
Part ini mengandung umpan, tapi masih aman 🤣. Like and jangan lupa kasih koment biar aku semangat. Thank You 😘
...****************...
Mariana memandang pantulan dirinya dicermin dengan tatapan matanya yang kosong. Ia duduk termenung, dengan harap semua hanyalah sebuah mimpi yang akan berlalu ketika ia menutup mata. Namun, cairan bening yang meluncur di pipinya terasa hangat dan begitu nyata.
Isak tangis memecah keheningan didalam kamar terdengar nelangsa. Hatinya terluka seperti ada ratusan pedang mengoyak-ngoyak dirinya. Sulit untuk menerima kenyataan yang dihadapi kini, Mariana memukul dadaanya yang terasa sesak.
"Ya Tuhan," lirihnya. Dalam hati menjerit kesedihan. Tubuhnya terasa lemas. Ia memilih untuk menundukkan kepalanya, dan membiarkan air matanya menetes dari maniknya dengan kedua tanganya terkepal disisi tubuhnya.
Mariana larut dalam kesendirian, dan kesedihannya. Bayangan kebersamaan Chalk memenuhi pikiran. Kebahagiaan yang ia dapati selama ini berakhir dengan luka. Suaminya tidak menepati janjinya saat 25 tahun yang lalu dia ucapkan didepan Tuhan dan para saksi, untuk setia dalam suka maupun duka.
Mariana menyeka air mata "Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak boleh seperti ini," lalu ia pun bangkit dari duduknya, dan mengarahkan kakinya ke arah kamar mandi.
"Sweety.... " Chalk masuk ke dalam kamar yang nampak kosong, dan menutup pintu. Terdengar gemercik air dari dalam kamar mandi, ia tersenyum seraya membuka jas hitamnya serta dasi dan meletakkan kedua benda tersebut diatas sofa. Chalk menyusul Mariana.
"Kau sedang mandi rupanya."
"Chalk," Mariana tersenyum canggung. Wanita itu menegakkan punggungannya diantara busa yang menutupi sebagian tubuhnya.
Chalk melangkah menuju bathup, seraya membuka tiap kancing kemejanya. "Bolehkan aku ikut bergabung?"
Mariana terdiam, ia sedikit memajukan tubuhnya membiarkan Chalk mengambil posisi di belakang punggungnya. Pria itu melepaskan yang melekat pada tubuhnya yang masih bugar, dan membawa dirinya untuk masuk ke dalam bathup.
"Sudah lama kita tidak mandi bersama, sweety. Aku sangat merindukan moment seperti ini."
Chalk mengusap punggung Mariana dengan gerakan perlahan. Ia membawa tangannya ke depan, menyentuh perut Mariana dan menarik kebelakang hingga tubuh mereka bersentuhan.
Chalk terus bergerak menyentuh bagian sensitif tubuh istrinya. Hingga membuat Mariana mengerjap, merasakan atmosfer panas membakar keseluruh tubuhnya. Dan sialnya, ia tidak bisa menolak apa yang Chalk lakukan. Tubuhnya merespon, jantungnya bertalu-talu dengan tempo yang sangat cepat. Mariana terbuai..
"Chalk," deesaahanya, saat Chalk memainkan ligual menyapu lehernya dan merasakan jemari Chalk bergerak diatas puuncaknya.
"Terus sebut namaku sweety..." bisiknya parau, menggoda Mariana yang sudah benar-benar terbakar gayrah. Mariana pun memejamkan kedua matanya.
Biar saya saja yang membuatkan kopi untuk Tuan, Nyonya.
Mariana tersentak. Ia membuka kembali matanya dan melihat bayangan Amora datang tersenyum sinis seolah meledeknya. Wanita siaalan. Umpat dalam hatinya.
Mariana membalikan tubuhnya tiba-tiba. Menyerang bibiir Chalk, dan melahap dengan rakus. Seolah melupakan segala emosi di tengah gayrahnya yang sudah menggebu-gebu. Matanya terpejam, cairan bening pun bergulir dari sudut matanya.
Chalk membalas pangutan istrinya tidak kalah buaasnya. Dicengkram erat tengkuk leher Mariana, dan ia melesatkan linggualnya ke dalam mulut Mariana. Hingga suara cecapan, desahaan memenuhi ruangan. Air di dalam bathup bergelombang, mengikuti pergerakan mereka yang cepat. Sepasang suami istri itu meluapkan hassrat yang sudah mengendalikan mereka, sampailah mereka ke puncak dan menuntaskan semua.
"Bagaimana jika aku memakai dress ini?" Mariana mengeluarkan maxi dress berwarna hitam dari dalam lemarinya.
Chalk nampak berfikir. "Dress itu sangat cocok untukmu sweety" Ucap Chalk seraya mengeringkan rambutnya yang basah. Pria itu duduk di sofa yang terletak di walk in closet.
