
Bagaimana keadaan ibu, Ella?" Roland meletakkan cangkir berisi kopi panas diatas meja sembari duduk, ia pun bergerak mundur menyadarkan bahunya di sofa.
"Jauh lebih baik Rolando. Tadi, ibu menanyakanmu." jawab wanita diseberang sana. Adik Roland. "Kapan kau akan pulang ke Boston?"
"Aku belum tau Ella, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Tolong sampaikan kepada ibu, aku akan pulang begitu pekerjaanku sudah selesai." Jelasnya membuat sang adik mengerti.
Suara bel berdenting berulang kali memberhentikan obrolan kakak beradik itu. " Ada yang berkunjung ke apartemen ku, Ella. Aku akan menghubungimu kembali."
"Baiklah, Roland."
Roland memutuskan sambungannya terlebih dahulu. Ia bangkit, pun berjalan menuju arah pintu yang berlawan arah dengan letak kamarnya. Roland menarik handle pintu unitnya, dan ia pun terdiam tidak percaya melihat sosok yang berada di depannya.
"Mariana?!" suara barinton khasnya membuka suara. Mariana yang berdiri tertunduk, mengangkat wajahnya. Iris berwarna hijau itu terlihatnm sayu, dan sedikit memerah. Bahkan di bawah matanya, terdapat lengkungan berwarna sedikit gelap dari warna kulit putihnya.
Melihat Mariana dalam kondisi ketidakberdayaan, membuat Roland berkeinginan membawa wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Memeluk erat, dan mengatakan semua akan baik- baik saja setelah ini. Namun kenyataan, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bisakah kita berbicara, Roland?"
Roland membuka pintu apartemennya dengan lebar. Ia pun bergeser memberi ruang untuk Mariana masuk ke dalam unitnya. "Masuklah Mariana, kita bicara di dalam."
Mariana mengangguk, ia pun menyeret kakinya masuk ke dalam unit Roland untuk pertama kalinya. Ia terdiam sejenak, menyapu ruangan yang di dominasi warna putih itu.
"Duduklah Mariana," suara Roland membuatnya ia kembali melangkah gontai, dan menempati salah satu sofa disana. "Aku akan membuatkan mu teh."
"Tidak perlu Roland," sargahnya tanpa menoleh ke arah pria itu. Kedua matanya berpusat pada layar televisi yang menyala.
Kembali Roland menduduki sofanya yang ia duduki tadi. Menatap Mariana dari samping, ia menunggu wanita itu membuka suaranya lagi.
"Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu, Roland?" Akhirnya suara lembut Mariana terdengar, setelah keheningan sempat hadir di antara mereka.
"Apa itu, Mariana?" tanya Roland, dalam perasaan gelisah. Pertanyaan Mariana mungkin serius, dan berkaitan dengan atasannya.
"Apakah kau mengetahui jika Chalk mempunyai seorang putri?" Mariana memalingkan wajahnya, membalas tatapan Roland yang sejak tadi memperhatikannya.
"Putri?" reflek Roland berbalik tanya untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah. Chalk memiliki putri??
Mariana menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskan dengan kasar. Di ambilah foto Jessy dan juga surat hasil DNA gadis itu dari dalam tasnya. Mariana mewujudkan harapan nyonya Maria, akan membantu wanita itu mendapatkan keadilan untuk mendiang putrinya atas pelecehan yang dilakukan Chalk, dan Mariana juga berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan hak kepada Jessy yang seharusnya gadis kecil itu dapatkan oleh suaminya selaku ayah biologis yang lahir dari perbuatan yang dilakukan Chalk.
Mariana memikirkan cara untuk menjalankan semuanya, dan ia enggan melaporkan kasus tersebut langsung ke pihak berwajib atas keterlibatan Aisley , sebagai pelaku ke dua yang melecehkan Eilaria sehingga membuat gadis malang itu depresi dan mengakhiri hidupnya. Mariana bukan hanya melawan suaminya saja, tetapi juga seseorang yang menjabat sebagai kepala kepolisian. Mariana sadar, bukan hal yang mudah menegakkan keadilan untuk Eilaria, ia membutuhkan orang-orang yang mendukung dirinya. Tentu, semua harus diawali dengan mencari bukti yang sangat kuat.
