
Cloud duduk termenung. Suara bergetar Ayahnya ketika memberikan sebuah pesan untuknya tadi, terngiang di dalam fikirannya.
Pesan yang di utarakan ayahnya membuat hati Cloud berdenyut sakit. Cloud menarik napas, lalu menghembuskannya berkali-kali.
Apa rasa sakit itu mereda? tidak sama sekali. Justru lapisan cairan yang berada di matanya semakin menggenang, tumpah dalam kedipan pertama. Cloud membiarkan air mata terus menerus mengalir.
Dalam sunyi, Cloud marapatkan bibirnya supaya ayahnya tidak mendengar suara tangis, mewakili dirinya yang berada titik terendah dalam hidupnya.
Harapan demi harapan yang ia selalu lantunkan dalam doa, menginginkan ayahnya dan ibunya bertemu. Berkumpul kembali bersama, menjadi keluarga utuh yang saling melengkapi. Akankah harapan itu hanya sekedar harapan? sedangkan jalan menuju kebebasan dari jeratan para penjahat, harapannya sangat kecil.
Cloud memenjam matanya, ia tidak berhenti berharap keajaiban menghendaki dirinya.
Terdengar langkah kaki, dan tawa dari luar membuat Cloud membuka matanya. Ia tidak bisa melihat karena tidak ada cahaya di dalam rumah.
Ace bersama kedua anggota kartel sudah kembali setelah dua jam mereka keluar.
Krieet, pintu kayu yang telah usang terbuka. Pencahayaan dari lampu petromax yang digenggaman Ace membuat Cloud bisa melihat lagi kesuluruhan ruangan. Cloud beralih melihat Ayahnya lagi yang masih diposisi tadi, memegang perut menahan rasa lapar. Perasaannya sangat sedih menyaksikan ayahnya.
Ketiga anggota kartel tersenyum melihat ke arah mereka dari ambang pintu. Ace masuk terlebih dahulu, disusul anggota lainnya termaksuk Jay. Mereka berdua duduk dibawah, sedangkan Ace yang memiliki posisi tertinggi dari mereka menempati kursi.
Ace mengeluarkan beberapa kotak berisi makanan yang dibelinya tadi. Ia membagikan makanan tersebut kepada rekannya. "Mari kita makan. " Seruan Ace tidak berhati. Setelahnya manusia-manusia bedebah itu menikmati makan malam untuk mengisi perut mereka. Tidak memikirkan tawanan mereka.
Aroma daging asap, dan sup ayam yang lezat tercium membuat Cloud bertambah lapar, mungkin ayahnya juga merasakannya.
"Daging asap ini sangat lezat. " Kata Jay dengan sengaja, dibarengi gelak tawa Ace, dan Louis.
Lebih baik, Cloud menulikan pendengarannya. Ia memilih diam, dan memejamkan lagi kedua matanya dengan bersandar di dinding. Kedua kakinya ditekuk untuk menahan rasa laparnya yang semakin menyiksa.
"Hey bangun, " satu tendangan kasar mengenai kakinya, sontak Cloud membuka mata. "Ambilah, untukmu!!" Ace menggeser wadah ke arah Cloud menggunakan kakinya setelah ia menyelesaikan makan malamnya.
"Buka borgolnya Jay." Perintah Ace kemudian.
"Kau yakin memintaku membuka borgolnya? " Jay nampak bingung menatap Ace.
"Ya Jay. Saat ini aku sedang berbahagia, karena putriku berulang tahun." Kekehnya seraya menyalakan pemantik api, lalu membakar gulungan tembakau yang berada di antara dua ruas jarinya, kemudian menghisap tembakau itu.
Jay membuka borgol Cloud dengan paksa, lalu menyimpan benda tersebut di dalam saku celana.
Cloud bergeming melirik ke arah wadah itu sepintas. Makanan sisa. Ia merasa hina, dan enggan menerima pemberian Ace meski ia sangat lapar sekalipun. Dilihat lagi ayahnya, membuatnya harus membuang rasa sakit atas hinaan Ace. Ayahnya belum makan sejak dipindahkan.
"Ayah... Bangunlah, " bisik Cloud seraya mengusap rambut Ayahnya yang memutih.
Tidak ada jawaban sang ayah, Cloud mulai merasa khawatir. Diletakkan telapak tangan diatas kening ayahnya. "Ayah demam, ya Tuhan.. " gumam dalam fikirannya.
Cloud mengalihkan pandangannya, melihat ke arah anggota kartel. "Apakah kalian mempunyai air?"
