
"Tidak, aku akan makan.. " Hana menjawab cepat. "Tapi dari tanganmu Cloud. "
Cloud menerjap sebentar, setelahnya ia tersenyum samar. "Kau mau aku menyuapimu?"
"Of course, kau akan melakukannya bukan?" Hana membuka paper bag, dan mengeluarkan beberapa kotak yang berisi menu makan siang yang ia buat tadi.
"Baiklah dengan senang hati aku akan melakukannya, dan kau harus makan yang banyak. " ucap Cloud. Ia tidak bisa menolak kemauan Hana.
Hana melototkan ke dua matanya. Ucapan Cloud seolah memintanya untuk menggagalkan dietnya. "Aku akan makan secukupnya, dan kau yang akan menghabiskannya." Hana menolak dan ia juga menuntut.
"Itu tidak adil. Kau mau jika perutku membuncit, hmm? "
"Kau selalu pandai menjawab Cloud." Cloud pun hanya terkekeh menanggapi jawaban Hana.
Hana mengeluarkan ikat rambut dari tas, berencana mengikat rambutnya yang tergerai. "Biar aku yang melakukannya." Cloud tiba-tiba merebut ikat rambut berwarna coklat milik Hana.
"Kau bisa melakukannya?"
"Sttt, jangan bertanya. Tentu, aku bisa melakukannya."
Hana tersenyum lembut. Dirasakannya jemari Cloud mulai bergerak membelai rambutnya perlahan. Hana menikmati sentuhan dari jemari kekasihnya itu.
"Rambutmu sangat wangi Hana," tutur Cloud. Sesekali ia menghirup lavender dari rambut bergelombang milik Hana yang berada di genggamannya.
"Kau menyukainya?"
Cloud berdeham pelan. "Ehmm, yaa Hana. Sangat. " Pria itu melanjutkan kegiatannya mengikat rambut Hana.
"Sudah selesai." Cloud menatap leher jenjang Hana. Perlahan wajahnya mendekat, dan melingkarkan tangannya dipinggang Hana, untuk meluk kekasihnya dari belakang.
"Cloud, " bisik Hana parau, saat ia merasakan napas dan bibir Cloud menyapu lehernya. Jantungnya tersentak berkali-kali, dengan napas semakin memburu membuatnya tidak nyaman, namun ia menyukai sentuhan di area lehernya.
Adegan seperti ini kerap Hana lihat di film-film. Dalam film tersebut, sang pria memberikan kecupan dan menimbulkan ruam merah di leher pasangannya. Apa namanya? Kissmarrk. Ya, Hana penasaran bagaimana ruam merah itu muncul setelahnya. Sempat-sempatnya dia memikirkan adegan film, dalam keadaan, situasi, keromantisan yang cloud sengaja ciptakan.
Hingga satu gigitan mengenai lehernya, membuat Hana membeliak dan tersentak. "Cloud, kau menggitku??" tanya Hana, membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Cloud.
Cloud tersedak air liurnya, dan pun ia tergelak.
"Kenapa kau tertawa Cloud?? Kau tau ini sedikit nyeri. Apa yang barusan kau lakukan, hah?? Jangan katakan kau jelmaan vampir yang siap menyantap darah perawan!!"
Cloud semakin terbahak-bahak. Oh astaga!! Cloud tidak bisa berhenti untuk tertawa padahal Hana sudah memberikan peringatan dari sorot matanya yang menajam.
"Tapi vampir tidak muncul di siang hari." Ucap Hana berbisik kemudian.
"Phff... " Cloud berusaha nahan tawanya. Kenapa kekasihnya begitu polos.
"Katakan, apa yang kau lakukan barusan??"
"Memberikan tanda cinta." Cloud menjawab dengan cepat, lalu ia tersenyum.
"Jadi ini yang disebut dengan kissmarrk??" tanya Hana lagi. Cloud mengangguk.
"Kenapa di film-film, wanita terlihat begitu menikmati? Padahal ini terasa sedikit nyeri."
Cloud tidak bisa menjawab tanggapan polos kekasihnya. Tepatnya, menjelaskan prihal tentang kissmarrk. Cloud lagi-lagi hanya bisa tersenyum.
