
Leon... Bisik Cloud dalam hati kemudian ia meluruskan pandangannya melihat satu sosok pendiri kartel yang belum pernah ia ketahui wajahnya. Dalam detik itu juga, tubuh Cloud mendadak membeku
"Selamat pagi son. "
Throwback
"Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk menyeludupkan charlie ke rumahnya. Tinggal sisanya kau yang melakukan tugasmu sebagai polisi. Aku harap kau bisa menyelesaikan malam ini."
"Kau jangan khawatir Leon, aku akan melakukannya malam ini. Tapi jangan kau lupakan janjimu."
"Tentu, 10% sahamku aku berikan untukmu Aisley."
"Baiklah aku tunggu kabar baiknya."
Pria itu menyudahi panggilannya. Ia duduk kembali untuk bergabung dengan sejoli yang tidak tau malu menampilkan kemesraan mereka. Chalk dan Amora.
Sejak Chalk berpisah dengan Mariana, karena perselingkuhan yang dilakukannya terungkap. Ia semakin menampilkan kemesraan mereka di depan publik ,bahkan Chalk sudah mengakui jika Amora adalah kekasihnya.
"Lihatlah honey, dia nampak frustrasi. " kekeh Chalk mengejek Leon.
"Brengsek!! " umpat Leon untuk relasinya. Lalu ia tersenyum licik. "Aku yakin setelah ini pemuda itu akan tertangkap."
"Kau ayah yang sangat kejam Leon. Putrimu pasti akan menderita."
Malam harinya...
"Surprise!!" pekik Hana ketika ia menekan sakral yang berada di dinding dekat pintu utama. Cloud tersenyum melihat ruang tamunya di sulap oleh kekasihnya untuk menyambut kepulangannya dari rumah sakit rehabilitasi. Hari ini Cloud dinyatakan bersih dari barang haraam tersebut.
"Kau yang mengerjakan ini semua Hana?" ia melihat keseluruh ruang tamu, penuh dengan pernak-pernik yang di pasang di dinding.
"Tentu aku yang mengerjakan ini sendiri, " bangganya seraya memeluk tangan Cloud. "Kau menyukainya? " Hana tersenyum seraya mencubit satu sisi wajah Cloud.
"Hmm... " Cloud sengaja tampak berpikir, yang langsung di dapati tatapan horor dari Hana membuat ia menarik kedua sudut bibirnya. "Sangat... Terimakasih sayang. " Ia pun memberikan kecupan di bibir Hana.
"Sama-sama. Sebaiknya kita masuk Cloud. " Hana jalan terlebih dahulu, ia meletakkan pizza di atas meja yang dibelinya tadi saat di perjalanan pulang.
Cloud masih diam ditempatnya merasakan ada yang berbeda. "Hey kenapa kau hanya diam, Cloud??" Hana kembali mendekati Cloud.
"Aku merindukan ibu, Hana." Cloud mengeluh sesal. Lama sekali, Cloud tidak bertemu ibunya. Bahkan sejak ia tinggal di apartemen yang dihadiahi Chalk, tidak ada komunikasi diantara mereka.
Hana menatap lekat wajah Cloud. "Maka dari itu, temui ibumu. Hmm." Kedua tangannya terulur ,mengusap kedua lengan Cloud. "Dan minta maaflah kepadanya.'
"Aku sudah membuatnya bersedih." Cloud tertunduk. "Apakah ibu akan memaafkanku Hana?"
"Pasti Cloud, " yakin Hana. Selama Cloud menjalani rehabilitasi, Hana kerap bertukar kabar dengan ibunya Cloud. Wanita itu selalu menanyakan keadaan Cloud. "Ibu akan menerima maafmu dengan tangan terbuka. Sekarang tunjukan senyumanmu yang mempesona."
Cloud menampilkan lagi senyumannya. "Oh senyuman mu semanis gula Cloud, dan aku beruntung menjadi semutnya." Kelakar Hana sukses membuat Cloud tertawa, saling menatap dalam sekejap bibir mereka menyatu. Entah siapa yang mulai, mereka sama-sama menikmati kelembutan bibir yang saling bertaut.
"Sekarang pejamkan matamu!"
