Reckless

Reckless
NASIB OMELLETE



Cloud menegakkan tubuhnya, tangannya bergerak melepaskan benda terakhir yang tersisa di tubuh Hana. Deg... Jantung Cloud berdebar hebat. Ketika matanya melihat keseluruhan pemandangan dibawahnya, indah. Satu kata yang cukup menggambarkan kekasihnya ini.


Keduanya lagi-lagi saling menatap dengan detak jantung mereka semakin liar berpacu. Menghentak-hentak dengan kuat. Cloud, maupun Hana merasakan atmosfer panas sudah memenuhi keseluruhan tubuh mereka.


Ditatapnya mata Cloud yang mengunci tatapannya. Tak melepas. Memandang dengan mata yang berkabut penuh damba.


Keduanya semakin larut, semakin tenggelam dan saling menginginkan dengan hasraat yang semakin bergelora.


Cloud menanggalkan celananya. Ia segera mengungkung tubuh Hana, dan menciuumi bibir ranum Hana yang bisa memanjainya.


Hana merangkup wajah Cloud. Tatapannya sayu menatap wajah Cloud. "Lakukan sekarang Cloud." Bisik Hana tiba-tiba dengan suara parau.


Cloud mengecup kening gadisnya dengan penuh kasih sayang. Lalu, berbisik. "Maaf jika nanti aku akan menyakitimu."


Hana membelai tubuh kerasnya Cloud, membalas memanjakan dengan jemari-jemarinya. "No problem Cloud." Hana tersenyum lembut. Seolah memberi izin agar Cloud memerasai tubuhnya saat ini.


Cloud memposisikan dirinya di antara tungkai Hana, sementara pinggulnya maju siap untuk menyatu. Hingga.... Pergerakan itu menghasilkan suara merdu dari mulut Hana.


Suara desaahan Hana, membaur dengan suara deras hujan yang masih setia membasahi Philadelphia. Hana merasai sesuatu di inti tubuhnya, menekan perlahan. Membuatnya ia mengerjap, lantas membuka matanya.


"Cloud, " panggil Hana, suaranya pelan, serak penuh gaiyraah.


"Hmm??" Cloud menjawab hanya dengan gumam.


"Aku mencintaimu," katanya bersamaan Cloud masuk ke dalam tubuhnya.


Napasnya tercekat. Hana menutup matanya rapat-rapat. Ia membawa tangannya, menyentuh punggung Cloud lalu mencengkramnya. Kembali desaau resaaah keduanya mendominasi, angin yang masuk dari jendela tidak berhasil meneduhkan tubuh mereka yang semakin memanas. Dorongan Cloud di bawah sana, amat perlahan, tertati, dan hal itu membuat Hana terdorong, dan masuk ke dalam jurang kenikmaatan dunia.


Keduanya larut dalam malam yang panas....


Penuh cinta...


Penuh gaiyrah...


Dan keduanya semakin memadu rasa...


Hembusan napas pun mereka terdengar memburu, peluh peluh pun muncul, dan tubuh mereka bergetar, menandakan jika mereka sudah sampai mencapai puncak kenikmaataan.


"Terimakasih sayang... " Cloud mengecup kilas bibir Hana, lalu ia mendorong tubuhnya ke atas melepas penyaatuan merekan dengan gerakan perlahan.


Pria itu mengambil tempat di sisi Hana, dan di tariknya selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


"Apakah, umm... Itu terasa sangat sakit Hana?" tanya Cloud ketakutan. Takut kekasihnya di dera rasa sakit di bagian inti tubuh karena pergerakan Cloud tadi.


Hei... Ini pertama untuk mereka...


Hana menyatukan tanganya di tangan Cloud, saling menggenggam. "Hanya sedikit Cloud." Jawab Hana. "Kau melakukannya dengan sangat baik, aku menyukainya."


Pujinya membuat Cloud tersenyum lega. Ia membawa tangan Hana ke atas bibirnya, lalu ia mengecup punggung tangan dari kekasihnya itu.


"Beristirahatlah Hana, " perintah Cloud, seraya membelai wajah Hana.


