Reckless

Reckless
MEMEGANG AMANAT



Dor.....


"Ayah...." Teriakan Cloud terdengar ketika peluru keluar dari pistol yang digenggaman Ace mengenai tubuh ayahnya.


Argggg... Cloud mengeram, masih berusaha meronta, membebaskan diri dengan sisa tenaganya.


Dor....Hingga terdengar lagi suara tembakan. Kali ini dari senjata yang berasal dari genggaman Aldric yang berdiri diambang pintu.


Benda timah meluncur, menebus punggung Ace. Ace masih berusaha berdiri. Terkantuk-kantuk, ia berusaha menopang tubuhnya pada kedua kakinya.


Namun... Kembali Aldric menekan pelatuk pada pistolnya. Dor... Tembakan berikutnya menyusul menembus belakang kepala Ace membuat pertahanan kakinya melemah, tubuhnya langsung meluruh dan pria itu terjatuh.


"Angkat tangan kalian!! " teriak Aldric membawa kakinya semakin dalam seraya mengarahkan senjata ke arah Jay, dan Louis bergantian disusul anggota DEA lainnya berjumlah enam orang masuk ke dalam ruangan. Sisa dari mereka berjaga di luar. Louis mengangkat tangannya, menyerahkan diri. Berbeda dengan Jay yang nampak tenang masih duduk diatas punggung Cloud.


Cloud melihat kehadiran Aldric di sana, meminta bantuan. "Tolong ayahku, sir. " lirih Cloud sudah tidak berdaya, wajahnya memucat dengan kedua maniknya berkaca-kaca. Ia ketakutan, jika ayahnya tidak bisa diselamatkan.


Aldric pun beralih, ia melebarkan langkahnya mendatangi Justin yang tergeletak bersimbah darah. Meletakkan senjatanya di lantai kini segera ia meraih tangan Justin, dan memeriksa nadi pria itu.


Bersamaan itu, Jay mengeluarkan pistol dari balik bajunya. Ia menempelkan ujung pistol di sisi kening Cloud. Jay menengadahkan wajahnya, pria itu memandang satu-satu anggota DEA yang mendekatinya dengan tatapan tajam, penuh permusuhan. "Jangan coba-coba kalian mendekat. Jika tidak, pemuda ini aku akan tembak." Ancam Jay, menggunakan Cloud untuk menyelamatkan dirinya.


Empat anggota DEA yang ingin mendekati Jay, memberhentikan langkah kakinya penuh kewaspadaan.


Tanpa sepengetahuan, Abigail melompat masuk dari jendela yang terletak di dapur, pria itu berjalan mengendap-endap. "Letakan pistol mu, sebelum kepalamu pecah, brengsek!!" pekik Abigail lantang yang sudah berdiri dibelakang dengan pistol berpusat pada bagian belakang kepala Jay. Pria gagah itu siap untuk menekan pelatuk dari senjatanya.


Jay membulatkan matanya, tersirat kemarahan dari dalam maniknya. "Siial..." Jay tidak bisa berbuat apa-apa, ia sudah terkepung. Diturunkan senjatanya kemudian. Lalu Abigail langsung menarik tangan Jay kebelakang, dengan segera ia memborgol kedua tangan pria itu, dan menarik tubuh Jay.


Jay, dan Louis diringkus, dan dibawa keluar dari rumah tua itu.


Mata coklatnya mengkristal. Air mata menggenang begitu banyak. "Ayah? " panggil Cloud pelan. ******* napas keluar dari mulutnya dengan ketakutan. Bibir pucaatnya yang penuh darah pun bergetar.


Cloud mengangkat tubuh ayahnya. "Ayah bangunlah." Pinta Cloud dengan lirih. Ia melihat luka tembak dari pakaian yang digunakan ayahnya penuh dengan darah. Cloud mengedip, dan air matanya mengalir dari sana.


"Ayah.... Please, bangunlah. " Cloud mencoba membangunkan ayahnya lagi dengan menguncang tubuh ayahnya. "Ayah, " bibir Cloud bergetar, tangisannya pun tidak terbendung lagi.


"Kenapa ayah hanya diam?" Cloud mengerjap, membuang nafasnya yang tercekat. "Kita baru saja bertemu sebentar, lalu kenapa ayah meninggalkanku lagi? apakah ayah tidak merindukan ibu, dan tidak berkeinginan untuk kembali bersama?" lirih Cloud berhasil membuat anggota DEA yang tersisa di sana tertunduk turut merasakan yang dirasakan Cloud.


Tidak ada jawaban, atau respon dari pria yang ia kagumi selama ini. Cloud menggelengkan kepalanya masih belum sepenuh percaya jika ayahnya sudah tiada.


"Sir, tolong bangunkan ayahku. " Permintaan Cloud putus asa. Aldric hanya bergeming menatap Cloud, nanar kemudian ia tertunduk. "Maaf... " ucapnya merasa bersalah karena terlambat datang.


Kendaraan yang ditumpangi tidak bisa membawa mereka sampai ke dalam hutan. Aldric bersama anggota lainnya berjalan kaki menuju lokasi keberadaan Cloud, dan perjalanan yang ditempuh mereka memakan waktu yang lama.


Cloud masih mencoba membangunkan ayahnya, ia menepuk pelan sisi wajah ayahnya yang dingin. Pria yang membesarkannya hanya terdiam, napasnya pun tidak terdengar.


Sungguh air matanya menetes deras membanjiri wajahnya, bibirnya semakin bergetar. "Ayah..... " lirih Cloud pilu. Dipeluknya tubuh dingin ayahnya yang tidak bernyawa.


Aldric menarik napas dalam dengan tatapan penuh rasa sesal. Untuk mendekati Cloud, rasanya tidak enak karena ia tidak bisa menepati janjinya. Lalu, Pria itu berdiri, berjalan ke sembarang arah dengan langkah gontai.


Cloud semakin membungkuk, hingga ujung hidungnya menyentuh wajah ayahnya. Cloud menutup mata, air matanya kembali menetes. "Maafkan aku ayah... Maafkan aku tidak bisa melindungi mu."


Bahunya gemetar. Ditatap lagi wajah ayahnya dengan tetesan air matanya tidak berhenti mengalir, jatuh mengenai wajah Ayahnya. Cloud semakin mengeratkan tangan memeluk tubuh ayahnya.


"Aku akan memegang amanat mu ayah. Kau tenanglah di sana, aku akan selalu menjaga ibu."