Reckless

Reckless
MAAF



Cloud menatap tidak percaya, air wajahnya pias namun penuh amarah. Ia melihat bagaimana Hana merespon sentuhan dari pria itu, membuat hati Cloud benar-benar terluka. Perasaannya cemburu, muak, dan juga hancur. Ia tidak pernah merasakan rasa sakit yang teramat dalam seperti malam ini.


Setengah jam lalu, ia begitu semangat untuk memberi Hana sebuah kejutan dengan menyusul kekasihnya. Cloud mengendarai motornya dengan rasa bahagia, namun sesampainya di depan cafe senyum bahagia yang tadi terbit menghilang, saat maniknya melihat Hana bercuumbu dengan seseorang.


Cloud mengepal kuat kedua tangannya, rahang tegasnya pun mengerat. Dengan tatapan nyalang, Cloud mendekat kembali ke arah Arthur. "Breengsek!!" teriak Cloud seraya mendorong Arthur.


Cloud segera melayangkan satu tinjunya mengenai wajah pria itu. Wajah Arthur memar, dan darah segar keluar dari hidungnya. "Apa yang kau lakukan, syialan??" Arthur melakukan serangan balik, dengan melayangkan tinjunya. Bibir Cloud memar, dan berdarah.


Cloud mengerang, napasnya pun terengah. Ia menerjang tubuh Arthur sehingga pria itu terhuyung, dan terjatuh. Cloud mencengkram kuat kemeja Arthur dan menghajar pria yang berada di bawah tubuhnya membabi buta.


"Menyingkirlah breengsek!! cihh!!" Arthur membuang salivanya yang bercampur darah mengenai wajah Cloud. Ia memutar tubuhnya untuk menyelamatkan diri dari Cloud. Begitu berhasil, Arthur bangkit. Ia menyeka darah yang keluar dari bibirnya.


"Aku sudah tidak kuat, lagi!!" pekik Hana di dalam mobil sontak membuat Cloud membatalkan niatnya untuk menghajar sosok pria yang tidak ia kenali itu. Cloud mendekati Hana, yang sedang mencoba melepaskan dressnya. Cloud secepatnya menahan pergerakan Hana, dan menggeleng.


"Sekujur tubuh ku semakin memanas. Tolong aku, aku mohon!" lirih Hana lagi. Ia menarik tubuh Cloud ke depan, dan mencium kekasihnya itu.


Cloud merasakan ada sesuatu tidak beres dengan tingkah kekasihnya itu, ia melepaskan pangutannya terlebih dahulu. "Apa yang terjadi denganmu, Hana?"


Brugh...Arthur menyerang Cloud dari belakang, memukul punggung Cloud menggunakan kayu.


Siaalaan. Cloud memutar, dan langsung menendang inti tubuh Arthur. Arthur yang sudah mulai lemah, kembali tumbang dan meringis kesakitan.


Cloud mengatur napasnya yang terengah, dan sekali lagi Cloud menendang baian kaki pria itu sebelum ia membalikkan tubuhnya. Cloud melepaskan jaketnya, menutupi tubuh Hana, dalam sekali hentakan Cloud mengangkat tubuh Hana yang sudah basah karena kringat.


"Hampir saja aku salah paham padamu Hana.. Maaf.. Maafkan aku." Gumam Cloud menyesal.


🍂🍂🍂


"Bagaimana keadaanmu Hana, hmm?" tanyanya, menatap khawatir ke arah kekasihnya yang terpejam di dalam bath up. Beberapa menit yang lalu, Cloud membawa Hana ke sebuah penginapan yang tidak jauh dari lokasi cafe.


Mendengar suara Cloud, Hana membuka kelopak matanya perlahan, dan tersenyum samar. "Sudah lebih baik Cloud." jawab Hana seraya menegakkan tubuhnya.


"Syukurlah," Cloud membuang napas dengan lega. "Kau ingin keluar?" Hana mengangguk.


Cloud membantu Hana untuk berdiri, dan menuntun Hana keluar dari buth up. Dikeringkan tubuh Hana yang basah menggunakan handuk yang di genggam sejak tadi. Ia berputar, berdiri di belakang Hana menarik kebawah zipper dress yang masih melekat di tubuh kekasihnya.


Cloud menelan ludahnya susah payah, menatap punggung mulus Hana membuat jantungnya berdegup kecang. Cloud mengikis jarak, ia membawa rambut coklat Hana ke depan, dan mengecup singkat tengkuk leher Hana berhasil membuat Hana tersentak dengan bibirnya sedikit terbuka.


