
Ayden setengah berlari masuk ke dalam gedung apartemen setelah setengah jam mencari cincin Alana di bantu Nick. Sahabatnya itu baru saja kembali setelah meninjau proyek rumah sakit.
"Siapa yang memberikan akses seseorang untuk masuk ke dalam unitku?" tanya Ayden kepada tiga resepsionis dengan suara yang latang. "Jawab!!" bentaknya membuat ketiga wanita itu ketakutan, tidak berani menatapnya.
"A-aku tuan ," jawab salah satu dari mereka dengan gugup. Wanita melirik sekilas ke arah Ayden, ia semakin ketakutan.
Ayden menarik udara sebanyak-banyak. Menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Kenapa kau melakukannya? " tanya Ayden menatap wanita itu.
"Maaf tuan, nona Laurent berkata anda sedang sakit, dan nomer ponsel anda sulit untuk dihubungi. Maka dari itu, dia memintaku untuk membuka pintu unitmu. "
Ayden mengusap wajahnya, frustasi. "Apa yang telah kau lakukan, membuat kekasihku salah paham. "
"Kekasih?? maaf, bukannya nona Laurent adalah kekasih anda tuan?"
Tanya wanita itu karena ketidaktahuannya tentang hubungan Ayden dengan Alana. Hubungan mereka masih di sembunyikan dari media, atas permintaan Alana. Terlebih, Laurent mengaku jika Ayden adalah kekasihnya dan menunjukan sebuah foto mereka.
"Laurent hanya masa lalu untuk sahabatku. " Nick mewakili Ayden untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Penjelasannya membuat wanita itu menyesal dan meminta maaf.
"Katakan dimana ruan CCTV-nya? " tanya Ayden kemudian. Hanya itu harapannya untuk menjadikan barang bukti jika ia tidak bersalah.
🍂🍂🍂
"Alana?? " gumam Paula, seraya menggosok matanya. Ia melihat siluet Alana berdiri di depan bilik kamar. Segera Paula mengunjungi sahabatnya itu. "Kau sudah pulang rupanya. Kenapa cepat sekali? " Paula berhenti dan berdiri di sisi Alana.
"Hei apa yang terjadi padamu, sayang? " tanya Paula melihat Alana sangat menyedihkan. "Kau habis bertengkar? " tebaknya tepat sasaran.
Alana hanya bergeming, lalu mengusap air matanya.
"Ceritakan apa yang telah terjadi? "
"Pria itu menghianatiku, Paula. " Singkatnya membuat Paula cukup terkejut. "Saat aku tiba di apartemennya, aku bertemu dengan Laurent." Menyebut wanita itu, wajah Alana berubah memerah karena amarah yang masih bercokol hatinya. Terlebih ucapan wanita itu diringi senyuman seolah meledeknya.
"Laurent?? mantan kekasihnya yang seksih itu? "
"Kenapa kau menyebut wanita itu seksih? dia telah merebut kekasihku. " Jawab Alana semakin kesal. Sebenarnya sahabatnya ini di pihaknya atau di pihak wanita yang kerap dipanggil ULET KEKET oleh netijen hah.
Astaga aku salah ucap. Paula mengusap belakang tengkuk lehernya, mengerutuki ucapannya yang tadi. Mulutnya kerap merespon cepat, diakuinya jika Laurent sangat-sangat seksi, dan pasti Alana setuju dengan penilaiannya. Namun situasi kali ini berbeda, si seksi maksudnya ulet keket sudah membuat sahabatnya marah dan sedih. Tiba-tiba ia merasa panas.
"Well, kenapa kau tidak merebut kembali kekasihmu sayang. Kau bisa menjambak rambutnya, menendang bokoonnya atau kau bisa mencumbuu Ayden di depannya menunjukan bahwa Ayden adalah kekasihmu." Semudah itu dia memberi saran. Tapi apa yang dikatakannya ada benarnya. Wanita seperti Laurent harus di lawan. Namun kembali lagi, tidak semua wanita bisa melakukan hal itu. Terlebih profesi Alana seorang disainer, dan kemungkinan jika Alana melakukan tindakan itu, beritanya akan masuk ke media dengan judul "Alana Gracy melakukan kekerasan terhadap mantan dari kekasihnya". Ck, tentunya akan menurunkan citranya sebagai disainer.
