
"Izinkan aku untuk memiliki mu seutuhnya, Alana. " Bisik Ayden, suaranya terdengar berat dan parau.
Masih menatap pria yang masih berada diatasnya. Alana mengerjap, bibirnya terasa kelu. "Ayden, aku.. " Belum selesai ia melengkapi kalimatnya, Ayden mencyumbu bibirnya lagi. Sangat lembut, dan penuh kehati-hatian.
Ayden pun memberi sedikit jarak, dan menatap wajah Alana lagi. "Kau belum bisa menjawab pertanyaanku? hum?" tanya Ayden seraya membawa tanganya ke bawah. Menggoda gadis itu, ia menjamah leher Alana, lalu menyelusuri garis vertikal yang mengintip diantara kerah jubah berbahan satin silk, dan tanganya berhenti di pinggang ramping Alana. Sekali tarikan, pengikat yang terpasang yang salin terhubung terlepas.
Deg....
Detak jantungnya berhenti sesaat. Alana mengarahkan maniknya kebawah, ia mendapati Ayden tengah menatapi tubuhnya. Manik legam itu merayap ke atas hingga kembali wajah mereka saling bertemu.
Tatapan Ayden semakin sayu, memohon, dan Alana mengakui, ia sudah jatuh pada pesona seorang Ayden Pastone.
"Bagaimana Alana?" tanya Ayden lagi, diiringi desaahan yang mengusik ketenangan Alana. Bahkan, tubuh langsing gadis itu memberikan respon positif, bergelora menggetarkan.Alana ingin menolak, namun sialnya dewi batinnya menjerit-menjerit menginginkan Ayden memilikinya.
Dengan nalurinya, Alana memegang dua sisi wajah Ayden untuk pertama kalinya. Ia membelai rahang pria itu, kedua tangannya merasai janggut kasar yang tertata di garis tegas wajah Ayden.
Alana membasahi tenggorokan yang terasa kering. Kemudian, ia pun mengangguk, seraya tersenyum malu memberi izin.
Napas lega Ayden keluar dari mulutnya, lantas Ia pun turut tersenyum. "Aku sangat mencintaimu, Alana." Bisiknya yang diakhiri dengan penyatuan bibiir mereka.
Keduanya nampak larut dalam ciyuman. Pertemuan biibir mereka saling berbalas, saling mencicipi, saling menggoda dengan linggual mereka bergumuul di dalam mulut mereka. Silih berganti, mereka mengambil napas, terengah-engah. Namun keduanya masih menikmati percikan api yang tersulut memberi rasa panas di sekujur tubuh mereka.
Desyahaan Alana lolos, begitu Ayden menyudahi ciyuman mereka terlebih dahulu. Bibirnya kembali terkubur di ceruk Alana, ia menghirup vanila yang tercampur dengan harum tubuh Alana. Ia benar-benar betah disana.
Alana merapatkan kedua matanya, wajahnya menengadah memberi jalan bibir Ayden untuk mencicipi anggota tubuhnya yang sensitif. Kedua tangannya berpindah keatas, mengalung indah, dan mencengkram belakang leher Ayden ketika gigitan-gigitan kecil syarat cinta menciptakan pola berwarna kemerahan. Alana mendeesau parau.."Aydeeennn, shh.. "
Ayden mendorong tubuhnya ke atas, memanjakan maniknya kini dengan tampilan wajah Alana merona alami. "Kau benar-benar cantik Alana," pujinya "Dan kau--- sangat menggoda."
Alana tersenyum, dengan matanya berkilau indah. "Apa itu sebuah rayuan? hmm. " Katanya seraya memainkan jemari lentiknya di atas tubuh kokoh Ayden, mengikuti ukiran yang terpahat rapi di daada keras pria itu.
"Tidak Alana... Aku mengatakan yang sejujurnya," raancau Ayden berusaha untuk mengendalikan diri dari sentuhan nakal jemari Alana di atas dadaanya.
Mendengar jawaban Ayden, Alana semakin melebarkan senyumannya. Ia merasa bahagia.