Obrolan mereka terhenti, ketiganya berpaling untuk memandangi Cloud. "Kau sedang bertanya kepada kami?" Jay membuka suara, berbalik bertanya sambil meneguk wine dari dalam botol.
"Tentu bodoh! " kekeh Ace seiringan tanganya mengeplak kepala Jay.
Ace mengedikkan bahunya, mana perduli. "Kau membutuhkan air?" tanya Ace membuang putung rokok sembarang arah. "Kemarilah, aku akan memberikannya," perintahnya dengan tujuan tertentu.
Tanpa berfikir panjang, dan fokusnya hanya mendapatkan air untuk ayahnya, Cloud akhirnya bangun. Dengan segera ia mendekati Ace.
Ace tersenyum puas melihat wajah Cloud babak belur nampak frustasi. Pria itu memutar penutup dari botol, lalu dituangnya air tersebut ke lantai di depan Cloud. "Astaga, maaf aku tidak sengaja menumpahkannya. " Ace membuang botol terbuat plastik itu. Ia pun tergelak.
"Kau benar-benar brengsek Ace!" pekik Louis.
Cloud tak melepaskan sorot matanya menatap Ace yang sedang menertawainya. Tangan Cloud mengepal sangat kuat, hingga buku-bukunya memutih.
Sungguh tatapan Cloud menyiratkan kebencian, dan sakit hati sangat mendalam.
"Ayahku sedang demam, brengsek. Kenapa kau membuang airnya? " mata coklatnya berkaca-kaca. Rahangnya pun mengetat dengan giginya merapat.
"Oo.. Oo.. Kau marah padaku?? " Ace berdiri, keduanya tanganya terulur, meraih kerah Cloud, kemudian mencengkramnya. " Harusnya kau berterimakasih kepadaku bung, karena aku sudah berbaik hati memberimu makan dengan gratis! Apakah seperti ini caramu membalas kebaikan orang lain? hah!!" cengkramannya di kerah jaket Cloud semakin kuat, tubuh Cloud yang lemas membusung ke depan.
"Brengsek! cih..." umpatnya, menggertak giginya. Didorong kuat tubuh Cloud hingga terjatuh.
Cloud mencoba bangun. Ace yang tidak ada kata puasnya diraih lagi tepian jaket Cloud. "Inilah hukuman untukmu!"
Brugh... Satu tinju dari Ace mengenai sisi kiri wajah Cloud.
Suara dentuman keras dari tubuh Cloud yang terjatuh, dan suara Ace yang tinggi, membuat Justin terbangun. Ia meerabai lantai, mencoba bangun.
"Hentikan Ace, jangan sakiti putraku. Aku mohon." permintaan dengan suara yang terdengar bergetar tidak membuat Ace tersentuh, justru sebaliknya. Ia semakin gila ingin menghaajar Cloud.
" Permohonanmu, membuatku bersemangat ingin menghajar putramu Justin. "
"Jangan...Jangan kau lakukan lagi, " rintihnya masih berusaha bangun.
Ace menarik jaket Cloud hingga tubuh Cloud terangkat. Dilayangkan lagi tinjunya ke wajah Cloud. Kali ini mengenai bibirnya. Cloud lagi-lagi terjatuh.
Gelak tawa mereka mendominasi, menertawakan Cloud yang berkali-kali terjatuh. Cloud mengeram. Ia mengatur napasnya, menahan diri agar tidak membalas apa yang Ace lakukan. Demi keselamatan ayahnya.
"Kenapa kau diam? kau tidak ingin membalasku?" Cloud hanya bergeming untuk tidak terpancing. "Ck , ayo bung bangkitlah, dan balas perbuatanku." Ace menggerakkan kakinya, menendang tubuh Cloud. Cloud masih pada pendiriannya.
"Bangun!!" brugh, Ace lagi- lagi meneendang tubuh Cloud.
"Berhentilah Ace!! jangan siksa putraku. " Ace menatap ke arah Justin, seringai pun terbentuk di tepian bibirnya. Pria itu menoleh ke arah Justin.
Seolah mengerti maksud dari senyuman itu, Cloud menggelengkan kepalanya. Ia melihat Ace melangkah mendekati ayahnya.
"Kau ayah yang sangat baik, tapi sayangnya kau tidak bisa melindungi putramu. Katakan apa yang harus aku lakukan agar aku berhenti menghajar putramu?"
"Mus nakaanlah aku Ace! "