"Bagaimana aku bisa melakukannya, sedangkan dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat banyak ruam merah di leher wanita itu, dan--- di leher si brengsek itu terdapat noda lipstik. " Alana menahan air matanya agar tidak menangisi lagi pria bodoh itu. Sudah satu jam lamanya ia menangis, dan menciptakan warna merah di maniknya. Ia lelah, dan yang ia butuhkan sekarang adalah ranjang. Menangis lagi akan membuat ia semakin menyedihkan.
"Lantas, kau seratus persen percaya dengan apa yang kau liat??" tanya Paula sukses membuat Alana tiba-tiba berpikir, apakah benar jika dia salah paham.
Sebernarnya, tidak ada yang salah dengan fikiran Alana. Wanita cenderung lebih banyak menggunakan hati daripada akalnya, dan hal itu berdasarkan apa yang ia lihat.
"Bisa saja Ayden dijebak wanita itu, untuk menghancurkan hubungan kalian. " Lanjut Paula ada benarnya. Terlebih ex mantan Laurent di tahan, bisa jadi ia ingin merebut hati Ayden kembali dengan cara menggodanya.
"Jika apa yang aku lihat, benar bagaimana? " nyatanya emosi masih berkuasa, menciptakan ego dalam diri Alana.
Paula terdiam sementara, lalu. "Kau bisa memastikan lagi kebenarannya, Alana sayang. "
"Memastikan lagi bagaimana? " tanya Alana berbarengan ponsel Paula berdering. "Terima dulu panggilan itu. "
Paula melangkah ke dalam kamar, di ikuti Alana. "Ayden, " gumamnya masih di dengar Alana.
"Angkatlah, dan katakan jika aku tidak ada." perintahnyam
Di dalam hati kecil Alana, ia berharap jika dugaan Paula benar. Jika dia yang salah paham terhadap Ayden. Ah mendadak ia merindukan pria itu.
"Kau menyuruhku untuk berbohong? " tanyanya yang dijawab Alana dengan anggukan. "Kau sahabat macam apa Alana, menyuruhku untuk melakukan kebohongan. " keluhnya membuat Alana tersenyum.
Hingga dering ponsel itu berhenti, jeda satu menit ponsel Paula berbunyi lagi. "Cepat angkatlah Paula! "
Paula akhirnya menerima panggilan dari kekasih sahabatnya, sekaligus idolanya itu. " Ya halo Ayden. Ada apa kau menghubungi ku? " Alana merampas ponselnya dan mengubah ke mode loudspeaker.
"Apa Alana bersamamu?" tanya Ayden tergesa.
Paula melirik ke arah Alana, langsung mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya itu. "Ti- tidak, bukannya dia bersamamu Ayden? "
"Astaga... " suara pria itu terdengar semakin frustasi dari sebrang sana.
"Sebenernya apa yang telah terjadi? "
"Nanti aku akan menceritakannya, aku ingin mencari Alana lagi. "
Paula menatap Alana, seraya menggelengkan kepalanya. Rasa-rasanya ia ingin membongkar kebohongannya, dan mengatakan bahwa Alana bersamanya sedang duduk santai diatas ranjang.
"Um baiklah... " Setelah panggilan terputus, Paula meletakkan ponselnya ke tempat semula. "Dia sedang mencarimu, Alana. "
"Aku sudah mendengarnya. " Ada rasa tidak tega mendengar suara Ayden tadi. Cemas ya jelas, Alana bisa mendengar helaan napas dari pria itu yang berat.
Alana mengambil pakaiannya memutuskan untuk berendam, ia butuh air dingin untuk menjernihkan fikirannya . "Aku ingin berendam. Jangan coba-coba kau menghubunginya. " Egonya ternyata masih di junjunginya, tepatnya Alana ingin mengetahui sejauh mana pria itu berusaha. Sedikit kejam, tapi yasudahlah, wanita kan perlu pembuktian.
Alana sudah menghilang dari sana, Paula mengambil kembali ponselnya yang terletak diatas meja. Jangan mencoba-coba kau menghubunginya.
"Tenang saja Alana Gracy, aku akan mematuhi perintahmu untuk tidak menghubungi Ayden. Bukankah banyak jalan menuju Roma. "
Senyuman licik pun terbit di bibirnya. Sesegera ia memberi pesan kepada sahabat dari kekasih sahabatnya.
Nick apa kau bersama Ayden? jika ia... Katakan padanya, Alana bersamaku. Datanglah ke Renaissance Atlanta Waverly Hotel no kamar 120.