"Alana... " lirih Ayden, berbisik.
"Humm... "
"Bisakah kita, melanjutkannya? " Ayden mengulas senyuman tipis kemudian untuk membuang rasa canggungnya. Percayalah, detak jantungnya semakin menghentak keras dalam tempo semakin cepat.
Jawaban Alana seperti angin segar yang berhembus kencang di lahan gersang. Ayden melabuhkan bibirnya diatas bibir Alana, lalu tidak ada puasnya ditelusuri lagi leher Alana memberikan sentuhan memabukkan. Tidak ada yang terlewati sama sekali, semua terjamah oleh bibirnya.
Ayden mengangkat tubuh Alana. Kemudian tanganya membuka jubah bermodel kimono itu dan menghempaskan secara asal. Ia menegakkan tubuhnya, dengan satu kakinya betumpu di antara kedua kaki Alana.
Pria itu sempat-sempatnya terdiam, tatapannya membuat Alana di relung kegelisahan. Apa yang akan dilakukan pria itu setelah ini... Alana menunggu dengan sebuah penantian....
Ayden pun mengulurkan tangannya, membelai kaki jenjang Alana, dan mengangkat bagian terbawah dari dress tidurnya, menariknya sampai keatas dan Alana begitu saja mengangkat punggungnya, mempermudah pergerakan Ayden untuk melepas dressnya.
Dress yang menutupi keindahan tubuh Alana berhasil lolos. Ayden pun tertegun. Manik legamnya menelisik tuubuh poolos Alana yang berada di bawahnya menatap takjub penuh damba. Susah payah ia menelan salivanya. Tampilan Alana benar-benar memukau.
Di tatap Ayden seperti itu, Alana membuang wajahnya kesamping. Ia malu, ingin beranjak tapi sekedar untuk bangun dan beranjak Alana tidak mampu. Gelora sudah menyelimuti seluruh tubuhnya, menciptakan desiran dasyat dibawah sana.
Ayden mengambil ancang-ancang, di tumpukan lagi kedua tangannya di sisi tubuh Alana. "Kau membuatku benar-benar di mabuk kepayang Alana." Tuturnya seraya membelai satu keindahan dari tubuh Alana membuat gadis itu tersentak, dengan matanya melebar sempurna. Detik berikutnya, ia terpejam merasakan permainan jemari Ayden di titik pusatnya.
Bibirnya sedikit terbuka, membuat Ayden mengeram lalu kembali ia membungkam bibir Alana. Bibir yang sudah menjadi candunya.
Menit ke menit terus berjalan..... Ayden si pengendali paling pintar mendominasi Alana. Ia menjelajahi tubuuh Alana setiap inchinya. Membawa gadis itu bersamanya ke lembah kenikmaatan dunia, dan sanggup merbangkannya ke nirwana.
Suara resaah keduanya, memecahkan suasana. Alana meleengguh merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuhnya di jamaah dengan manja.
Alana menatap tubuh kekar Ayden yang sedang bergerak, maju mundur, mamasukinya dengan sebuah perjuangan. Gerakan terlatih, namum perlahan membuatnya nyaman disela rasa sakit di inti tubuhnya. Pria itu masih berusaha, hingga dirasanya inti tubuhnya penuh membuatnya mengerjap, lalu air matanya pun jatuh menelusuri pipinya.
"Maaf telah membuatmu kesakitan," ucap Ayden.
Alana menggelengkan kepalanya, ia pun tersenyum bersamaan jemari Ayden mengusap air matanya.
Dipandangi lagi wajah Ayden yang semakin menawan dengan peluh yang muncul di setiap pori-pori wajahnya. "Please Ayden selesaikan siksaan nikmat ini!"
Ayden mencium lagi bibir Alana. "Aku akan menuntaskannya.. Tapi berjanjilah kepadaku... Alana."
"Apa itu, Ayden?" tanya Alana, dengan kerutan halus yang muncul di keningnya.
"Berjanjilah untuk menjadikanku tempatmu bersandar, Alana. Kau mau??"
MAOOOOOOOOOO 🤣