Reckless

Reckless
HUBUNGAN KITA SELESAI!



Aku bonus ini 1 bab lagi....


Jangan lupa like n komentarnya... Terimakasih ❤


Atlanta...



"Kita baru saja sampai, kau tidak merasa lelah Alana? " tanya Paula, ia memiringkan tubuhnya melihat Alana sedang membuka koper. Sahabatnya itu baru saja selesai mandi.


"Tidak Paula, aku tidak sabar untuk menemui kekasihku, dan memberinya kejutan. " Jawab Alana seraya mengeluarkan dua dress dari kopernya.


Ya Ayden tidak mengetahui keberangkatannya ke Atlanta untuk menghadiri fashion show. Alana sengaja merahasiakannya.


"Tunjukan dress mana yang cocok untukku? yang ini?" tanya Alana seraya menyematkan dress simpel tanpa lengan berwana biru soft di tubuhnya. "Atau dress ini? " tanyanya lagi, menyematkan dress model sabrina bewarna kuning.


"Keduanya sangat cocok untukmu Alana. Tapi, dress sabrina berwarna kuning itu, ku rasa pilihan yang tepat. Kau akan terlihat manis, dan.. "


"Dengan leher jenjang serta tulang selangka mu yang terexpose, kau akan terlihat seksih.. " Desaahnya menggoda Alana membuat ia mendapatkan underwear miliknya terbang mengenai wajahnya. Sontak ia tertawa, dan bangun dari posisinya.


"Ulalaaa... Kau sangat nakal Alana. Apakah kau juga melakukan serupa terhadap Ayden?"


"Apa maksudmu Paula?? "


"Melepaskan underwearmu, dan.... "


"Dan hilangkan pikiran liarrmu itu PAULA LORDEZ!! ITU TIDAK PERNAH TERJADI!" pekik Alana memotong kalimat sahabatnya itu.


Paula kembali menertawakan amukan Alana. "Tapi Alana kau harus tau, riset membuktikan jika para pria menyukai wanita bertingkah liar saat di ranjang. "


"Ya.. Ya.. Terimakasih atas informasinya. Sekarang aku harus bersiap. "


Alana bergegas masuk ke dalam toilet membawa dressnya. Dress berwana kuning, fix menjadi pilihannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Alana kini tengah bersiap, dan duduk di depan meja rias.


Paula memperhatikan sahabatnya dari cermin, wajah Alana terlihat berseri-seri.


"Bagaimana penampilan ku? " tanya Alana setelah memberikan sedikit sentuhan di wajahnya.


Paula tersenyum seraya mengacungkan ibu jarinya. "Perfect!! Aku yakin si tampan itu akan semakin tergila-gila pada mu. "


"Aku pergi sekarang Paula, aku akan usahakan pulang agak cepat. "


"Jangan fikirkan aku, aku bisa menikmati tidur siangku. Ah.. " Paula kembali merebahkan tubuhnya. "Kau berhati-hatilah, dan jangan lupa cheesecake mu, aku memindahkannya ke dalam kulkas. "


Alana menepuk dahinya. "Hampir saja aku melupakannya, terimakasih Paula. Aku pergi. "


Setelah berpamitan, Alana mengambil cheesecake yang di buatnya untuk Ayden, berada di dalam kulkas. Pasti dia akan menyukainya.


🍂🍂🍂


Alana sudah sampai di depan unit apartemen milik Ayden untuk pertama kalinya. Ia merapikan lagi penampilannya sebelum menekan bel yang terletak di samping pintu.


Ia tertunduk, jantungnya pun berdegup dengan tempo yang sangat cepat. Kenapa Ayden lama sekali membuka pintu, apa dia tidak ada di apartemen?


Alana kembali menekan bel, tidak lama kemudian pintu unit terbuka. Alana semakin melebarkan senyumannya, seraya mengangkat wajahnya.


Senyuman yang tadi terbit, sirna begitu saja. Ia menatap ketidaksukaan kepada sosok yang berdiri di ambang pintu. Alana menelisik wanita yang pernah menjalin hubungan dengan kekasihnya. Wanita itu memakai baju tidur, dengan lipstik merah yang berantakan, dan terdapat banyak ruam merah di leher jenjangnya.


"Kenapa kau bisa berada di unit kekasihku? apa yang kau lakukan?? "


"Kau!!" pekik Alana, ingin melayangkan tamparan ke wajah Laurent namun ia urungkan saat maniknya melihat Ayden di dalam. Penampilan Ayden yang hanya memakai boxer membuat hati Alana semakin sakit. Maniknya pun terasa panas.