"Really??" tanya Mariana memastikan lagi.
"Yeah," Chalk meletakkan handuk diatas sofa, ia berjalan mendekati Mariana masih menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah dari tubuhnya.
"Aku bisa membantumu," Chalk menarik tali badrobe yang menutupi tubuh Mariana, hingga terbuka.
"Chalk, aku bisa memakainya sendiri." Tolak Mariana. Ia segera melepaskan badrobenya, dan memakai dress yang dipilihnya tadi.
Tentunya, Chalk tidak tinggal diam, ia menyoroti tubuh Mariana yang terdapat ruam merah bekas gigitannya.
Mariana masih memakai dressnya. Chalk pun mendekat, ia mengusap pungung Mariana yang masih terbuka. "Permainanmu tadi luar biasa sweety, aku sangat menyukainya." Chalk mengecup bahu Mariana yang sedikit terbuka, jemarinya bergerak menarik zipper, hingga punggung polos Mariana tertutup.
"Kenapa kau terdiam, hmm? "
"Tidak apa-apa, Chalk." Mariana memutar tubuhnya menghadap suaminya. "Sungguh kau menyukainya?" Mariana mengalungkan kedua tangannya di leher Chalk.
"Ya, sangat. " kekehnya.
"Baiklah, setelah jamuan makan malam.. Bagaimana jika kita melakukannya lagi?"
"Tentu sweety, aku akan menyambut keliaranmu nanti."
"Tunggulah... Aku akan benar-benar menyiksamu." Mariana mengecup kilas bibir Chalk kemudian. Keduanya pun tersenyum.
"Aku akan mengambil pakaianmu." Mariana membuka pintu lemari gantung milik Chalk "Kau ingin memakai jas berwarna apa?"
"Hitam, senada dengan dressmu." Mariana tersenyum. Ia mengambil apa saja yang dibutuhkan suaminya. Tidak sengaja manik hijaunya melihat kotak bludru berwarna biru tua. Mariana mengambil, dan membuka kotak tersebut yang terdapat sebuah kalung berlian di dalamnya.
Ponsel milik Chalk berdering, membuat Mariana menoleh, dan ia melihat Chalk keluar dari walk in Closet. Sesegera Mariana beranjak, guna menyusul Chalk untuk mengetahui siapa yang menghubungi suaminya itu.
"Ada apa kau menghubungiku?" bisik Chalk, begitu ia mengangkat ponselnya.
"Aku merindukanmu, sayang." Rengek seorang wanita yang masih tinggal di mansionnya.
Chalk berdeham, seraya melirik ke arah walk in closet "Kau aturlah sebaik mungkin."
"Apakah wanita itu sedang mengintaimu?" tanya Amora.
"Ya, baiklah... Sampai bertemu lagi." Chalk memutuskan sambungannya secara sepihak. Ia membalikan tubuhnya, dan Mariana sudah berada tidak jauh dari posisinya.
Chalk tersenyum, dan meletakkan ponselnya diatas tempat tidurnya. "Siapa yang menghubungimu, Chalk?" tanya Mariana. Ia memakaikan kemeja putih ditubuh Chalk.
"Roland, sweety." jawab Chalk. Mariana pun mengangguk, jemarinya bergerak memasangkan kancing kemeja suaminya. Mariana bersikap seperti biasanya.
"Aku mempunyai hadiah untukmu."
"Hadiah apa?" Mariana mengusap dadaa bidang Chalk, seraya menatap lekat suaminya.
"Aku akan segera mengambilnya. Kau tunggulah." Chalk mengambil celana dari tangan Mariana, dan memakainya sebelum ia kembali ke walk in closed.
"Ini untukmu," Chalk memberikan sebuah kotak bludru yang Mariana lihat tadi. Wanita itu sudah duduk di depan meja rias. "Chalk..."
Chalk membuka kotak itu, dan mengeluarkan kalung berlian dari dalam. "Bagaimana kau menyukainya."
Mariana mengangguk cepat. "Ini sangat indah..." pujinya.
"Aku yang akan memakaikan untukmu." Chalk berpindah posisi, di belakang Mariana. Ia memasangkan kalung berlian itu dileher istrinya.
Sangat romantis... Apa sikap manismu saat ini hanya tipuanmu Chalk??
Mariana memandang Chalk dari cerminnya. Pria itu tersenyum. "Kalung berlian ini sangat pantas dipakai olehmu sweety."
"Thank you, Honey." Mariana tersenyum samar sembari memegang kalungnya.
"Ada satu lagi hadiah untukmu." Chalk mengeluarkan 2 lembar tiket dari saku jasnya, dan langsung memberikan kepada Mariana.
"New Zealand..."
"Akhir bulan kita rayakan anniversary disana."