
Hayoo yang menunggu part ini siapa?? 🤣
Hana membelalakan matanya, namun ia tidak sama sekali menolak ketika Cloud menarik lagi pinggangnya semakin mendekat. Sedikit jarak diatara mereka sehingga membuat keduanya menghidu aroma yang menguar dari tubuh mereka.
Hana memandang wajah Cloud secara dekat. Irisnya yang indah menatap setiap jengkal wajah Cloud selaras jemarinya bergulir menyentuh kulit wajah Cloud. "Kau sangat tampan, Cloud." puji Hana. Jemarinya kini bergerak naik turun mengusap rahang tegas milik Cloud.
"Kau baru menyadari jika kekasihmu ini begitu tampan?" kelakar Cloud untuk melawan respond tubuhnya atas sentuhan Hana.
"Justru aku sudah menyadari sebelum aku menjadi kekasihmu, Cloud." Jujurnya. Hana tertunduk malu, setelah menyampaikan yang ada di dalam hatinya.
Cloud ingin menyemburkan tawannya, tapi hanya senyuman merekah yang membingkai wajahnya. Hana terlalu menggemaskan saat tersipu, Cloud menyukai rona merah alami yang timbul di sisi wajah kekasihnya itu. "Terimakasih atas pujiannya, aku tersanjung."
Hana mengangkat kembali wajahnya, menatap Cloud dengan intens. "Kau tidak perlu mengucapkan terimakasih, Cloud. Memang itu sesuai faktanya. Lvy dan Clara pun mengakui ketampanan yang dimiliki olehmu."
"Kau tidak cemburu, kekasihmu dipuji kedua sahabatmu?"
"Tidak, justru aku begitu bangga mempunyai kekasih yang sangat tampan menyerupai dewa, hmm seperti..... Ah, ya dewa Apollo."
Cloud pun akhirnya tertawa. "Kau terlalu berlebihan, sayang."
"Omong-omong, mengenai Lvy... Kau mau aku beritahu sesuatu?"
"Memberitahu? Memberitahu apa?"
"Berjanjilah untuk menjaga rahasia ini. " Hana berbisik seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
Cloud tersenyum dan menautkan jarinya di jari Hana. "Aku berjanji. "
Hana memiringkan wajahnya, lalu berbisik ."Lvy, dan Mr. Aron pernah berkencan."
"Benarkah?" Hana mengangguk cepat. "Mereka menjalin hubungan?" Hana mengangguk lagi.
"Iya Cloud, baru beberapa hari yang lalu mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Kisah mereka sangat unik."
"Lalu bagaimana dengan kisah kita?" mendadak Cloud menunjukkan ekpresi seriusnya. Satu tanganya terangkat. Jari-jarinya merambat, membelai wajah Hana.
Hana tersenyum kikuk. "Ya, se-seperti ini Cloud...Selalu bersama."
"Aku juga berharap demikian."
Ya, keduanya memiliki harapan yang sama. Harapan untuk selalu bersama dengan kebahagiaan yang berlimpah. Namun bukankah dibalik kata harapan ada kata takdir??
"Di dunia ini tidak ada hal yang menyakitkan selain perpisahan. Dan aku... "
"Shttt, " Cloud meletakan jari telunjuknya di atas bibir Hana. "Jangan dilanjutkan, okeh."
Ketahuilah, Cloud pun merasakan hal serupa. Perpisahan adalah sesuatu yang menyedihkan. Cloud mengingat bagaimana Ibunya begitu hancur ketika Ayahnya tiada, dan ia juga mengingat bagaimana perasaanya saat kejadian dimana Hana pergi untuk selamanya. Pertanyaan dalam benaknya. Apakah ia bisa mewujudkan harapannya untuk bahagia bersama Hana.
Tiba-tiba suasana menjadi tenang, namun kedua hati yang saling menyatu bergemuruh. Keduanya saling menatap penuh dengan cinta yang tersirat. Namun ada ketakutan di dalam manik mereka.
"Oh Ya Tuhan, kenapa jadi mellow seperti ini. Coba katakan apa yang kau sukai dan yang tidak kau sukai. Agar kita lebih saling mengenal, dan saling memahami."
Darah Hana berdesir, dan jantungnya juga menderap dengan kencang. Kalimat indah yang Cloud ucapkan membuat Hana termangu dengan lapisan cairan bening melapisi maniknya.
"Kecuali, air mata itu adalah air mata kebahagiaan."
Hana memeluk tubuh Cloud dengan erat. Cairan bening itu mencair, dan turun menyelusuri pipinya.
"Aku sangat mencintaimu," bisik Hana.