"Alana! " gumamnya. Ia baru saja bangun, dan terkejut melihat sosok lain disana. Laurent. Terburu-buru, ia membawa kakinya mendekati sang kekasih untuk menjelaskan.


"Berhentilah kau disana, brengsek!! jangan coba-coba mendekat!" pekik Alana tidak dihiraukan Ayden, pria itu semakin mempercepat langkahnya.


Alana berbalik, ia berlari meninggalkan apartemen Ayden seraya menahan air matanya yang sudah hadir di pelupuk matanya. Aku tidak boleh menangis.


"Alana.. " panggil Ayden lagi masih mengejarnya. Alana mengabaikan panggilan Ayden. Ia masih saja terus berlari melewati lorong. Melihat pintu lift terbuka Alana langsung masuk, dan menekan tombol lift. Pintu lift pun tertutup.


"Sial..!! " Ayden membelokkan kakinya menuju tangga darurat, ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Bahkan ia melupakan penampilannya saat ini yang hanya memakai boxer.


Alana tiba dilantai dasar, ia keluar dari gedung apartemen begitu saja. Kenapa tidak ada taksi?? keluhnya seraya merotasi pandangannya. Kemudian, ia melanjutkan langkahnya.


"Alana.... " Ayden menggapai, dan menarik pergelangan tangan Alana, membuat tubuh kekasihnya berbalik dan menabraknya.


"Lepaskan aku, brengsek! " Alana menggerakkan tangannya untuk melepaskan diri. Sialnya cengkraman tangan Ayden semakin kuat.


"Aku ingin menjelaskan semua padamu. "


Alana meringis kesakitan di bagian pergelangannya. Sontak membuat Ayden melepaskan genggamannya.


"Simpan saja Alasanmu itu Ayden, tanda lipstik di lehermu, dan ruam dileher wanita itu sudah bisa menjadi bukti apa yang terjadi pada kalian. "


"Tanda lipstik?? "


"Jangan mengelak lagi Ayden, dengan pertanyaan bodohmu itu. "


"Aku bersumpah aku tidak melakukan apa-apa, sayang. "


"Lalu bagaimana mantan mu bisa masuk ke dalam apartemen mu, hah?? apa dia casper bisa muncul dari balik dinding, atau dia punya kemampuan untuk memanjat gendung dan menyelinap dari jendela!! "


"Kenapa kau diam?? kau tidak bisa menjelaskan bukan??" Diamnya Ayden membuat Alana semakin kecewa. Oh ayolah, ia masih berharap Ayden bisa menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang masuk akal.


"Aku bersumpah, aku menyesal bisa mengenalmu dan menjalin hubungan denganmu!! " pekik Alana. Matanya semakin terasa berdenyut, berkaca-kaca, dan sekali kedipan air matanya pun luruh.


"Jangan menangis Alana" Ayden mengulurkan tanganya untuk menghapus air mata itu, Alana langsung menepisnya. "Aku bersumpah aku tidak melakukan apapun. " Ayden semakin frustasi, Alana tidak mau mendengarkan penjelasannya.


"Hubungan kita selesai Ayden," keputusan Alana seraya melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Ayden memegang kedua pundak Alana. Tidak Terima dengan keputusan Alana. "Tidak sayang, please jangan seperti ini. Tolong, dengarkan aku!! "


Alana terdiam, menatap Ayden dengan tatapan nyalang. "Aku tidak ingin men.. Umm.. " Ayden membungkam bibirnya, meluumat dengan rakus membuat Alana memejamkan matanya.


Tanpa perlu aku menjawab, kau bisa mengetahui jawabanya dari penampilan ku sekarang, nona Alana Gracy.


Alana mengeram, ia mengigit bibir bawah Ayden sehingga ciumaan mereka terlepas. "Kau memang brengsek!! " kata Alana melihat bibir Ayden sedikit terluka. Ia melempar cincin ke sembarang arah, lalu ia berbalik meninggalkan Ayden.


Ayden kembali mengejar Alana.


"Taksiii!! " teriak Alana seraya melambaikan tangannya. Begitu, kendaraan roda empat itu berhenti, Alana segera membuka, dan menutup pintu di bagian penumpang.


"Please Alana, kita bisa bicarakan semua dengan baik-baik. "


"Jalan, sir.. " Driver itu melajukan kendaraannya. Alana melirik bayangan Ayden dari kaca spion depan. Lalu ia tertunduk, dan menangis.


Ayden terdiam menatap ke arah taksi yang ditumpangi Alana semakin jauh. Aku akan mencari bukti jika aku tidak bersalah Alana, dan aku pastikan kau akan kembali kepadaku.