"Aha, aku tau? Pasti kau melakukannya tidak benar?" Cloud bungkam, menahan tawanya. "Lain kali lakukan dengan benar Cloud."
"Tidak sekarang!! Oh, astaga bagaimana jika Mom melihatnya, dan bertanya. Aku harus jawab apa??"
"Kau tinggal menjawab ada jelmaan vampir tampan yang menghisap lehermu," gurau Cloud.
"Sempat-sempatnya kau bergurau Cloud! mendadak, aku jadi lapar. Sebaiknya kita makan."
Hana membuka kotak bekal satu persatu, Cloud pun membantunya. "Spageti, omelette, sandwich. " Cloud menyebut satu persatu menu masakan yang dibuat Hana. "Kau yang membuat ini semua?"
"Iya, apakah kau meragukan kemampuanku?"
"Tidak Hana," elak Cloud seraya mengambil garpu yang berada ditangan Hana. Cloud mencicipi pasta terlebih dahulu.
"Bagaimana rasanya? apa rasanya aneh?" tanya Hana. Ia sedikit ragu dengan masakan yang ia buat. Tiba-tiba kepercayaan diri yang dibangun sebelum berangkat ke rumah Cloud, runtuh dalam sekejap.
Cloud masih mengulum makanan, seraya menatap Hana yang menunggu jawabannya.
"Ini sangat lezat," Cloud tersenyum. "Apakah Momy mu yang mengajarkannya?"
"Tidak Cloud. Aku melihat resep di vidio yang aku lihat. Begitu aku menghapalnya, aku bergegas ke dapur dan membuat juru masak terkejut dengan keberadaanku disana. Terlebih saat aku bilang ingin memasak. Lalu, salah satu dari mereka meminta ku duduk manis, menunggu mereka yang membuat. Ck, mereka meremehkan kemampuan ku Cloud."
Cloud mengusap pelan rambut Hana. "Mereka bukan meremehkanmu sayang, mungkin saja mereka tidak ingin jika sampai kau terluka saat menggunakan pisau atau terkena benda panas."
"Nah, sekarang bukalah mulutmu," Cloud memasukkan spageti ke dalam mulut Hana.
🍂🍂🍂
Menit-menit pun berlalu. Setelah membersihkan wadah, mereka kembali duduk bersamaan. Kali ini keduanya memilih duduk di sofa. Cloud merebahkan kepalanya di atas pangkuan Hana.
"Kau terlihat sangat lelah Cloud," ucap Hana seraya membelai rambut Cloud."Apakah kau mengantuk?"
"Sedikit, " jawab Cloud. Manik coklatnya perlahan mulai menutup.
"Tidurlah!"
Setelah suara lembut Hana mengudara, kelopak mata Cloud menutup dengan sempurna.
"Ha-na, " panggil Cloud, membuat atensi Hana terfokuskan kearah Cloud. Cloud membuka matanya, hingga keduanya saling bertukar pandang.
"Ya, Cloud.. Ada apa??"
"Beberapa hari kedepan, aku akan disibukkan dengan pekerjaan. Tuan Barnes memindahkan ku di restoran yang terletak Kensington Avenue."
"Lalu.... "
Cloud meraih tangan Hana, dikecupi punggung tangannya, dan membawa tangan Hana ke atas dadaanya. "Komunikasi diantara kita pasti akan berkurang."
"Itu tidak akan menjadi masalah Cloud, tapi usahakan untuk menghubungi dan menemuiku."
Cloud menarik kedua sudut bibirya. Ia pun terbangun dengan masih menggenggam tangan Hana. "Tentu, kau tidak perlu khawatir. Aku akan tetap menghubungimu, dan menemuimu saat senggang." Katanya seraya meraih pinggang Hana.
Cloud tiba-tiba mengangkat tubuh Hana untuk duduk di pangkuannya. Hana membelalakan matanya, namun ia tidak sama sekali menolak ketika Cloud menarik lagi pinggangnya semakin mendekat.
Lalu, kira kira apa yang terjadi diantara mereka? 🙈🙈🙈