Cloud mendorong pelan tubuh Hana, dan menelisik wajah kekasihnya. "Tolong katakan lagi, Hana. A-aku ingin mendengarkanya lagi."
Hana menarik kedua ujung bibirnya. "Aku sangat mencintaimu, Cloud."
Cloud mengangkat tangannya, merangkup wajah Hana. "Aku juga sangat mencintaimu, Hana." Ibu jarinya menyapu bibir Hana, dan Cloud menciumnya.
Pangutan terasa manis, dan menghantarkan jiwa bersamaan dengan perasaannya untuk Hana seorang. Perasaannya tulus mencintai gadis yang memberikan warna dalam hidupnya. Dalam keadaan mata terpejam, Hana bisa merasakan jika Cloud menyimpan perasaan kepadanya yang semakin dalam untuknya.
Cloud melingkarkan satu tangannya di pinggang Hana. Pertemuan atau pergesekan dua kulit, menimbulkan atmosfer panas di dalam tubuh mereka, dan berhasil menghantarkan mereka pada gelombang cinta.
Dengan berat hati Cloud melepaskan pangutan mereka, disaat sudah terangah. Dengan posisi yang sama, masih saling berdekatan, Cloud mencecap rasa cherry yang berasal dari bibir Hana. "Ini sangat manis, Hana.. " Cloud mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jarinya.
Pipi Hana memerah, merona seperti tomat selaras debaran jantungnya yang bertabuh kencang. Kembali, Cloud mencium bibirnya. Tanpa sadar, tangannya sudah berpindah, mengalung indah di belakang tengkuk leher Cloud.
Hingga suara lengguhan dan cecapan mendominasi ruangan yang nampak tenang. Cloud menyelipkan tanganya di balik pakaian Hana, tangannya bergerak naik turun mengusap punggung Hana. Sotak membuat Hana menggeliat, nikmat.
Cloud membebaskan bibir Hana. Di kecup pelan dagu gadisnya lalu bibirnya bergerak menyelusuri leher jenjang kekasihnya. Menghidu feromon yang memang dihasilkan dari sana Cloud megecup berulang-ulang.
"Cloud... " Hana menahan napasnya. Sekujur tubuhnya membeku, merasakan gelora panas sudah memenuhi disetiap inchi tubuhnya, dan Hana merasakan sesuatu yang berkedut dibawah sana. Hana tersentak, lalu dengan cepat Hana mendorong tubuh Cloud, ia pun langsung berdiri.
"Kenapa disini begitu panas, Cloud." Hana berjalan ke arah belakang berniat membuka pintu arah taman belakang. Hana membuang nafasnya yang terengah-engah, dadaanya pun terasa sesak. Moment tadi begitu romantis, bergolara dan ya Hana merasakan sensasi luar biasa dahsyatnya.
Hana menggigit bibir bawahnya, ketika ia mengingat moment yang terjadi beberapa menit yang lalu.
Cloud masih terengah. Ia memijat pelipisnya, menetralisir deburan ombak yang menerjang tubuhnya. "Sepertinya aku harus mendinginkan tubuhku."
"Kau ingin kemana Cloud?"
"Aku ingin ke kamar mandi Hana." Cloud tersenyum samar. Lalu melangkah cepat memasuki kamarnya. Sumpah demi apapun, melihat Hana semakin membuatnya tersiksa. Terlebih penampilan Hana yang sedikit berantakan seolah menggodannya.
Hana terdiam, ia pun menghela napasnya. Ternyata, udara di luar tidak berhasil menurunkan suhu panas yang menyerang tubuhnya. Hana kembali duduk, guna menunggu Cloud.
Memerlukan waktu yang lama untuk mendinginkan tubuhnya, akhirnya Cloud keluar dari kamarnya dengan wajah yang segar. "Maaf telah membuatmu menunggu lama."
Tidak ada sautan, Cloud tersenyum memandang Hana yang sudah terlelap. Dibelailah permukaan wajah Hana kemudian, lalu dengan sekali gerakan Cloud mengangkat tubuh Hana dan membawa ke dalam kamarnya.
Cloud meletakkan Hana diatas tempat tidurnya begitu ia sampai. Cloud memutar langkahnya, merebahkan tubuhnya persis disamping Hana. Dipandangi lagi wajah Hana yang tenang dari samping. "Kau sangat cantik Hana," bisik Cloud, menganggumi kekasihnya itu, dan Cloud memberikan kecupan di kening Hana. "Semoga kau selalu bahagia sayang. "
Bagaimana part kali ini?? 🙈 Mohon tinggalkan like n komentar kalian ya... Terimakasih ❤