
Maafkan baru sempat update lagi, baru dapat pangsit semalam tadi. Semoga feelnya dapat, dan jangan lupa like komentarnya. Terimakasih 🥰
Cloud menyandar punggungnya di dinding masih menggenggam minumannya. "Aku dengar Ace mengantar tuan ke Mexico. Apa dia sudah kembali? "
" Dia akan kembali lusa bersama tuan, " jawab Frank yang baru saja ikut bergabung. Cloud mengambil satu botol wine, dan memberikannya kepada pria itu. "Ada apa kau menanyakannya?"
" Aku ingin belajar menembak lagi. "
Alasan Cloud hanya ingin memastikan keberadaan pria itu. Setidaknya ia aman untuk masuk ke dalam mansion, dan menjalani misinya untuk kembali ke ruang bawah tanah, ia sangat yakin jika ada seseorang di dalam sana.
"Aku juga bisa mengajarimu, jika kau mau. " Tawar Frank yang memang mempunyai skill menembak dengan baik, tidak kalah hebat dengan Ace. Bukan hanya Frank, Benz dan anggota lain bisa menggunakan senjata itu.
"Oke, bagaimana jika besok malam kau mulai mengajariku Frank."
"Kau memutuskan secara sepihak bung!!" Frank mengepalkan satu tangannya, meninju bisep Cloud. "Sore... Malam aku tidak bisa. Aku..."
"Kau ingin bercintaa lagi dipos?" tanya Benz memotong kalimat Frank. Ia begitu kesal melihat rekannya membawa wanita yang berbeda-beda. Wanita yang diundang Frank kerap menggunakan pakaian seksih, hal itu membuat ia teringat akan mantan istrinya yang suka berpenampilan seksih, dan menghianatinya.
"Kau tidak perlu bertanya lagi Benz, kau sudah tau kebiasaanku. " Ya kebiasaan buruk pria itu, yang suka gonta-ganti pasangan. Nasibnya tidak berbeda dengan Benz, Frank pun di khianati kekasihnya membuat ia menjadi pria brengseek seperti sekarang ini.
"Berengsek!" makinya membuat Frank tergelak. Benz berdecak kesal. "Semoga kau tidak terkena penyakit AIDS sobat. "
"Kau menyumpahi ku!" tuduh Frank yang beranggapan jika ucapan Benz menyumpahinya, padahal tidak seperti itu.
"Aku mendoakan mu, syialan!! agar penyakit itu tidak menyerangmu. "
"Hentikan perdebatan kalian!" Cloud menengahi keduanya, ia melempar pandang ke arah keduanya secara bergantian. "Ck, kalian sangat berisik. " Lanjutnya seraya memejamkan mata. Berpura-pura tertidur.
Setengah jam berikutnya, Cloud sedikit membuka matanya, ia mengintip ke arah Benz, dan Frank. Sepertinya obatnya sudah bekerja. Gumam dalam hatinya.
Cloud menyempurnakan penglihatannya, ia bergegas bangun. Memastikan lagi jika Benz, dan Frank sudah terlelap sebelum ia melangkah masuk ke dalam mansion, membuka, dan menutup pintu perlahan.
Kondisi di dalam mansion temaram hanya beberapa lampu yang di nyalakan. Cloud melangkah sangat pelan, tidak meninggalkan suara. Ia merapat ke dinding, sedikit membungkuk ketika pijakannya mendekati ruangan tengah. Ia mengingat ada kamera CCTV yang terpasang di samping lampu tempel.
Suara derap langkah terdengar, Cloud memberhentikan langkahnya.
" Baik Ace, besok kami akan mengirimnya lagi. "
Cloud mengintip dari balik dinding, memantau sosok pria yang sedang menerima panggilan.
"Aku akan memeriksa di kamarmu. " Pria itu pun menaiki anak tangga. Dirasanya sudah aman, Cloud melanjutkan lagi langkahnya. Ruangan yang biasa digunakan untuk membuat kapsul berisi charlie nampak sepi. Hanya ada enam anggota duduk membentuk lingkaran, mereka sedang berjudi.