Hana memejamkan kedua matanya. Dirasakan jemari Cloud meraba punggungnya. "Cloud.... " desaah Hana panjang. Tubuhnya mendadak menegang ketika jemari Cloud bergerak keatas, dan menarik kedua tali spageti dressnya, sehingga dressnya meluncur ke bawah kakinya.


Cloud berusaha menahan diri untuk melawan gelora yang sudah membakar dirinya. Lalu, tangannya bergerak. Ia mengambil badrobe dari meja wastafel, dan menyematkannya ketubuh Hana. Ia membantu Hana lagi memakai gaun yang terbuat dari bahan handuk itu.


"Sedikit Hana," jawab Cloud sambil menghela napasnya. Ia mengingat insiden yang telah terjadi kepada kekasihnya. Beruntung ia tidak meninggalkan Hana saat tadi. Cloud tidak bisa membayangkan apa yang terjadi, jika ia meniggalkan Hana.


"Tapi kau harus segera diobati." Cloud mengangguk setuju.


"Sebaiknya kita keluar dari sini Hana," saran Cloud. Ia menggapai tangan Hana berniat untuk keluar.


"Cloud, kau keluarlah terlebih dahulu." Cloud mengerutkan dahinya, tidak mengerti. Tatapannya mengisyaratkan tanda tanya.


Hana berdeham pelan mendadak tenggorokannya kering. "A-Aku, aku ingin melepaskan underpantsku." Hana berpaling untuk menyembunyikan wajahnya.


"Bagaimana jika aku membantumu? melepaskan---" Cloud menggantung lanjutan kalimatnya. Ia tersenyum miring, menggoda Hana.


Hana melebarkan maniknya, kembali ia menatap Cloud. "Jangan berbicara yang tidak-tidak Cloud." Wajah Hana memerah. Kata-kataa Cloud barusan membuat jantung Hana berhenti sepersekian detik dan datang, menghentak berkali-kali.


"Keluarlah!" perintah Hana sekali lagi yang di kabulkan langsung oleh Cloud. Pria itu melangkah pelan, dan duduk di tepian tempat tidur menunggu Hana. Cloud menggesekkan kedua telapak tangannya, menghilangkan rasa gugupnya. Apa yang harus ia lakukan setelah ini. Cloud mendadak blank, tidak bisa berfikir dengan jernih. Otaknya sudah terkontaminasi dengan bayangan Hana di kamar mandi tadi. Hal itulah yang menjadi penyebabnya.


Tidak lama kemudian, Hana muncul dari balik pintu kamar mandi. Ia melangkah pelan menghampiri Cloud kemudian, lalu Hana pun mendaratkan bonkoongnya, duduk di samping Cloud.


"Apakah kau merasa lapar Hana?"


Hana mengangguk. "Iya Cloud, mendadak aku lapar jika sedang nervous." Hana menggigit lidahnya. Oh ya Tuhan.. Aku keceplosan.


Cloud pun terkekeh dibuatnya. "Jadi kau nervous??" tanya Cloud yang jelas-jelas menggoda Hana. Ketahuilah, Cloud juga merasakan nervous seperti Hana.


Hana tersenyum kikuk, malu, dan kedua pipinya merona. "Cepatlah pesan makanan Cloud , aku sudah kelaparan. Dan juga batu es untuk mengompres lukamu."


Cloud mengusap rambut Hana yang lembab. "Baiklah Nona, kau ingin makan apa?" tanya Cloud kemudian. Ia mengambil telepon yang tersedia di dalam kamar penginapan.


"Chicken wings dengan saus keju, Sicilian Pizza, dan minumannya orange jus." pesan Hana kepada Cloud, mendadak ia melupakan makan malamnya dengan menu sehat. Hana benar-benar lapar, dan ia butuh tenaga untuk kedepannya.


Eehh... Tenaga untuk apa Hanaa? jangan gantung netijen 😜


Catatan :


👉 Flibanserin : jenis obat peeraangsang. Selain pusing, mual, kelelahan dan kantuk, obat seperti itu bisa menyebabkan lupa sementara. Sedangkan, untuk pemakaian lama, dan terus menerus bisa mengalami kerusak pada saraf.


'Ingat! Kejahatan bnukan semata-mata karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah! Waspadalah!' mendadak otor jadi mak Napiii. 🤣