
"Jumlah pemakai Narkotika di kota Philadelphia naik 35% dalam sebulan terakhir." Seorang pria berseragam biru berdiri menjelaskan tentang lonjakan pemakai barang haram di depan pimpinannya dan rekan kerjanya.
Pria itu menatap sang ketua yang terlihat frustasi karena misi mengagalkan penjualan barang haram di Philadelphia tepatnya South Philly, hal itu tidak benar-benar terjadi. Informasi yang mereka dapat, faktanya tidak ada transaksi penjualan obat-obatan terlarang di sana.
Pria bernama Richard, ketua agen DEA mengerus rahang tegasnya. Manik yang dimiliki pria itu menajam, dan nampak berfikir.
Kasus lonjakan narkotika membawa dampak buruk yang sangat besar. Penyeludupan dan transaksi tidak hanya di lakukan secara langsung, para penjahat itu juga melakukan aksinya dengan jasa pengiriman secara online, dan pengiriman door to door.
Tuntutan demi tuntutan dari pemerintah kerap dilayangkan. Namun kembali, menangkap sosok dibalik kejahatan narkotika bukan perkara yang mudah. Faktanya penangkapan beberapa pengedar yang mereka lakukan tidak memberikan titik terang siapa sosok kartel tersebut. Tidak sama sekali. Bahkan mereka para pengedar, siap mati daripada membuka identitas ketua mereka.
Seperti tiga pria yang mereka tangkap di akhir pekan lalu. Saat proses penyelidikan, mereka bungkam dan pada akhirnya mereka meminta untuk dibunuh. Kematian seperti batu loncatan mereka untuk melindungi keluarga mereka. Mereka yang terlanjur terjerumus dengan iming-iming kemewahan pada akhirnya terperangkap. Menyesal pun tidak ada gunanya. Janji manis yang di ucapkan sang ketua kartel untuk menjamin kehidupan mereka, hanya sebuah angin yang menyejukkan di awal, dan pada akhirnya badai tetap menghampiri mereka.
"Dan diprediksikan akan semakin meningkat di setiap bulannya." Lanjut pria berseragam biru itu, bernama Aldric. Kembali ia menatap ketuanya, yang masih bergeming begitu juga rekannya.
"Tetap lanjutkan misi pencarian. Kau Abigail lacak situs-situs yang mereka miliki, dan lakukan peretasan."
"Baik, Sir. " Jawab Abigail.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Muncul dua anggota agen membawa sebuah kantongan hitam. "Sir, kami menemukan beberapa alat suntik di Presque Isle State Park."
Salah satu taman terbaik di Pennsylvania, terletak di sebuah semenanjung yang melengkung ke Danau Erie, menciptakan Presque Isle Bay, pusat pelayaran dan transportasi penting. Presque Isle State Park kerap di jadikan tempat konser musim panas yang dibuka untuk umum.
"Dan..... Juga ada beberapa plastik yang berlabel H&L." Richard mengambil sarung tangan berbahan karet dan memakainya. Ia membuka bungkusan hitam, memeriksa benda-benda yang di bawa anggotanya. Anggota agen lainnya ikut berkerumun.
"Abigail, coba kau cari tentang H&L di situs online. "
Abigail segera melakukan pencarian di laptopnya. Namun, tidak ada daftar pencarian dengan nama H&L."Aku tidak menemukannya Sir...."
Richard mendesah pelan, diangkatlah pelastik berlebel H&L dan di bawanya ke bawah sinar lampu. Terdapat tulisa kecil yang terdapat di pinggiran plastik kecil tersebut "Charlie..."
"Ini sebutan barang haram mereka, untuk mengelabui kita semua. Abigail coba kau cari lagi." Perintahnya lagi.
Terdengar dering telepon mengalihkan semua. Aldric dengan segera mengangkat telepon tersebut. "Ya Haloo, selamat siang dari Drug Enforcement Administration ..Ada yang bisa kami bantu. "
"Apa? Kau mengetahui dalang penjualan obat terlarang? Hei... Anak muda jangan kau mempermainkan kami dengan ceritamu."
Aldric tiba-tiba mematung. "Ada apa Aldric?" tanya Richard.
"Sebentar Dude... " tahan Aldric. Lalu tatapannya ke arah ketuanya. "Pria yang menghubungi kita, mengetahui tentang Charlie Sir..."
Richard mengambil alih telepon yang masih berada di genggaman Aldric. " Ya.. Haloo.. "
Richard menompang tubuhnya dengan satu tangannya. Ia menajamkan pendengaran untuk mendengar kalimat dan penjelasan dari sang penelepon.
"Siapa namamu, Nak?"
