
Kantor DEA
Aldric memasuki ruangan dengan dua rekannya membawa dus berisi suplemen yang di beli dari toko-toko yang berada di pusat kota. Tepatnya setelah Cloud memberi informasi terkait suplemen yang di masukan narkoba jenis kokain.
"Permisi sir. " Sapa Aldric, satu dari mereka meletakkan dus diatas meja.
Richard melihat anak buahnya masuk ke ruangan kerjanya, ia pun berdiri meninggalkan pekerjaan, dan mendekati mereka .
"Kami sudah membeli suplemen dari beberapa toko yang berada di pusat kota. Dari pantauan kami, harga yang dijual di pasaran berbeda dengan situs online resmi yang memproduksi suplemen tersebut."
Richard nampak serius, ia mengambil salah satu botol yang ditandai warna hijau, dan memeriksa komposisi yang terdapat dari suplemen tersebut.
"Suplemen untuk menurunkan berat badan."
"Iya Tuan, dari informasi, penjualan suplemen ini sudah berkembang sangat pesat bahkan sudah di ekspor ke beberapa negara."
Richard mengangguk. "Pennsauken, lokasi pabrik yang memproduksi suplemen ini. Lalu, yang mana suplemen kalian beli langsung dari situs resmi?"
"Ini Tuan," Aldric mengeluarkan botol suplemen yang ia tandai warna biru, dan memberikan kepada atasannya.
Kembali Richard meneliti botol yang nampak serupa, dan membandingkannya. "Ini sangat mirip... Ambilkan dua kertas dan letakkan di atas meja."
Richard memakai sarung tangan karet yang sudah disiapkan. Ia memulai memeriksa, dengan membuka botol, serta mengeluarkan serbuk dari kapsul diatas kertas. Richard memperhatikan serbuk dari dua kapsul dengan botol yang berbeda, dan menghidu aroma dari serbuk itu.
"Aromanya berbeda." Richard menghidu lagi aroma serbuk yang ia curigai serbuk kokain. " Aroma daun coca." Sebutnya dari pengalamannya memeriksa tumbuhan yang terdapat di baratlaut Amerika Selatan. Daun coca sebuah tanaman dalam famili Erythroxylaceae (suku koka-kokaan) . Famili Erythroxylaceae, tumbuhan berbunga tropis yang banyak dari spesies anggotanya mengandung senyawa kokain.
"Sean, bawakan dua botol ini untuk di uji. Kau Aldric, dan Arnold lakukan investigasi ke pabrik pembuatan suplemen ini langsung. Cari tau, mereka mengexpor ke negara mana. Aku curiga jika barang haram itu juga di expor. Jika memang iya, kemungkinan bea cukai terlibat. Lakukan dengan benar, jangan sampai ketahuan. "
"Baik sir." Ucap ketiganya, lalu mereka pun keluar. Richard, kembali duduk di belakang mejanya. Ia memeriksa email yang di kirim Cloud barusan. Cloud mengirim video berdurasi tiga puluh menit. Richard memutar vidio tersebut.
"Mereka mencampurkan serbuk suplemen, dengan serbuk kokain. Dan menyegel ulang produk tersebut. Oh Tuhan." Richard melihat sebuah kantong besar. Ia menghentikan video, dan memperbesar video rekaman itu. "Bahkan mereka membuat botol yang serupa."
Richard melanjutkan rekaman video, sampai Cloud bertemu dengan ketua kartel. "Chalk Parker...." Richard tercengang, dan tidak percaya. Richard mengenal betul sosok Chalk Parker, sosok yang ramah. Namanya sering tercantum dalam berbagai kegiatan sosial. Bahkan Mariana, istrinya bergabung dengan yayasan yang bergerak di bidang sosial, dan mempunyai panti asuhan.
"Sungguh ini sebuah kejutan... " Richard menyaksikan Cloud diberikan tugas oleh Chalk dam mendengar janji yang di ucapkan Chalk. "Dia sangat licik." Ucapnya geram.
Ada tamu rupanya.
"Siapa yang datang??" Richard menautkan alisnya, suara barinton yang terdengar tidak asing di indra pendengaranya.
Aisley, duduklah.
Richard memajukan tubuhnya yang menegang. Matanya membulat, melihat sosok yang terlibat dengan gebong narkoba. "Keepaarat!!" amuk Richard. "Aku sudah curiga jika dia terlibat. Aku harus segera bertindak."