Cloud menyelinap ke belakang tumpukan duss berisi charlie yang tersusun siap untuk dikirim ke Mexico. Ia merangkak untuk melewati ruangan besar yang berada di tengah mansion.
"Siapa disana?? " tanya salah satu dari mereka. Lalu pria itu bangun, dan mendekati sumber suara tersebut.
"Sepertinya suara tadi dari atas, " ucap anggota lain membuat pria itu mengurungkan niatnya, dan kembali duduk, melanjutkan permainan mereka.
Cloud bernapas lega, ia berdiri. Kembali ia melangkahkan kakinya mengendap-endap.
Akhirnya ia bisa selamat melintasi ruangan yang terhubungkan dengan lorong menuju ruang bawah tanah. Beruntung tidak ada pencahayaan di sepanjang lorong. Cloud menepikan tubuhnya ke dinding kanan, ia meraba untuk memperlancar langkahnya menuju ruang bawah tanah.
Kini Cloud sudah berada di depan pintu besi. Ia membuka rantai yang hanya di lilitkan di pegangan pintu, kemudian didorongnya pintu itu. Begitu pintu terbuka, aroma busuk terhidu, namun tidak membuatnya membatalkan niatnya.
Cloud mengeluarkan senter kecil dari saku celana, dan menghidupkannya. Ia membuang napasnya tercekat. Dengan penuh kewaspadaan, ia melanjutkan langkahnya, menuruni setiap anak tangga. Semakin ke dalam, aroma busuk pun semakin tercium, menganggu pernapasannya.
Suasana di dalam ruang itu cukup mencekam. Cloud tidak mendengar lagi suara rintihan, namun ia tetap melangkah, mengedarkan pandangan menggunakan pencahayaan dari senter yang berada di genggaman.
Tepat di anak tangga terakhir, Cloud melihat tiga ruangan kecil berjajar seperti sel tahanan. Cloud semakin menegang. Ia menyoroti pencahayaan ke ruangan pertama, terdapat banyak suntikan, dan plastik kecil yang tercecer di lantai berdebu itu. Dan Cloud melihat adanya pisau kecil tergeletak disana yang terdapat noda darah.
Darah dari Damian, pria malang itu berakhir tragis karena ketergantungannya kepada charlie. Ia mengiiris pergelangan tangannya, dari pisau kecil yang Ace sengaja berikan dua hari sebelum Damian meninggal.
Mereka sangat biadaab sekali. Bahkan mereka mengurung orang disini.
Cloud melanjutkan langkahnya, sel kedua tidak ada bedanya dengan sel pertama. Ia melihat adanya tali tambang yang terjulur kebawah dari langit-langit, dan ada sebuah kursi yang tergeletak dibawah persis tambang tersebut. Cloud mengarahkan senternya, memperhatikan dinding lembab yang terdapat tulisan yang di goreskan menggunakan daraah.
"Kiill me. Ya Tuhan, " lirih Cloud, maniknya berkaca-kaca. Selain menjebak, mereka juga menyiksa, dan membunuh seseorang. Ini tidak bisa dibiarkan.
Srakk... Srakk... Srakk..
Cloud membulatkan matanya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah benar ada seseorang disana? tanya dalam hati seraya melangkah menuju sel terakhir, dan ia mematung saat didapati ada seseorang yang tertidur meringkuk di sana. Tubuh pria itu terlihat ringkih dan menggigil. Cloud semakin mendekati sel, menyoroti tubuh sosok itu. Ia mengamati wajah yang sedikit terlihat dan memperhatikan menyeluruh dari pakaian usang yang dikenakan pria itu. Kemeja navy bermotif salur putih.
" Selamat ulang tahun ayah," Cloud remaja memeluk tubuh ayahnya. "Ini hadiah untukmu, bukalah."
"Terimakasih, nak." Justin membuka hadiah yang diberikan putranya, sebuah kemeja berwarna navy bermotif salur.
"Apa ayah menyukainya? "
"Tentu nak, ayah sangat menyukainya. Bagaimana kau bisa membelikan ini untuk ayah?"
"Ini dari hasil Tabunganku ayah."
"Ayah.... "