"Cloud Heaven, Sir... "
🍂🍂🍂
Cloud mengakhiri panggilannya. Kembali ia menuntaskan memasang kamera kecil di sebuah kalung yang sengaja ia beli untuk menjalankan misinya. Cloud harus mempersiapkan semua sebaik mungkin.
Cloud menghela nafasnya. "Selesai... " Cloud merapikan kalung dan juga peralatan yang ia gunakan untuk memasang kamera pengintai. Setelahnya Cloud keluar dari kamarnya, dan merotasi pandangannya ke ruangan keluar nampak kosong. Tidak ada Ibunya. Ariana diminta Cloud untuk pergi ke Palmyra yang terletak di Burlington County, di negara bagian New Jersey untuk menetap sementara waktu di kota tersebut bersama adik dari Ayahnya. Sudah 1 hari Ibunya berada disana.
"Astaga aku lapar sekali, " keluh Cloud seraya memegangi perutnya yang berbunyi. Sejak pagi ia sudah disibukkan memasang kamera, hingga ia melupakan jika belum ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya.
Cloud berencana kembali ke kamarnya untuk menghubungi kekasihnya. Namun, dentingan bel mengalihkan langkahnya. Cloud berjalan menuju pintu utama, dan .....
"Surprise!!" teriakan melingking dari sosok gadis yang di depannya membuat Cloud melebarkan maniknya, detik kemudian Cloud menarik dua sudut bibirnya.
"Apakah kau terkejut Cloud??" tanya Hana mengedip-mengedipkan matanya. Sungguh tingkah gadis itu membuat Cloud gemas.
"Oh astaga jantungku hampir saja mau copot." Cloud berpura-pura meringis kesakitan seraya memegang dadaanya. Nyatanya, jantungnya memang berpacu cepat bila berhadapan dengan pemilik hatinya.
Hana mendesis pelan, dan melayangkan pukulan di lengan kekasihnya. "Jangan berlebihan Cloud, itu tidak lucu. " Cloud pun terkekeh pelan.
"Aku membawakan sesuatu untukmu."
Cloud mengernyit, melihat paper bag yang berada ditangan Hana. "Kau membawa apa, mi alma gamela, hmm?"
"Kau tidak memperbolehkan aku masuk terlebih dahulu."
Cloud tersenyum lagi. "Masuklah my Queen." Cloud sedikit membungkuk, dan meraih tangan Hana.
"Dimana Ibu, Cloud?" Hana meletakkan paper bag di meja bar yang terletak di dapur.
"Ibu sedang pergi ke Palmyra, Hana. " Cloud membuka pintu kulkas, dan mengeluarkan botol berisi air mineral. "Kau mau orange jus?"
"Tidak Cloud, air mineral saja sudah cukup. " Hana duduk di kursi, memandang kekasihnya yang sedang menuangkan minuman untuknya. "Dari kapan Ibu berangkat? kau tidak memberitahu ku."
"Satu hari yang lalu, Hana. Maaf aku lupa memberitahumu."
Oh Tuhan, aku hanya berdua dengan Cloud. Hana merasakan panas di daerah wajahnya. Aku harus bertingkah seperti biasanya.
Cloud kembali memasukan botol ke dalam kulkas. "Apa yang kau bawa?"
"Kau akan tau nanti. Apakah kau sudah lapar?"
"Ya, aku sudah lapar sayang. " Cloud mengitari meja bar, mengambil paper bag yang dibawa Hana dan mengajak Hana duduk di ruangan keluarga.
Mereka memilih duduk di bawah, duduk di hamparan yang terbuat dari kain tebal. "Kau membawa apa, Hana?"
"Bukalah, aku yang memasak untukmu dan juga untuk Ibu. Namun.... Ibu tidak ada. Untuk itu, aku meminta kau yang menghabiskannya. Bagaimana?"
"Jika, hanya aku yang mengahabiskan semua, lantas kau makan apa Hana? Apa kau hanya menyaksikan aku makan?"
"Tidak, aku akan makan...."
"Tapi dari tanganmu Cloud. "
Ada yang tahu tentang kasus Narkotika di kota Philadelphia? faktanya, kota Philadelphia disebut kota Zombie karena meningkatkan lonjakan narkotika disana, tepatnya di kawasan Kensington Avenue.
Menurut laporan Daily Mail, para pencandu itu mengonsumsi narkoba yang disebut 'tranq'. Wabah narkoba itu membuat epidemi 'tranq' yang membuat jalan-jalan kota menjadi seperti neraka yang penuh dengan obat-obatan terlarang.
Tidak hanya itu, area Kensington yang terkenal karena pasar terbuka narkoba, terlihat penuh sesak dengan pencandu yang sempoyongan, bahkan sebagian pingsan dan terkulai lemas di jalan. Para pecandu berkeliaran di luar tanpa malu-malu pada siang hari.
Info lengkapnya, sile cek sendiri. 🤭