian, dia tidak pernah punya musuh. Selama ini dia bekerja sama dengan siapa pun dan mempunyai solusi apapun meski bentuk kerja sama mereka tidak semuanya berkelas. Karena itu, semua orang menyegani Andrian dan sangat suka bekerja sama dengan perusahaannya.


“Tolong berikan semua laporan kerja sama kita dengan kolega lainnya. Saya ingin memeriksa semuanya dan jangan lupa untuk segera memberitahu saya siapa dalang dibalik ini semua.” Kata Andrian dan Sekretaris Andrian pun keluar dengan cepat takut bosnya semakin berapi-api memuntahkan amarahnya.


Andrian duduk di atas sofa. Dia benar-benar tidak menyangka hari ini akan terjadi padanya. Memang benar apa yang mendiang ayahnya katakan bahwa bisnis dengan siapa pun, jika kita hanya melihat dari depan, mereka akan terlihat seperti malaikat, tetapi jika sekali saja kita melihatnya dari belakang, mungkin rupa malaikatnya tertutupi dengan rupa iblisnya. Dalam arti lain, kita memang harus lebih berhati-hati dalam berbisnis. Siapa pun pasti memiliki jiwa iblis yang lebih besar dibanding jiwa malaikatnya.


Andrian pun menghela nafasnya seraya mengeluarkan HP-nya yang bordering. Dia mendapatkan panggilan dari nomer yang dia sangat tunggu-tunggu.


“Bagaimana? Langsung ke inti,” kata Andrian begitu mengangkat panggilan itu tanpa basa-basi. Dia sungguh sedang dirundung oleh masalah membuatnya tempramen.


“Nampaknya sudah direncanakan karena CCTV daerah rumah anda semuanya mati satu jam sebelum kejadian pembunuhan itu. Polisi juga sudah menyelidikinya dan tidak ada sidik jari apapun yang tertinggal, tapi…,”


“Tapi?” tanya Andrian.


“Aku menemukan dompet kosong di belakang rumah anda. Di mana mereka semua kabur lompat dari jendela kamar orangtua anda. Ketika polisi memeriksa ke sana. Sepertinya mereka tidak melihat ada dompet terjatuh karena hujan sudah membuat dompet ini sedikit tertimbun tanah. Jika saya lihat-lihat, ini sama sekali bukan selera orang-orang kaya sepertimu. Aku sudah memeriksanya dan ini bukan dompet yang harganya mahal.”