🍂🍂🍂
Cloud memandang gedung bertingkat yang berada di depannya setelah ia memarkirkan kendaraanya. Dengan kesiapannya untuk menggagalkan misi pertama Chalk, ia melangkah maju untuk masuk. Bangunan yang pernah Cloud datangi, yang akan menjadi tempat pertemuan orang-orang penting di kota Philadelphia malam ini.
Selain menggagalkan misi Chalk, Cloud ingin mencari tau sosok yang terlibat dalam kartel Black Eagle. Leon adalah sosok misterius itu, yang berperan penting atas berdirinya kartel Black Eagle. Cloud mengingat nama Leon kerap di sebut oleh Chalk. Pria itu tidak pernah Cloud ketahui.
"Apakah benar kau yang bernama Cloud Heaven?"
"Ya, benar. " Cloud menjawab pertanyaan Gracy secukupnya.
Dia sangat tampan. Gracy membantin. "Namaku Gracy," wanita itu mengulurkan tangannya, dan Cloud pun membalas tanpa sahutan, bahkan ekpresinya sedingin mungkin.
"Tuan Chalk menghubungi ku. Beliau memintaku untuk mengantarmu ke ruang bawah tanah," Gracy berdeham pelan. "Apakah kau sudah mengetahui apa yang diperintahkan Tuan Chalk??"
Cloud mengangguk. "Tentu, saya sudah mengetahuinya."
"Oh, padahal aku tidak keberatan jika harus menjelaskan lagi kepadamu Cloud. Mari ikuti aku."
Wanita itu penuh semangat mengantar Cloud menuju ruang bawah tanah. Ruangan khusus untuk penyimpan wine-wine yang diproduksi Chalk, usaha lain yang di geluti pendiri kartel itu.
"Kau terlihat masih muda. Berapa usia mu Cloud?" kembali Gracy membuka suara, untuk berkenalan secara khusus dengan Cloud.
"24 tahun, " singkat Cloud bersikap acuh. Ia berada di belakang Gracy, mengikuti langkah jenjang wanita itu.
"Selisih 2 tahun denganku. Kau mempunyai seseorang kekasih??" tanyanya lagi.
Cloud memutar bola matanya. "Sudah.." Jawab Cloud dengan nada suara malas-malasan. Dia mulai jenuh menjawab pertanyaan Gracy yang bersifat privasi.
Mendegar ucapan Cloud, Gracy menghela napasnya. "Oh... "
Keduanya menuruni anak tangga, dan berhenti di depan pintu ruangan penyimpanan wine. "Masuklah Cloud," Gracy membukakan pintu untuk Cloud. Kedua pun masuk, dengan Cloud melangkah terlebih dahulu.
Begitu masuk, di dapati lemari terbuat jati yang terdapat banyaknya wine. Cloud mengitari pandangannya. "Ada yang ingin kau tanyakan Cloud?"
Cloud membalikkan tubuhnya. " Tidak ada, kau bisa kembali bekerja Nona. Terimakasih."
Gracy membuang napasnya. "Baiklah, kau bisa menggunakan lift yang terletak di sudut lorong untuk membawa wine." Jelas Gracy, lalu ia pun berlalu meninggalkan Cloud.
Setelah pintu tertutup, Cloud melanjutkan langkahnya. Ia mengambil beberapa botol wine yang akan disajikan untuk para tamu undangan sesuai kemauan Chalk.
Drrrtt....
Cloud mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari dalam saku celananya. "Hana... "
Sorry aku telat membalas pesanmu. Bersemangatlah untuk bekerja, Mi Chielo. Aku mencintaimu.
Belum sempat Cloud membalas pesan dari Hana, satu pesan berikutnya dari Hana pun masuk, menyusul. Potret Hana yang Cloud minta tadi, dan ia pun memandang lekat foto kekasihnya sedang tersenyum, dengan rambutnya yang sengaja di luruskan. Malam ini, Hana akan menemani Clara untuk datang ke pesta ulang tahun sepupunya.
Maafkan Aku sayang.
Cloud masih terus memandang potret Hana dengan rasa bersalah karena telah membohongi kekasihnya. Mengenai misi berbahaya yang Cloud lakukan, Hana tidak mengetahui sama sekali. Cloud merahasiakannya dari Hana, karena ia tidak ingin membuat Hana mengkhawatirkannya.
Sesegera Cloud membalas pesan tersebut, dan memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.
"Kau sudah datang Cloud. "