Reckless

Reckless
PERSIAPAN SEBELUM MISI



"Sial, Chalk tidak bisa dihubungi, "amuk Aisley melempar ponselnya ke jok samping kemudi. Pria itu mempercepat laju kendaraannya menuju kantor Alston.


Hingga akhirnya, mobil yang dikemudikan Aisley berbelok, berhenti di slot parkir di depan gedung berlantai tujuh bertuliskan Diamond. Ia pun keluar dari kendaraannya, bergegas untuk menemui salah satu tokoh pendiri kartel.


"Apakah Alston berada di dalam? " tanyanya setelah ia sampai di lantai lima dimana ruangan Alston berada, kepada seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan milik sahabatnya.


"Ada tuan. Tapi mohon maaf, tuan Alston sedang menerima tamu tuan. "


"Aku ingin bertemu dengannya sekarang, " paksanya, ia sudah terdesak dan harus menceritakan berita yang dibicarakan di kantor kepolisian.


"Tapi tuan, " ucapannya tidak dihiraukan Aisley. Aisley melewati seketaris itu. Ia menekan handle ke bawah, dan mendorong pintu tanpa ketukan. "Alston, " panggil Aisley saat Alston sedang berbincang dengan rekan bisnisnya.


Tepat pintu terbuka, Alston memutus ucapannya, kemudian ia memiringkan tubuhnya melihat kehadiran Aisley di ruangannya. Tidak sopan, keluh dalam hatinya. Ia tidak menyukai sikap Aisley barusan.


Pria yang menjabat kepala Kepolisian itu berdiri di ambang pintu, lalu masuk.


"Maaf tuan... Tuan Aisley memaksa untuk masuk dan ingin bertemu dengan anda. " Susul Renata, sekretarisnya merasa bersalah karena tidak bisa menahan Aisley untuk masuk ke dalam ruangan atasannya.


"Tidak apa Renata, kau kembalilah bekerja. " Renata mengangguk.


"Ah ya, Renata, " panggilnya, membuat seketarisnya berbalik.


"Ya tuan," singkat wanita berambut pendek itu.


"Tolong, buatkan kopi untuk tuan Aisley. "


"Baik tuan, " Renata pun keluar, dan menutup pintu.


Alston masih menatap Aisley. "Duduklah Aisley, dan tunggulah sebentar." Aisley pun duduk, memenuhi perintah Alston. Dari keberadaannya ia melihat ke arah Alston, dan sedikit mendengar apa yang di bicarakan kedua pria disana. Aisley bersikap acuh. Ia bersandar di sofa, mulai merasa jenuh dengan fikirannya bercabang.


Selang waktu lima belas menit, akhirnya perbincangan dua pembisnis itu selesai. Alston mengantar rekan bisnisnya ke luar ruangan terlebih dahulu, sebelum ia bergabung dengan Aisley.


"Kedatangan kau nyaris saja membuat Giorgio membatalkan kerja samanya." keluh Alston seraya mendaratkan bokongnya di sofa.


"Sorry Alston, " ucapnya datar.


"Ada berita apa yang membuat kau datang kesini? tidak biasanya kau mencariku. "


Aisley pun menegakkan punggunganya kembali, lalu ia menghela napas. " Dalam waktu dekat, agen DEA akan sidak ke lapas tahanan. Leon. "


"Hmm, " Alston bergumam. Menaggapi berita tersebut dengan biasa. Ia sudah menduga keterlibatan Aisley dalam bisnis charlie akan menjadi masalah kedepannya. Ia sempat memperingati Chalk setelah Aisley bergabung dengan mereka, dan dugaannya sekarang terbukti. Pria itu bisa menjadi boomerang.


Sikap tenang yang ditunjukkan Alston membuat Aisley kesal. "Kenapa kau hanya bergumam, dan terlihat santai? "


"Kau berisik sekali Aisley!" bentak Alston. "Bersikaplah tenang. Aku sedang memikirkan caranya."


Pria memiliki bola mata berwana pekat terlihat berpikir.


Jika, agen DEA benar-benar sidak ke lapas keadaan Aisley tidak aman, begitu juga dengannya, dan Chalk. Bukti keterlibatan Aisley dalam bisnis charlie, bisa saja terbongkar, dan memungkinkan Aisley akan membuka identitas mereka. Maka dari itu ia harus merencanakan sesuatu sebelum hal itu terjadi.


Ide pun melintas dibenak Alston. Dalam berbisnis bukannya mengorbankan sesuatu, hal yang sudah biasa. Alston tersenyum penuh maksud.