Gadis itu tersenyum, mendapatkan perlakuan Cloud untuknya. "Kau juga Cloud. " Hana membenamkan wajahnya di atas dadaa Cloud, lalu memejamkan matanya.


Keesokan paginya...


"Hey, kau sudah bangun rupanya. " Cloud merengkuh pinggang Hana agar mendekat, satu tangannya bergerak memegang spatula, membalikkan omellete di atas wajan.


"Aroma masakan mu yang membuat ku bangun, Cloud. Dan membuat cacing di dalam perutku meronta-ronta." Hana membuka penutup panci, dan menghidu aroma sup krim dari sana. "Aromanya sangat lezat. "


"Tapi tidak selezat dirimu, Hana." Kekeh Cloud membuat Hana mendelikkan matanya. Ia bersemu, mengingat lagi moment yang mendebarkan bersama kekasihnya.


"Kau ingin mencicipinya?" Hana mengangguk. Cloud mengeluarkan sendok dari dalam laci kemudian, lalu ia menyendok sup itu, lantas meniupnya. "Bukalah mulutmu!. "


Hana membuka mulutnya, dan mencicipi rasa sup krim buatan kekasihnya itu. "Bagaimana rasanya?"


Hana mengacungkan ibu jarinya. "Delicious," Hana melengkungkan senyuman. "Aku semakin iri dengan kemampuanmu Cloud. Kau begitu cekatan mengerjakan pekerjaan rumah, dan memasak."


Cloud hanya tersenyum menanggapi ucapan Hana. "Aku terbiasa melakukannya Hana. Sebaiknya kau duduk."


"No, aku akan membantu mu menyiapkan semua. Dimana mangkuknya?"


"Ada di sana." Cloud menunjukkan jari telunjuknya ke arah lemari di bagian atas. Hana berjinjit, menggapai handel pintu lemari.


"Haiss.. Tidak sampai," keluh Hana yang terdengar oleh Cloud.


Cloud melihat Hana, lalu berpindah ke belakang kekasihnya itu. Memegang pinggang Hana, dan mengangkat tubuhnya. "Heh... Cloud."


"Ambillah sayang. " Hana mengambil dua mangkuk, dan dipengangnya erat. Cloud pun menuruninya, lalu membalikkan tubuhnya.


Cloud menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja, mengurung Hana. "Berikan sesuatu yang manis untukku, sebagai hadiah. " Cloud mengangkat sedikit kedua alisnya.


Hana mendekati Cloud, dan mencium bibir prianya penuh kasih. "Sudah... "


"Kurang.. " rengek Cloud seperti anak kecil yang meminta mainan.


Hana menepuk dadaa bidang Cloud. "Itu tidak-- hummp." Kalimatnya terputus ketika Cloud membungkam bibirnya dan yeah Hana menikmati lagi.. dan lagi...


Hana menutup mata, meletakkan tangannya di belakang tengkuk leher Cloud dan membalas.


Berkata bibir mereka perlahan, lambat laun menuntut.


Cloud menyeesap bibir yang memabukkan itu, merasai rasa mint dan lemon dari mulut kekasihnya. Pengangannya pun berpindah, ia merengkuh pinggang Hana, memperdalam ciuumanya.


"Cloud," panggil Hana di sela ciumaan mereka.


"Hmm, " Cloud bergumam, dan kembali ia menciuumi Hana.


"Cloud, masakanmu hangus!" Cloud melepaskan pangutaanya. Dilihatnya, omellete nya berubah warna menjadi sedikit pekat. "Astaga, " pekiknya seraya mematikan kompornya.


Hana menutup mulutnya, melepaskan tawanya.


"Aku akan membuatnya lagi.. "


"Tidak perlu Cloud, " sarga Hana memegang tangan Cloud. "Ini masih bisa di makan."


"Tapi Hana,"


"Aku akan tetap memakannya, Cloud." Ucapan Hana membuat Cloud tersenyum. "Ayo, sebaiknya kita makan Cloud, aku sudah sangat lapar."