"Cloud... " panggil Hana sebab Cloud tidak mengindahkan perintahnya. "Aku katakan pejamkan matamu." Hana menaikkan satu oktaf nada suaranya.
"Baik nona," Cloud memejam kedua matanya, ia sedikit mengintip, melihat Hana mengeluarkan sesuatu dari dalam tas.
Cloud menyempurnakan pejaman matanya agar tidak ketahuan.
"Sekarang bukalah matamu!" begitu mata Cloud terbuka. "Jrengg..Jrengg , tiket kereta untuk menjemput ibumu di New Jersey."
"Anggap saja ini hadiah untukmu karena usahamu untuk sembuh Cloud."
"Terimakasih sayang, " Cloud menarik tubuh Hana lalu ia memeluknya. Memeluk sangat erat.
Kruuukkk. Bunyi perut Hana terdengar, gelak tawa Cloud pun mengudara. "Kekasih ku sudah lapar rupanya. " Cloud mencubit hidung ramping Hana.
Hana tersenyum, tersipu malu.
"Kau Makanlah terlebih dahulu, aku ingin mandi dulu sebentar. "
"Aku akan menunggumu, makan sendiri itu tidak asik."
Cloud pun bergegas untuk mandi. Sambil menunggu Cloud, Hana mengeluarkan pizza dari dalam kantungan. Kemudian ia ke dapur untuk mengambil minuman.
"Kotak apa ini? perasaan tadi tidak ada." Hana memperhatikan ada 5 kotak yang tersusun di dapur. Ia membuka satu kotak tersebut yang berisikan charlie.
Seketika manik Hana membeliak, ia menggelengkan kepalanya ketakutan. Di dengarnya suara deru mobil, Hana melangkah ke ruang tamu lalu di balik tirai ia melihat beberapa polisi keluar dari mobil yang berhenti di depan rumah Cloud.
Hana segera berlari, mengarahkan kakinya ke kamar Cloud. "Cloud cepatlah keluar, ada polisi diluar." Hana setengah memekik, ia beralih mengambil pistol Cloud yang disimpannya di lemari dan menyembunyikan di balik baju.
"Ada apa Hana? "
"Di-diluar ada polisi Cloud. Sebaiknya kita pergi dari sini Cloud!! Aku tidak ingin kau tertangkap!"
Waktu terasa berhenti berputar, Cloud hanya diam. Pikirannya membeku, seolah kosong. Ia tidak bisa melawan rasa keterkejutannya menatap seseorang yang sedang melangkah mengarah ke arahnya.
Pria yang menjadi musuhnya adalah ayah dari kekasihnya. Sosok yang hangat saat itu, berubah menjadi seorang iblis menyeramkan. Pria itu menatap Cloud dengan tajam, bibirnya menyeringai.
"Kau tidak menyapa balik ayah dari kekasihmu, Cloud." Cloud masih terdiam, berusaha memahami fakta yang ia hadapi.
"Kau tidak sopan, bagaimana bisa putriku bisa mengencani pria sepertimu."
Alston menarik kursi, ia pun duduk persis di depan Cloud. "Kenapa kau diam? kau masih tidak percaya? " kekeh Alston mendominasi ruangan. "Apa aku perlu memperkenalkan diri lagi?"
"Baiklah, diammu aku anggap jawaban son. Perkenalkan aku adalah Leon. " Pengakuannya seraya menepuk pipi Cloud berkali-kali.
"Jangan kau sakiti putraku, Alston!"
"Kau pria buta, diamlah!! ini urusanku dengan putramu. Kau mau aku meerusak lagi wajahmu atau kau ingin aku merusak wajah putramu yang sangat mirip dengamu. "
Cloud semakin melebarkan pupil matanya. Jadi...
Alston tergelak, begitupun juga Ace dan dua anggota kartel. "Mereka sangat lucu, bukan?"
Kembali Alston menatap Cloud dengan tatapan ketidaksukaan." Relax son. Jangan tegang seperti itu."
"Bersikaplah seperti biasa saja, sama seperti pertama kita bertemu. Marii bertukar cerita."
.
.
.
🤪 Relax juga untuk kalian... Santuy.... Santuy... Jangan semosi... Jangan lupa like n komentarnya ya.. Terimakasih.. 💋 sun dulu biar reda semosinya 🤣