
Mariana berdiri memandang pekatnya malam dibalik jendela yang terbuka. Buliran air hujan pun turun, menetes perlahan. Angin beribut dengan kencang, bahkan sesekali dentuman petir mengeras. Cuaca diluar sana seolah mewakili perasaanya. Sedih, pilu dan hampa meski di balik pintu kamar mandi ada suaminya.
Kemana kebahagiaan yang didapati terdahulu?? bagaimana ia mendapatkannya lagi, jika ada sebuah penghianatan? Mariana sempat bertekad untuk memperhatahankan hubungannya meski rasa sakit masih melingkupi dirinya. Ia masih berusaha merebut apa yang ia miliki, dan akan mempertahankan. Namun, kalimat Cloud dihotel tadi, membuat Mariana terusik, jiwanya seolah terombang-ambing. Benarkah yang di katakan pemuda itu?? kalau memang iya, kejutan macam apa ini. Mariana harus memastikan lagi sesuatu yang harus ia ketahui. Hal ini yang akan menjadi pilihan untuknya tetap bertahan dengan Chalk atau meninggalkan pria itu.
"Kenapa kau berada di depan jendela, dengan pintu terbuka. Kau tidak merasa kedinginan?hmm." Mariana tersentak, saat Chalk tiba-tiba memeluknya dari belakang lalu mendaratkan kecupan di bahunya.
"Tidak Chalk, tidak sama sekali." Jawab Mariana dengan nada suara yang dingin. Ia masih menatap lurus kedepan, dan membiarkan tangan Chalk mengelus tubuhnya yang terbalut gaun tidur berbahan sutra.
Chalk menyeringai tipis, jemarinya bergerak naik turun membelai tubuh depan Mariana. "Kau tidak melupakan janji mu, bukan?" Chalk mengukit janji Mariana yang akan melayaninya malam ini. Ia ingin menikmati sisi keliaran istrinya di atas ranjang. Selama ini, ia kerap yang menjadi dominan. Apakah Mariana akan seliaar Amora, wanita yang pandai menghangatkannya. Sempat-sempatnya ia membandingkan istrinya dengan kekasihnya.
"Tidak Chalk," Mariana tersenyum pilu. "Aku tidak akan melupakan kewajibanku sebagai istrimu." Tegas Mariana, segaja ia menyindir Chalk. Lantas, apa pria itu menyadari ucapan menohok Mariana untuk dirinya, jawabannya tidak sama sekali. Yang di pikirkan hanya cara kerja istrinya nanti, keganasan yang dijanjikan Mariana untuknya.
"Bagaimana jika sekarang kau melakukannya," bisik Chalk di telinga Mariana, seraya memainkan jemarinya di titik sensitif istrinya. "Aku benar-benar tidak tahan sweety." Chalk menggigit daun telinga Mariana, sehingga suara desaahan meluncur dari bibir tipis istrinya.
Mariana pun membalikan tubuhnya, ia tidak bisa menolak permintaan Chalk. Chalk adalah suaminya. Seperti ucapannya tadi, seorang istri harus melakukan kewajibannya termaksud melayani suaminya diatas ranjang. Wanita itu menyeringai tipis, dengan menyipitkan maniknya. Menggoda Chalk. "Kau benar-benar siap, hah!" Mariana membelai pelan setiap lekukkan pada tubuh polos Chalk. Ia mengecup leher Chalk, meninggalkan ruam merah disana.
Chalk mengeram."Tentu sweety," desaahnya. Maniknya mengerjap, merasakan jemari Mariana membelai perutnya.
Terdengar suara pintu kamarnya terbuka, sontak membuat Mariana memberhentikan pergerakannya. Ia menoleh ke arah pintu, dan muncul seorang wanita berpakaian seksi berwarna merah itu masuk tanpa permisi. Amora.
Amora menarik satu sudut bibirnya yang berwarna merah juga, berjalan mendekati Chalk. Suara hentakan helsnya membuat Chalk menoleh ke arahnya.
Mariana tertegun, melihat suaminya tersenyum pada wanita jaalang itu. Berani-beraninya dia. Seketika maniknya membeliak saat Chalk meraih tubuh Amora, dan menciuum wanita itu dengan beringas. Bahkan Chalk tidak malu bercumbuu di hadapan Mariana yang hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa berhenti sweety," bisiknya membangunkan alam bawah sadar Mariana.
Mariana tidak merespon ucapan Chalk, justru ia menoleh kanan dan kiri mencari keberadaan Amora. "Hei kau sedang mencari apa??" tanya Chalk.