Roland mengambil alih foto gadis kecil tersebut dari tangan Mariana, dan memerhatikannya. "Lihatlah, dia sangat mirip dengan Chalk, bukan?" tanya Mariana, lirih. Kesedihan Mariana kali ini bukan hanya karena perasaanya yang terluka karena Chalk, tapi nasib gadis kecil itu.
Roland menatap foto Jessy dengan seksama. Pria itu terdiam karena rasa keterkejutannya.
"Kenapa kau hanya diam? kau tidak mengetahui apa yang dilakukan pria itu kepada Eilaria?"
"Benarkah demikan?? kau tidak berusaha menutupi kegilaan atasanmu itu lagi kan?" tuduh Mariana beralasan. Mengingat, jika Roland mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh Chalk, dan pria blasteran Spanyol itu seolah menutup mata.
"Aku bersumpah, aku tidak mengetahuinya." Ujarnya berusaha meyakinkan Mariana. Dari pertanyaan yang dilayangkan Mariana, Roland menangkap jika Mariana tidak sepenuhnya percaya dengannya, setelah kasus perselingkuhan Chalk terungkapkan.
Mariana pun tertawa ringkih, menertawakan hidupnya. Ia sudah muak, dan merasa lelah dengan kehidupannya. "Katakan kepadaku Roland, apa ada rahasia Chalk lagi yang tidak aku ketahui??" lantang Mariana bersuara, namun maniknya bergetar dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.
Roland terdiam seribu bahasa. Tidak memungkinkan untuknya saat ini menceritakan siapa Chalk sebenarnya. Mariana akan bertambah hancur setelah mengetahui jika Chalk merupakan ketua kartel.
Mariana mengerjap, lalu air mata yang menggenang pun mengalir melalui sudut matanya. Roland tidak menanggapi pertanyaannya, namun diamnya pria itu membuat Mariana semakin direlung kegelisahan, instingnya mengenai Chalk semakin kuat. Mariana harus mencari tau lagi siapa pria sebenarnya yang menikahinya.
Wanita itu tertunduk, tubuhnya yang terlihat kurus pun bergetar bersamaan isak tangisannya. Roland merasa mengiba, dengan segera Roland berpindah mendekati Mariana, kemudian ia memeluk wanita yang pernah mengisi kekosongan hatinya.
Tidak ada kalimat menyemangati. Hanya ada suara tangisan Mariana yang mengeluarkan rasa sakit di hatinya.
Roland semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Mariana. Tangannya yang melingkar di pinggang Mariana bergerak. Mengusap punggung wanita itu, memberikan ketenangan.
"Aku sama sekali tidak mengenal siapa Chalk sebenarnya. Aku merasa sangat bodoh Roland!" keluh Mariana ditengah-tengah derai tangisannya.
Roland mendorong tubuh Mariana perlahan, dan menatap wanita itu dengan lekat. "Berusahalah untuk tenang Mariana," ucap Roland seraya menggulirkan ibu jarinya mengusap air mata Mariana kemudian. "Dan yakinlah semua akan baik-baik saja."
Mariana dan Roland saling terdiam dengan saling mengunci tatapan mereka satu sama lain. Roland mengangkat dagu Mariana, lalu ia mencium bibirnya.
Wanita itu tersentak dengan debaran di daada terasa begitu cepat , darahnya pun berdesir deras. Mariana memejamkan matanya, ia menikmati kelembutan yang di berikan Roland diatas bibirnya.
Tidak-tidak, Ini tidak benar!!
Mariana kembali membuka matanya. Ia mendorong tubuh Roland sehingga tautan di bibir mereka terlepas. "Ini tidak benar Roland." Mariana menggelengkan kepalanya, seraya mengusap air matanya.
"Mariana.... " liriih Roland dengan napas terengah-engah.
"Aku harus pergi sekarang." Mariana mengembalikan foto Jessy, dan hasil DNA ke dalam tasnya kemudian. Lalu, ia pun bangkit dari duduknya.
"Kau ingin pergi kemana?"
"Aku ingin menyelesaikan semuanya Roland." Jelasnya. Tidak menunggu respon pria itu, Mariana menarik langkah kakinya untuk ke luar dari unit Roland.
Selamat tinggal Roland...
🤣 Napa cinta mereka rumit sekaleee.