"Kenapa kau tersenyum? kau sudah mendapatkan solusinya?" tanya Aisley yang mulai sedikit tenang begitu ia melihat senyuman Alston.


"Tentu Aisley, aku sudah mendapatkan solusinya. Kau tidak perlu khawatir. " Seolah-olah memberi ketenangan, padahal ia merancanakan hal buruk untuk pria itu.


***


Sedangkan di markas DEA, anggota team yang di tunjuk Richard untuk misi penyelamatan Cloud berjumlahkan dua belas orang sedang mempersiapkan diri sebelum menjalankan misi yang mereka lakukan sebentar lagi. Mereka sudah menggunakan seragam berwarna hitam yang sudah di lapisi baju anti peluru.


"Persiapkan semua, jangan sampai ada yang tertinggal. " Perintah sang ketua seraya memperhatikan anak buahnya satu-persatu yang masih bersiap.


"Baik sir, " jawab anggota team serempak.


Masing-masing anggota membawa senjata yang mereka sematkan di pinggang, dan membawa peralatan yang sekiranya di butuhkan.


"Aldric, " panggilnya beralih pada pria yang menjadi orang kepercayaan untuk memimpin misi ini. "Bagaimana kau sudah siap?" tanyanya seraya melangkah menuju Aldric yang sedang memasang arloji pelacak di pergelangan tangan.


Pria itu pun menoleh. "Sudah sir, " jawabnya tegas penuh kesiapan membuat Richard tersenyum, dan menepuk pelan punggung pria itu. "Lakukan semaksimal mungkin, aku mempercayaimu."


Aldric mengangguk. "Apa itu merupakan kode jika anda memberi restu untukku mendekati putrimu, sir?" senyuman khas Aldric terbingkai di wajah tampannya.


"Putriku masih berusia sembilan belas tahun, kau sadarlah! usiamu sudah tidak lagi muda, bung. Jadi, simpan impianmu itu."


"Meskipun usiaku tak muda, setidaknya barang privaci ku masih berfungsi dengan sangat baik, sir. Aku bisa memberikan cucu untukmu yang sangat manis seperti putrimu."


Richard mendengkus kasar. "Tutup mulutmu Aldric!!" amuknya membuat Aldric terkekeh. Ia hanya menggoda. Tapi faktanya ia benar-benar menyukai putri dari atasannya. Arabella nama gadis itu.


"Sebaiknya kau fokus pada misimu." Tegas Richard membungkam bibir Aldric.


Ya..Ya.. Kembali ke misi.


Richard mendekati Abigail yang masih meninjau lokasi keberadaan Cloud, diikuti Aldric yang sudah siap.


"Bagaimana Abigail?" tanya Richard memandang laptop Abigail yang masih menyala.


"Jarak pusat kota Virginia ke lokasi Old Wood House memakan waktu tiga jam lamanya, sir. " Abigail mulai menjelaskan rute menuju lokasi keberadaan Cloud. Anggota lainnya ikut bergabung memperhatikan penjelasan Abigail.


"Aku tidak meragukan kemampuanmu Abigail. Jadilah menantu ku." Kelakar pria berusia 55 tahun itu diiringi gelak tawa anggota DEA lainnya.


"Sudah-sudah, saatnya kita berangkat sekarang. Jangan lupa pasang earphone kalian untuk saling menghubungi." Ucap Aldric berdiri di antara rekannya. Hatinya memanas.


Setelah berpamitan, kaki panjangnya melangkah keluar gedung berlantai lima itu menyusul rekannya yang sudah berjalan terlebih dahulu. Tepat di loby, mendadak dia terdiam menatap sosok gadis yang sempat ia bicarakan tadi. Gadis itu membawa dua lunch bag. "Bella...."


Gadis itu membalas tatapan manik legam milik Aldric. "Ini untukmu, paman."


Paman?? gumamnya tidak rela disebut paman oleh sang pujaan hati.


Aldric mengambil alih lunch bag dari tangan ramping Arabella. " Terimakasih Bella," pria itu tersenyum kikuk.


"Bersemangatlah menjalankan misi, setelahnya tolong hubungi aku."


Gadis itu tertunduk tersipu seraya membawa kakinya, tanpa mendengar dulu jawaban Aldric. Pria itu memantung di tempat. Bella memintaku untuk menghubunginya.


Oh astagaa.... Yes.... Aku bisa mewujudkan impianku ayah mertua..


Aldric tersenyum lalu ia melanjutkan langkahnya penuh semangat. Apakah semangatnya akan membawa keberutungan dalam misinya, membawa harapan semua agar Cloud dan Justin bisa selamat. Jawabannya.... Hanya otor yang tau. 🤪😏