"Ti-tidak Chalk!" gugup Mariana selaras memeluk leher Chalk. Ia kembali tersenyum, mengalihkan dengan mencium bibir suaminya. Chalk awalnya terdiam ingin mengetahui seberapa pandai istrinya kali ini, hingga linggual Mariana masuk ke dalam mulutnya berhasil membawa tangan Chalk meraih pinggang Mariana dan membalas panguutan dari bibir Mariana.
Malam semakin larut, namun hujan masih menetes tidak berniat berhenti begitu juga dengan sepasang suami istri yang berada di atas ranjang. Mariana benar-benar menepati janjinya. Ia bertingkah seperti jaalang, tentu untuk memenuhi keinginan suaminya.
Chalk sangat menikmati pemandangan yang berada diatas tubuhnya. Kali ini Mariana tampak berbeda dari biasanya, Chalk memuji keliaraan Mariana kali ini tanpa mengetahui bagaimana perasaan istrinya.
Apakah semua akan baik-baik saja, setelahnya??
Mariana merebahkan tubuhnya disamping Chalk, setelah pergelutan yang memakan waktu yang lama. Chalk menyeringai, mengusap peluh di wajah Mariana. "Kau sangat hebat sweety." Mariana tersenyum samar.
Benarkah yang diucapkan Chalk barusan??
"Beristirahatlah, sweety! bukannya esok kau akan ke yayasan."
"Astaga, aku benar-benar lupa. Sebaiknya kau juga tidur Chalk." Chalk membawa tubuh Mariana ke dalam dekapannya, dan mengusap rambut panjang Mariana untuk menghantarkan Mariana ke alam mimpi.
Terdengar hembusan napas Mariana mulai teratur. Chalk meyakini bahwa istrinya sudah terlelap dalam mimpi. Ia mengangkat tangan Mariana perlahan dari pinggangnya, dan merapikan selimut yang menutupi tubuuh polos istrinya itu lalu beranjak turun.
Chalk menuju walk in closet, dan keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap. Ia ingin memenuhi permintaan Amora yang mungkin sudah menunggunya di perpustakaan yang terletak di lantai dasar terhubung langsung ke mansionnya.
"Sayaangg!" Chalk mengedarkan pandangannya mencari Amora di ruangan yang tamaram, hanya ada cahaya lampu taman yang menyelinap dari celah pentilasi. Chalk sengaja tidak menyalakan sakral lampu, agar tidak ada yang mengetahui keberadaanya disana.
Hingga kedua tangan mulus meraba dadaanya dari belakang, membuat Chalk tersenyum lebar. "Apakah kau sudah menunggu lama, disini?"
"Tentu... Aku menunggumu dengan sangat gelisah, tuan." desaah wanita itu membangunkan geloraa Chalk.
Chalk dengan segera membalikan tubuhnya, sehingga keduanya bersitatap dengan pandangan saling menggoda. "Benarkah??"
"Yeah, aku sangat merindukanmu, dan merindukan sentuhanmu tentunya." Amora meletakkan kedua tangannya di sisi wajah Chalk, dan mencium bibirnya.
Suara petir menggelegar, membangunkan Mariana. Ia menoleh ke kiri, tidak didapati suaminya bersamanya. Kemana perginya Chalk. Gumam Mariana , ia meraih dan memakai gaun tidurnya, lalu ia pun berdiri, melangkah menuju kamar mandi.
"Chalk apakah kau didalam?" Tidak ada sautan Chalk dari dalam menciptakan kegundahan Mariana. Apakah Chalk menemui wanita jaalang itu?
Mariana terburu-buru memakai jubahnya untuk mencari Chalk diluar.
Ia menarik Handle pintu, bertepatan pintu terbuka Chalk sudah berdiri di depannya. "Kau ingin kemana, sweety?"
"Harusnya aku yang bertanya kepadamu Chalk. Kau darimana?"
"Perpustakaan. Aku tidak bisa tidur maka dari itu aku mengambil buku, berniat untuk membaca. " jawab Chalk seraya menunjukkan sebuah buku yang sengaja ia bawa tadi. Mariana terdiam, menelisik wajah datar suaminya itu.
"Um, mau sampai kapan kau akan berdiri, sweety? kau tidak mengizinkan suami mu ini masuk."
Mariana berbalik untuk kembali ke tempat tidurnya. dan tersentak ketika Chalk mengangkat tubuhnya. "Chalk, turunkan aku."
Chalk tidak perduli, ia membawa Mariana ke ranjang, dan mengungkung tubuh istrinya. "Bolehkan aku menikmati mu lagi??
Dasar kadal, biawak, buaya, cecak 🙄🙄 kurang aja dia 😒😒😒